Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

Harta, Tahta, dan Ferdy Sambo

Jumat, 12 Agu 2022 - 02:47 WIB
Ferdy Sambo - inilah.com
Ferdy Sambo

Sebagai seorang perwira Irjen Ferdy Sambo sudah memiliki segalanya dalam usia yang relatif muda. Jabatan mentereng ditambah posisi Kasatgassus Merah Putih membuatnya menjadi sosok yang disegani kalau tidak mau disebut ditakuti. Godaan dunia berupa harta, tahta dan wanita nampaknya tak lagi mempan, atau sudah dilaluinya.

Rupanya ada satu yang membuatnya terusik, hingga membawa dirinya ke pinggir jurang. Menurut Dirtipidum Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, eks Kadiv Propam Polri emosi dan memilih untuk menghabisi nyawa ajudan, Brigadir Yosua Hutabarat (Brigadir J) lantaran telah mengganggu harkat dan martabat sang istri, Putri Candrawathi (PC), di Magelang.

“Dirinya menjadi marah dan emosi setelah dapat laporan PC yang mendapatkan tindakan yang melukai harkat martabat keluarga di Magelang oleh almarhum Josua,” ujar Brigjen Andi Rian, di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (11/8/2022).

Ferdy Sambo menyampaikan hal itu kepada Timsus Polri sewaktu menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka di Mako Brimob, rumah sementaranya selama menjalani proses etik dan pidana. Keterangan tersebut tentunya masih harus diuji lagi untuk membuktikan perkara pembunuhan dan pembunuhan berencana terhadap ajudannya sendiri. “Itu pengakuan tersangka di BAP,” ungkap Rian lagi.

Tak jelas apa yang membuat Ferdy Sambo menutupi persoalan selama kasus pembunuhan terjadi di rumah dinas Kadiv Propam Polri pada 8 Juli 2022 yang lalu. Awalnya penembakan terjadi lantaran Brigadir J berupaya melecehkan PC dengan menodongkan senjata. Kini berubah upaya pelecehan terjadi di Magelang, sehari sebelum korban tewas.

Alibi yang berubah-ubah tentu mengundang prasangka, apakah skenario kebohongan dibangun karena takut aib terbongkar hingga harus menyusun kisah heroik tembak-menembak, atau untuk mempertahankan prestise sebagai Kadiv Propam setelah perkasa membela wanita yang sudah dikenalnya sejak duduk di SMP Negeri 6 Makassar.

Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers pengumuman tersangka pada Selasa (9/8/2022), juga tidak membuka kasus posisi secara lengkap. Begitu pula ketika Kabareskrim Komjen Agus Andrianto menyampaikan peran masing-masing tersangka.

Ferdy Sambo disebut hanya menginstruksikan penembakan dan selanjutnya menyusun skenario. Sementara hasil pemeriksaan yang diterima Inilah.com mengungkapkan, Bharada Richard Eliezer (Bharada E), telah memberi pengakuan bahwa sang jenderal yang menembak. Bripka Ricky Rizal (RR) mengaku melihat sang tuan rumah keluar kamar di rumah dinas Kadiv Propam menggunakan sarung tangan hitam sambil menggenggam Glock 17.

Seluruh pengakuan itu tidak diungkapkan dalam konferensi pers yang dipimpin Kapolri Sigit. Sumber tersebut juga melanjutkan, Bharada E sudah dibawa menghadap Kapolri Sigit untuk menyampaikan pengakuannya secara langsung, pada Jumat (5/8/2022) malam atau sehari sebelum Ferdy Sambo digelandang ke Mako Brimob.

Sigit, kata sumber itu, seperti rikuh untuk memproses hukum anak buah yang dikenal dekat dengannya itu. Kesan ada yang ditutupi juga ditangkap Indonesia Police Watch (IPW), ketika mencermati pengumuman tersangka baru pembunuhan anggota Polri.

Selepas mengumumkan motif Ferdy Sambo membunuh ajudannya sendiri, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Dedi Prasetyo, di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, menuturkan Kapolri telah membubarkan Satgassus Merah Putih, yang dipimpin Ferdy Sambo. Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso meminta agar Kapolri turut memberi pertanggungjawaban kinerja satgas yang telah eksis sejak Tito Karnavian menjabat Kapolri itu.

“Mestinya sebelum dibubarkan harus dibuka pertanggungjawaban kerja satgassus sebelumnya. Sambo kan baru (menjabat) 1 Juli 2022. Sebelumnya, Ketua Satgassus ada juga,” kata Sugeng.

Posisi Ferdy Sambo selaku Kasatgassus Merah Putih sebelumnya dianggap sebagai rintangan dalam pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir J. Namun dalam konferensi pers yang ditekankan penyidik kesulitan mengungkap karena kesulitan mencari alat bukti. Sebelum pengumuman tersangka, tiga rumah digeledah termasuk dua rumah Ferdy Sambo di Duren Tiga.

Sebagai Kasatgassus, Ferdy Sambo memiliki daya jelajah luas. Bisa mengurus banyak perkara yang perputaran uangnya tinggi. Dari urusan prostitusi, judi online, korupsi, ITE hingga TPPU, selama dianggap menjadi perhatian khusus pimpinan Polri.

Sumber Inilah.com mengungkapkan Satgassus Merah Putih justru menjadi kapal keruk dari bisnis ilegal penyakit masyarakat. Anggotanya ratusan personel lintas kesatuan termasuk sejumlah Kapolda. Soal ini Mabes Polri belum memberi klarifikasi. “Pada malam ini juga bapak Kapolri sudah menghentikan kegiatan dari Satgassus Polri. Artinya sudah tidak ada lagi Satgassus Polri,” ujar Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo.

Kekayaan Ferdy Sambo, setidaknya ketika menyandang bintang dua di bahu, tidak diketahui secara pasti. Data LHKPN yang disetor ke KPK untuk tahun 2021 bermasalah sehingga tidak bisa diungkap kepada publik. Namun dari proses penyidikan perkara Brigdir J, Ferdy Sambo memiliki dua rumah mewah di kawasan Duren Tiga yang telah digeledah penyidik. Sumber lain menyebutkan masih ada rumah miliknya di kawasan elite Jaksel, Hang Lekir, Kebayoran Baru.

Status jenderal muda potensial dengan segudang pengalaman reserse yang kini  tersandung kasus, membuat Ferdy Sambo berada dalam sorotan tajam. Sang jenderal terpelanting karena upayanya menutupi  perbuatan tercela dengan cara kejam dengan dalih menjaga kehormatan keluarga, terungkap imbas derasnya tekanan publik.

“Kepada institusi yang saya banggakan, Polri, dan khususnya kepada Bapak Kapolri yang sangat saya hormati, saya memohon maaf dan secara khusus kepada sejawat Polri yang memperoleh dampak langsung dari kasus ini, saya memohon maaf,” kata Ferdy Sambo melalui surat yang dibacakan kuasa hukum, Arman Hanis, di rumah pribadi sang jenderal di Jalan Saguling III, Duren Tiga, semalam. “Sekali lagi saya memohon maaf akibat timbulnya beragam penafsiran serta penyampaian informasi yang tidak jujur dan mencederai kepercayaan publik kepada institusi Polri.

Menyimpan kebohongan tidaklah mudah. Walau menyakitkan, konon mengungkap kebenaran bisa menyembuhkan. Entah apa saja yang dilakukan Ferdy Sambo 30 hari terakhir sebelum ditahan. Adakah harta dan tahta yang dilindungi?

Tinggalkan Komentar