Harga CPO Dikendalikan Asing, Minyak Goreng di Dalam Negeri Tidak akan Murah

Harga CPO Dikendalikan Asing, Minyak Goreng di Dalam Negeri Tidak akan Murah - inilah.com

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai semakin mahalnya harga minyak goreng (migor), tidak perlu terjadi apabila Indonesia bertindak sebagai penentu harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

“Faktor utamanya karena acuan harga CPO bukan ditentukan oleh Indonesia, tetapi menggunakan acuan Malaysia. Akibatnya, harga CPO naik di pasar internasional. Alhasil, biaya produksi minyak goreng di dalam negeri ikut ikut naik,” papar Bhima kepada Inilah.com, Selasa (26/10/2021).

Analisa Bhima masuk akal juga. Pada 2020, ekspor minyak sawit Indonesia sebanyak 37,3 juta ton, dengan market share 55 persen. Jauh di atas Malaysia yang volume ekspornya mencapai 19,3 juta ton, market share global 30 persen.

Baca juga  Bahas Bisnis Minyak Sawit Berkelanjutan, Gapki Gelar Konferensi IPOC

Sedangkan luas lahan sawit di Indonesia, pada 2020, mencapai 16,38 juta hektare (ha). Tersebar di 26 provinsi. Produksinya lebih kurang 47,40 juta ton. Dari industri sawit menyerap sedikitnya 4,2 juta orang, dan tidak langsung 12 juta orang (hulu-hilir).

Agar harga migor tidak membuat jebol kantong emak-emak, Bhima mengusulkan agar pemerintah menerapkan beleid DMO (Domestic Market Obligation) untuk industri makanan minuman di dalam negeri. “Dengan begitu, harga migor bisa lebih stabil,” ungkapnya.  

Selain itu, kata dia, pemerintah bisa saja mengerek naik pajak penghasilan dari ekspor CPO. Sehingga, industri bisa lebih mengerem ekspor di tengah melambungnya harga CPO dunia. “Sekarang yang dikhawatirkan jika harga migor naik secara kontinu, maka konsumen di dalam negeri bisa tertekan daya beli-nya,” ungkapnya.

Baca juga  Alex Noerdin Kembali Jadi Tersangka, Kasusnya Korupsi Masjid Palembang

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), tingginya harga migor di pasaran, acapkali memicu tingginya inflasi. “Inflasi yang tinggi di bahan makanan bukan hal yang bisa dianggap remeh. Karena di saat bersamaan, harga BBM dan tarif listrik terancam naik akibat krisis energi,” ungkapnya.

Tinggalkan Komentar