Jumat, 12 Agustus 2022
14 Muharram 1444

Hari Raya Kurban Prihatin Gara-gara Wabah PMK

Minggu, 03 Jul 2022 - 10:12 WIB
Kurban Pmk
(ist)

Hari Idul Adha atau Hari Raya Kurban dinanti-nanti banyak orang. Dari mulai umat Islam yang hendak berkurban, warga yang mengharapkan pembagian daging kurban hingga para peternak yang berharap mendapat lonjakan penjualan. Namun hari raya kali ini tampaknya akan berbeda seiring dengan mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Berdasarkan data Kementerian Pertanian sampau akhir Juni 2022 terdapat 19 Provinsi yang dilaporkan terjadi kasus PMK dengan jumlah hewan ternak yang tertular mencapai 283.606 ekor. Dari jumlah itu, sebanyak 91.555 ekor sembuh, 187.661 ekor belum sembuh, 2.689 ekor dipotong bersyarat, 1.701 ekor mati, dan 315.000 ekor sudah divaksinasi.

Terdapat lima provinsi dengan kasus PMK terbanyak. Yakni Jawa Timur sebanyak 114.921 kasus, Nusa Tenggara Barat (NTB) 43.282 kasus, Aceh 31.923 kasus, Jawa Barat 30.456 kasus, dan Jawa Tengah 30.386 kasus. Angka ini di lapangan bisa jauh lebih besar karena tidak semua peternak melaporkan apa yang dialami hewan ternaknya.

Yang paling terpukul akibat wabah PMK ini adalah para peternak. Biasanya hari raya kurban menjadi masa panen bagi para peternak sehingga apa yang terjadi saat ini benar-benar menyulitkannya. Apalagi wabah ini menyerang beberapa sentra peternakan, seperti ternak sapi potong dan sapi perah bahkan kini penyebaran Indonesia semakin meluas.

Pada momentum Hari Raya Idul Adha mestinya peternak menikmati kenaikan harga 10-25 persen dari harga normal. Namun karena wabah PMK ini, justru yang terjadi harga turun sampai 10-25 persen. Belum lagi jika ada ternak sapi yang terpapar, maka peternak akan memotong paksa hewan ternaknya.

“Jika terpaksa terpaksa harus dipotong, penurunannya luar biasa, sapi yang harganya sekitar Rp25 juta turun menjadi Rp10-8 juta. Ini yang membuat peternak sangat terpukul,” keluh Nanang P Subendro, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau (PPSKI).

Baca juga
KBRI Madrid Gelar Salat Idul Adha Pertama Sejak Awal Pandemi

Ditambah lagi, kebijakan lockdown ternak di Pulau Jawa, membuat peternak tidak bisa menjual ke luar daerah. Terutama kota besar seperti DKI Jakarta dan Bandung. Kondisi ini membuat panic selling di tingkat peternak sehingga mereka menjual sapi dengan harga murah.

Peternak yang tertimpa musibah meminta kepada pemerintah memberikan kompensasi, berupa santunan atau ganti rugi, khususnya bagi ternak yang terinfeksi PMK. Karena jumlah ternak yang terpapar PMK diperkirakan sangat banyak, PPSKI juga meminta pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapenas) memberikan penugasan kepada Bulog menampung ternak agar bisa menjadi buffer stok daging di dalam negeri dari pada harus mengimpor dari India.

Tidak Memaksakan Diri Berkurban

Memang berat apa yang dialami peternak pada masa Idul Adha kali ini. Akibat wabah PMK, Menteri Agama juga menganjurkan agar warga Muslim tidak memaksakan diri untuk berkurban. Ini juga akan mengurangi jumlah warga yang hendak berkurban.

“Bagi umat Islam, menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah. Namun demikian, umat Islam diimbau untuk tidak memaksakan diri berkurban pada masa wabah PMK,” pesan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Menteri Agama sudah menerbitkan panduan penyelenggaraan Salat Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Kurban Tahun 1443 Hijriah/2022 Masehi. Surat Edaran ini, mengatur tentang pelaksanaan protokol kesehatan saat Salat Hari Raya Idul Adha dan pelaksanaan kurban, takbiran, khutbah Idul Adha, ketentuan syariat berkurban, hingga teknis penyembelihan, pengulitan, pencacahan, pengemasan, dan pendistribusian daging kurban.

Yaqut mengimbau umat Islam untuk membeli hewan kurban yang sehat dan tidak cacat sesuai dengan kriteria, serta menjaganya agar tetap dalam keadaan sehat hingga hari penyembelihan. Bagi umat Islam yang berniat berkurban dan berada di daerah wabah atau terluar dan daerah terduga PMK, Menag mengimbau untuk melakukan penyembelihan di Rumah Potong Hewan (RPH).

