Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Hari Gizi Nasional 2023: Sejarah, Tema dan Link Twibbon

Rabu, 25 Jan 2023 - 16:44 WIB
Kemenkes stunting
Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa angka kesembuhan anak yang terkena stunting masih terbilang kecil.(Dokumentasi: Inilah.com/Reyhaanah).

Di setiap tahunnya, Hari Gizi Nasional jatuh pada tanggal 25 Januari. Tepat dihari ini, kita memperangati kembali Hari Gizi Nasional ke-63. Mari kita kilas balik mengenai sejarah dibalik peringatan hari ini.

Sejarah Hari Gizi Nasional

Sekitar tahun 1950-an, sejak Indonesia merdeka, banyak upaya dilakukan untuk meningkatkan gizi terhadap masyarakat. Saat itu, Menteri Kesehatan, Dokter J. Leimena mengangkat Prof. Poorwo Soedarmo sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) atau disebut juga Institut Voor Volksvoeding (IVV). 

IVV adalah bagian dari Lembaga Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijckman. Pada tanggal yang sama ditahun 1951, LMR melakukan pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan mendirikan Sekolah Juru Penerang Makanan. 

Sejak hari itu, pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat banyak perguruan tinggi di Indonesia. Yang akhirnya juga di sepakati bahwa tiap tanggal 25 Januati diperingati sebagai Hari Gizi Nasional.

Perayaan Hari Gizi Nasional diadakan pertama kali oleh LMR pada pertengahan 1960-an, kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak 1970an hingga saat ini. 

Tema Hari Gizi Nasional 2023

Melansir sumber resmi Kementerian Kesehatan, tema Hari Gizi Nasional tahun ini adalah “Protein Hewani Cegah Stunting”.

Kepala Biro dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, Rabu (25/1/2023), menjelaskan “Tema Hari Gizi Nasional 2023 adalah Protein Hewani Cegah Stunting”.

Twibbon Hari Gizi Nasional

Kementerian Kesehatan meluncurkan Twibbon dan poster yang bisa Anda unggah di sini:

Baca juga
400 KK Korban Gempa Cianjur di 4 Kecamatan Akan Direlokasi

Di Balik Tema Hari Gizi Nasional Tahun Ini

Alasan di balik tema HGN tahun ini karena masih tingginya kasus stunting di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018 terdapat 30 persen anak RI yang stunting. Lalu pada intervensi tahun 2021, terjadi penurunan angka stunting di 24,4 persen berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SGGI). 

Angka 24,4 persen ini masih masuk kategori tinggi. Maka pemerintah menetapkan target untuk bisa mencapai di bawah 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

“Terkait Hari Gizi Nasional 2023. Kemenkes bersama lintas sektor dan organisasi seperti POGI, Persagi, Pergizi Pangan juga kementerian lembaga lain sepakat tahun ini tema HGN adalah Protein Hewani Cegah Stunting,” kata Plt. Direktur Gizi KIA Kemenkes, Ni Made Diah Permata.

Baca juga
Sudirman Ungkap Isi Perjanjian Prabowo dan Anies Baswedan Saat Pilkada 2017

Asupan Protein Hewani untuk Cegah Stunting

Stunting erat kaitannya dengan asupan protein hewani. Banyak disebutkan asupan protein hewani yang cukup sesuai dengan usia anak bisa mencegah terjadinya stunting.

“Studi yang dilakukan oleh Headey et.al (2018) menyatakan bahwa ada bukti kuat hubungan antara stunting dan konsumsi pangan hewani pada balita 6-23 bulan, seperti susu atau produk olahannya, daging atau ikan dan telur,” papar Made Diah.

Itu juga menjadi alasan diangkat tema ini agar asupan protein hewani anak Indonesia bisa naik.

Lalu berapa banyak asupan protein hewani yang sudah dipenuhi orang Indonesia?

Berdasarkan Susenas 2022, konsumsi protein nasional, sudah memenuhi standar cukup yaitu 62,1 gram, namun angka ini masih terbilang rendah. Data dari Food and Agriculture Organization (FAO), konsumsi telur, daging, susu dan produk turunannya di Indonesia masih masuk yang terendah di dunia.

Dua PR Lain yang Harus Diperhatikan

Selain masalah stunting, pekerjaan rumah lainnya terkait gizi di Indonesia adalah wasting dan overweight. 

“Indonesia masih dihadapi beban ganda dari masalah gizi yakni stunting, wasting dan overweight,” kata Made Diah.

Stunting dan wasting merupakan kondisi yang sama-sama kekurangan gizi. Kondisi stunting di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembanga. Tubuh mereka tidak mencapai ketinggian layaknya anak seusianya. Yang akhirnya berimbas juga pada tingkat intelegensia di bawah rata-rata.

Lalu, kondisi wasting, kekurangan gizi bisa mengacu pada standar kurva WHO berat badan untuk tinggi badan kurang dari 2 SD mediannya

Sementara, overweight masih banyak terjadi pada orang-orang di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018 sekitar 8 persen populasi masyarakat kita mengalami overweight hingga 8 persen. Kemudian di tahun 2021, lewat data SSGI menjadi 3,8 persen.

Tinggalkan Komentar