Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

Hantu Resesi Menakutkan bagi Nasabah Tajir

Rabu, 09 Nov 2022 - 13:07 WIB
Resesi Nasabah
(ilustrasi)

Ancaman resesi terus menggema. Tak tanggung-tanggung kekhawatiran resesi muncul dari presiden hingga para pembantunya. Alhasil, hantu resesi ini membuat orang kaya memilih cara aman menyimpan dananya di perbankan. Sinyal bahwa nasabah tajir bersiap menghadapi resesi global?

Gaung ancaman resesi ini membuat nasabah berkantong tebal buru-buru menyimpan dananya di brankas perbankan. Hal ini terlihat dari jumlah tabungan dengan nominal di atas Rp5 miliar tercatat meningkat sepanjang September 2022.

Menurut laporan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga kuartal III-2022, simpanan nasabah tajir dengan tingkat nominal di atas Rp5 miliar mencapai Rp4.017 triliun.

Jumlah ini naik 1,1 persen secara bulanan dan 9,6 persen secara tahunan. Capaian tersebut membuat jumlah simpanan nasabah tajir menjadi kontributor tertinggi dari semua jenis nominal tabungan dengan pangsa sebesar 52,1 persen dari total seluruh simpanan.

“Jumlah nominal simpanan terbesar terdapat pada tiering simpanan di atas Rp5 miliar yang mencakup 52,1 persen total simpanan. Kenaikan nominal simpanan terbesar terdapat pada tiering simpanan lebih dari Rp5 Miliar sebesar 1,1 persen MoM (month to month),” tulis laporan LPS yang dikutip Kamis (3/11/2022).

Hal ini berbeda dengan nasabah lain dengan nominal di bawahnya yang justru mengalami penurunan secara bulanan meskipun tidak terlalu signifikan. Simpanan dengan nominal Rp500 juta hingga Rp1 miliar, misalnya, mengalami penurunan tertinggi yakni 1 persen secara bulanan. Begitu pula dengan simpanan Rp200 juta hingga Rp500 juta yang juga terkontraksi 0,7 persen pada periode yang sama.

Sementara tabungan bernominal Rp1 miliar hingga Rp2 miliar dan Rp2 miliar hingga Rp5 miliar juga mencatatkan penurunan masing-masing sebesar 0,5 persen dan 0,1 persen secara bulanan. Tercatat hanya simpanan dengan tiering kurang atau sama dengan Rp100 juta yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,5 persen secara bulanan. Total jumlah tabungan di tingkat ini mencapai Rp975 triliun atau kontributor tertinggi kedua dengan pangsa 12,6 persen.

Baca juga
Bank Sentral di Posisi Sulit, Jinakkan Inflasi Tanpa Memicu Resesi

LPS mencatat total nominal simpanan di bank umum per September 2022 sebesar Rp7.708 triliun, meningkat 0,43 persen secara bulanan dan 6,7 persen secara tahunan. Adapun jumlah rekening mencapai 494,711 juta atau turun 0,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Apa kemungkinan penyebabnya?

Melihat fenomena ini para pemilik dana jumbo menyimpan dananya di perbankan nasional tentu memiliki tujuan tertentu. Mereka tampaknya mulai berhati-hati mendengar ancaman resesi yang disuarakan pejabat pemerintah dan pengamat. Apalagi isu resesi seperti sebuah teror yang muncul di berbagai pemberitaan maupun media sosial.

Pemilik rekening dengan dana besar pun rupanya sudah mempertimbangkan ancaman resesi ini. Mereka memilih mengendapkan dana miliknya di perbankan umum dan tidak jor-joran melakukan investasi selain simpanan di perbankan seperti deposito. Bertambahnya simpanan nasabah tajir juga bisa menjadi sinyal situasi saat ini belum kondusif, sehingga memutuskan untuk menyimpan uangnya di brankas perbankan.

