Minggu, 29 Mei 2022
28 Syawal 1443

Harga CPO Melejit, Penghasilan Petani Sawit Lompat Rp12 Juta/Bulan

Harga CPO Melejit, Penghasilan Petani Sawit Lompat Rp12 Juta/Bulan
Harga CPO mahal membawa berhah untuk petani sawit.

Harga Tandan Buah Segar (TBS) melejit, berdampak kepada naiknya penghasilan petani sawit hingga Rp12 juta per bulan.

“Alhamdulillah, sebulan bisa Rp12 juta kalau mau ambil tiap hari. Di pengepul Tandan Buah Segar (TBS) harganya Rp2.800 per kg, sebelumnya hanya Rp2.400 per kg sampai Rp2.500 per kg,” ungkap Wisnu salah satu petani sawit di Desa Prangat Selatan, Kalimantan Timur, Sabtu (19/3/2022).

Wisnu mengatakan, apabila kelapa sawit hasil panen dibawa ke pabrik harganya akan lebih mahal, bisa mencapai Rp3.000 per kg lebih.

“Tapi bawanya pakai truk, ke Muara Badak yang paling dekat dari sini. Kalau dibawa ke Jonggon (Kutai Kartanegara) lebih mahal lagi,” jelasnya.

Baca juga
PLN dan Pertamina Tekor, Sri Mulyani Minta Penambahan APBN Rp443,6 Triliun

Wisnu mengaku, belum pernah menjual dengan harga Rp3.000 per kg, namun dalam sehari dirinya menghasilkan Rp400.000 dari luas lahan satu hektar setengah, dengan jumlah pohon seratus lebih miliknya.

“Rp400.000 itu kira-kira satu kuintal setengah. Kalau pakai motor dua kali bolak-balik jadi modal bensin Rp50.000,” tuturnya.

Dia menjelaskan, jarak dari rumah menuju kebun kelapa sawit miliknya sekitar 5 kilometer sehingga jika bolak-balik menjadi 10 kilometer.

“Dua kali narik jadi 20 kilometer dengan kondisi jalan rusak dengan motor yang harus dimodif,” terangnya.

Ia menambahkan, dulu sebelum TBS naik, harga kelapa sawit sempat hanya sekitar di harga Rp500-Rp700 per kg.

Baca juga
Tak Perlu Impor BBM, 2 Juta Mobil Listrik dan 13 Motor Listrik Mengaspal di 2030

“Pada waktu itu orang belum berminat ke kelapa sawit. Disuruh ngambil aja nggak ada yang mau,” tutupnya.

Sementara itu, penyadap karet yang juga tinggal di Prangat Selatan Kalimantoro menambahkan, hasil kelapa sawit lebih menguntungkan ketimbang karet.

“Memang karet lebih tinggi Rp10.000 per kg tapi susah nyari sekilo. Satu hektare paling 10 kilo Rp100.000, sebulan Rp3 juta jadinya,” kata Kalimantoro.

Ia mengungkapkan, pendapatan maksimal dari menyadap karet sekitar Rp3 juta, berbeda jauh dengan kelapa sawit yang mencapai Rp12 juta dengan perbandingan kerja yang lebih ringan.

“Kalau karet harus keliling satu-satu menyadap pohonnya, lebih capek, belum lagi kalau hujan hancur getahnya jadi air,” ucapnya.

Baca juga
Sentimen Global dan Harga Komoditas Berpihak Positif pada Pergerakan IHSG

Sebagai informasi, petani di Marangkayu umum-nya memiliki lahan sawit dan karet sekaligus sehingga apabila harga sawit tidak setinggi sekarang, kemungkinan petani akan kembali beralih menyadap karet.

Tinggalkan Komentar