Baca juga
DPR Apresiasi Kementan Cepat Tangani Wabah PMK

“Atau, menitipkan pembelian, penyembelihan, dan pendistribusian hewan kurban kepada Badan Amil Zakat, Lembaga Amil Zakat, atau lembaga lainnya yang memenuhi syarat,” ucapnya.

Kementan Ungkap Wabah Dapat Dikendalikan

Kementerian Pertanian sendiri sudah menyatakan penyakit PMK di Tanah Air sudah dapat dikendalikan. Kementan juga telah melakukan sejumlah agenda aksi dalam rangka mencegah dan mengatasi penyebaran wabah PMK terus meluas. Mulai dari pembentukan gugus tugas, pengadaan vaksin hingga vaksinasi massal.

“Kita telah membentuk gugus tugas, pembuatan Posko, lockdown zona wabah, distribusi obat, antibiotik dan disinfektan, juga sosialisasi dan edukasi masyarakat. Sementara untuk agenda yang bersifat temporary, kami telah melakukan pengadaan vaksin yang saat ini berjumlah 3 juta dosis serta pembatasan lalu lintas hewan dan produk hewan,” tutur Agung Suganda, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan.

Kementan memproyeksikan kebutuhan pemotongan hewan kurban tahun ini mencapai 1.808.522 ekor. Sementara potensi ketersediaan hewan kurban sebanyak 2.278.158 juta ekor. Sehingga terjadi surplus sebanyak 469.638 ekor.

Ketersediaan hewan kurban tahun ini adalah sapi sebanyak 866.677 ekor, kerbau 29.120 ekor, kambing 973.343 ekor dan domba sebanyak 409.018 ekor. Sedangkan berdasarkan data secara nasional, total populasi sapi saat ini mencapai 18 juta lebih. Sementara kambing dan domba mencapai 20 juta.

“Kementan terus mengupayakan pemenuhan ketersediaan hewan kurban sesuai dengan kebutuhan. Secara nasional kita yakin bahwa ketersediaan hewan kurban kita masih mencukupi, bahkan surplus,” kata Agung, Kamis (30/6/2022).

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan kurban tahun ini. Dalam Fatwa Fatwa MUI No.32 Tahun 2022, hewan yang dikurbankan harus sesuai kriteria disyariatkan yaitu sehat, kuat dan terbaik.

Ada empat kategori bagi hewan kurban sesuai fatwa ini. Pertama, hewan kurban harus kuat dan sehat. Kalau ada gejala klinis ringan misalnya mulutnya mengeluarkan air liur, tapi masih kelihatan gagah, masih bisa menjadi hewan kurban.

Baca juga
Dengan Jamu dan Doa, Peternak Madura Perkuat Imun Sapi dari PMK

Kedua, kalau ada hewan kurban yang sudah mulai kelihatan flu berat. Misalnya sudah letih lesu, tidak punya nafsu makan, air liurnya terus keluar, tapi masih bisa makan, juga bisa dikurbankan. Tapi kalo sudah lemah, kelihatan kurus, maka itu tidak sah untuk dikurbankan.

Ketiga, kalau ada yang sakit, tapi cepat disuntik vaksin kemudian sembuh, bisa menjadi hewan kurban dengan rentang waktu penyembelihannya 10-13 Dzulhijah, artinya di hari tasyrik.

Keempat, kalau sapi sakit kemudian sembuh. Tapi sembuhnya sudah di luar tanggal 10-13 Dzulhijah atau di luar hari tasrik, maka tidak sah sebagai kurban atau hanya sebagai sedekah biasa.

“Masyarakat kami minta tetap optimis dan tak perlu khawatir bahwa kurban Idul Adha tahun ini aman. Wabah PMK perlu disikapi secara proporsional dan profesional,” kata Amirsyah Tambunan, Sekjen MUI.

Semua berharap Hari Raya Kurban yang tinggal sepekan lagi ini dapat dimanfaatkan maksimal untuk penyediaan hewan kurban yang sehat bagi masyarakat. Sekaligus mencegah hewan berpenyakit PMK dijual di masyarakat. Menjadi kewajiban bagi semua pihak agar masyarakat tak perlu resah dan khawatir untuk membeli hewan kurban, sekaligus membuat para peternak kembali tersenyum karena bisa menikmati masa panennya di Hari Raya Kurban. [ikh]

Tinggalkan Komentar