Sementara sinyal lain dari fenomena ini adalah perusahaan yang juga termasuk nasabah dengan dana simpanan besar di perbankan, mulai mengurangi investasi atau pembelanjaan. Perusahaan sangat berhati-hati mengeluarkan dananya. Para pemilik perusahaan ini tak mau mengambil risiko jika resesi benar terjadi

Baca juga
Airlangga Jadi Capres Favorit Masyarakat untuk Perbaikan Ekonomi

Para pemilik dana besar tersebut, rata-rata menyimpan dananya di deposito dan produk-produk perbankan lain yang menawarkan suku bunga tinggi. Biasanya, para pemilik dana besar tersebut akan mempunyai hak tawar cukup tinggi terhadap perbankan, bila suku bunga yang ditawarkan tidak menarik, para pemilik dana bisa mengalihkan dananya.

Kondisi tersebut berbeda dengan nasabah pemilik dana lebih kecil. Nasabah kelompok ini biasanya menabung di tabungan biasa dan kurang memperdulikan posisi suku bunga. Bahkan seringkali nasabah kelompok ini mengambil dananya di perbankan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.

Langkah antisipasi resesi

Resesi seperti sebuah permainan menebak. Perekonomian secara alami bersifat siklus, dengan kenaikan dan penurunan. Kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi sebelumnya, dan terkadang bahkan tidak dapat mengetahui apa yang terjadi saat kita berada di tengah-tengahnya.

Mengutip pendapat Morgan Housel, penulis The Psychology of Money, kita pasti menuju resesi. Satu-satunya hal yang tidak pasti adalah waktu, lokasi, durasi, besaran, dan respons kebijakan.

Mengutip Cnet, ada beberapa langkah spesifik yang dapat Anda ambil untuk menciptakan stabilitas dan ketahanan keuangan yang lebih baik dalam ekonomi yang bergejolak. Salah satunya adalah menambah cadangan uang tunai Anda.

Kunci untuk menavigasi resesi yang relatif tanpa cedera adalah memiliki uang tunai di bank. Tingkat pengangguran 10 persen yang curam selama Resesi Hebat pada tahun 2009 mengajari kita hal ini. Mereka yang beruntung memiliki rekening darurat yang kuat dapat terus membayar biaya perumahan mereka dan mengulur waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya dengan lebih sedikit stres.

Baca juga
DPR Pede RUU EBET Dapat Kurangi Emisi Karbon 32 Persen

Jadi mengalokasikan lebih banyak dana ke tabungan sekarang untuk memperkuat cadangan ketika menghadapi resesi seperti yang terjadi saat ini di Indonesia sangat beralasan. Kalau perlu kurangi pengeluaran yang tidak perlu misalnya langganan bulan ataupun cicilan. Mintalah diskon, promosi atau keringanan cicilan maupun bunga jika memang terpaksa harus membeli atau meneruskan cicilannya.

Pikirkan kembali untuk membeli rumah meskipun harga rumah telah melemah di beberapa tempat. Jika Anda juga khawatir tentang keamanan pekerjaan dalam potensi resesi, maka itu menjadi alasan untuk menunda dulu pembelian properti. Menyewa juga dapat membuat Anda lebih likuid selama ekonomi yang berpotensi menantang.

Langkah lainnya menghadapi resesi adalah mencoba mencari untuk mendiversifikasi aliran pendapatan. Diversifikasi aliran pendapatan dapat mengurangi volatilitas pendapatan yang datang dengan kehilangan pekerjaan. Carilah pekerjaan sampingan yang mudah dan ringan yang mungkin bisa Anda lakukan dari rumah atau dilakukan sambil Anda bekerja.

Yang mesti diingat, resesi tidak hanya menjadi kekhawatiran para pemilik banyak uang tetapi juga bagi siapapun. Antisipasi menjadi penting agar kita lebih siap menghadapi tantangan keuangan yang lebih berat.

 

 

Tinggalkan Komentar