https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   30 September 2021 - 12:47 wib

Ketika Nyali Soeharto Ciut Mendengar Nama Siti Hartinah

Hangout
berita-headline

Soeharto dan Ibu Tien (foto istimewa)

Hari ini, Kamis 30 September 2021 bertepatan dengan peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terjadi 56 tahun lalu. Dimana ketika itu enam orang jenderal dan seorang perwira TNI AD gugur atas kekejaman PKI.

Mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Mayjen R. Soeprapto, Lettu Pierre Tendean, Brigjen Sutoyo Siswodihardjo, dan Mayjen D.I. Pandjaitan yang dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Berbicara tentang PKI tak lepas dari nama Soeharto, mantan Presiden RI ke-2 yang terlibat dalam pemberantasan Gerakan 30 September PKI. Saat itu ia menjabat sebagai Panglima Kostrad langsung bergerak cepat memburu dan menangkap para tokoh PKI.

Karir Soeharto menanjak pesat setelah pemberantasan PKI yang dilakukan dan mengambil alih pimpinan Angkatan Darat hingga akhirnya menjadi Presiden RI. Selama menjadi orang nomor satu di Indonesia, Soeharto mendapat julukan The Smiling General.

Namun siapa sangka, Soeharto yang memiliki karakter tegas di masa kemiliterannya ternyata pernah gugup dan mengaku kikuk saat hendak dijodohkan dengan Raden Ayu Siti Hartinah, atau yang akrab disebut Ibu Tien setelah resmi menjadi sang istri.

Perjodohan
Tak banyak yang tahu kisah cinta keduanya berawal dari perjodohan. Ketika itu di Yogyakarta tahun 1947, Soeharto yang sudah berusia 27 tahun dan berpangkat letnan kolonel ditanya oleh pihak pamannya, Prawirowiardjo yang juga orang tua asuhnya.

"Harto, Sekalipun engkau bukan anakku sendiri, aku sudah mengasuhmu sejak ayahmu mempercayakan pada kami. Aku pikir sebaiknya segera mencarikan istri untukmu," kata ibu Prawiro, adik dari ayah Soeharto.

"Siapa pasangan saya? Saya tidak punya calon," tanya Soeharto ketika itu.

Ibu Prawiro pun tersenyum dan kembali bertanya, "Masih ingatkah kamu dengan Siti Hartinah? Waktu di Wonogiri".

Siti Hartinah adalah adik kelasnya yang dahulu sering mengolok-olok sepupunya dan Soeharto pun mengaku masih ingat. Seketika itu juga seorang Letkol Soeharto tiba-tiba ciut mendengar nama calon yang akan dijodohkan.

Diketahui, Ibu Tien berasal dari keluarga ningrat dari Keraton Mangkunegaran, Surakarta, putri dari pasangan RM Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmati Hatmohoedojo. Sedangkan Soeharto hanyalah berasal dari keluarga petani.

"Apa dia akan mau? Apa orang tuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran," jawabnya minder.

Namun Ibu Prawiro terus berusaha membesarkan hati Soeharto bahwa keadaan sekarang sudah berubah dan keluarga Prawiro juga sudah mengenal dekat dengan keluarga Soemoharjomo, ayah dari Ibu Tien.

Ditambah lagi, Siti Hartinah ketika itu sudah berkali-kali menolak lamaran pria yang meminangnya. Atas dasar itulah keluarga Prawiro merasa yakin lamarannya bisa diterima oleh keluarga Kandjeng Pangeran Harjo (KPH) Soemoharjomo.

Kedua keluarga pun sepakat menggelar upacara 'nontoni' yakni pertemuan antara calon pengantin pria dengan calon pengantin wanita. Untuk selanjutnya kedua belah pihak saling membicarakan pernikahan.

"Ini rupanya benar-benar jodoh saya," ucap Soeharto ketika itu.

Menikah
Pernikahan pun digelar pada 26 Desember 1947 di Solo dengan suasana kesederhanaan lantaran perang masih berkecamuk. Tiga hari usai pernikahan, Soeharto pun langsung memboyong Ibu Tien ke Yogyakarta untuk melanjutkan tugasnya sebagai anggota militer.

Selama menjalani hidup berumahtangga, Soeharto dan Hartinah selalu menjaga ketentraman rumah tangga dengan cinta dan pengertian. Ini terbukti hingga akhirnya maut memisahkan.

Ibu negara itu meninggal pada 1996 silam dan disusul oleh sang suami yang meninggal pada tahun 2008. Keduanya dimakamkan di Astana Giribangun, Jawa Tengah.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan