Selasa, 05 Juli 2022
06 Dzul Hijjah 1443

Harus Siap Hadapi Pasar Bebas ASEAN

Selasa, 04 Jun 2013 - 08:45 WIB
Penulis : inilah

INILAH,  Bandung - Era globalisasi kini sudah tak bisa terelakan lagi, termasuk di bidang ekonomi dan perdagangan. Para pengusaha dan investor asing dari semua belahan dunia bisa dengan bebas masuk ke Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesar di dunia.

Sejumlah pakta perdagangan internasional pun dibentuk sebagai payung hukum terjadinya penetrasi ke suatu negara. Di kawasan Asia Tenggara atau lebih tepatnya di antara negara-negara anggota ASEAN, telah disepakati terbentuk ASEAN Economic Community (AEC) atau pasar bebas ASEAN yang akan mulai berlaku pada 2015.

Dibukanya keran pasar bebas tentunya memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi Indonesia, khususnya para pengusaha dan pekerja. Para investor dan pekerja asing, bisa jadi bakal memenuhi Indonesia, bahkan hingga tingkat kabupaten/kota pada 2015 mendatang. Sementara warga Indonesia malah jadi penonton di negerinya sendiri karena semua lahan usaha dan pekerjaannya diambil alih oleh orang asing. Itulah kekhawatiran yang mengemuka.

Sebaliknya,dibukanya pasar bebas ASEAN ini bisa menjadi peluang yang sangat besar bagi para pengusaha dan pekerja, serta masyarakat Indonesia pada umum. Betapa tidak, peluang konglomerasi Indonesia untuk ekspansi ke negara-negara ASEAN begitu terbuka. Mereka bisa mendirikan kantor cabang, bahkan pabrik di negara tetangga. Peluang para pekerja untuk bekerja di luar negeri pun semakin lebar, tidak hanya sebagai tenaga informal seperti pembantu rumah tangga atau pekerja kasar seperti saat ini.

Namun,tentunya tidak semudah membalikkan tangan untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain. Dibutuhkan kompetensi yang mumpuni dari para pelaku usaha. Padahal saat ini hanya sedikit sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang mempunyai kompetensi internasional. Di bidang konstruksi misalnya, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Jabar merilis bahwa hanya sekitar 10% pelaku bidang konstruksi yang memiliki kompetensi bersaing di pasar bebas. Indonesia pun mengalami defisit tenaga terampil setidaknya sejak 10 tahun terakhir ini. Indonesia hanya bisa mencukupikurang dari 20% kebutuhan tenaga terampil. Sehingga untuk level tenaga manajer, sejumlah perusahaan masih mendatangkan pekerja asing.

Untuk itu, perlu dilakukan persiapan serius dalam menghadapi AEC 2015 tersebut agar tidak kalah bersaing dengan negara lain. Pemerintah perlu terus mendorong para pengusaha, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah, untuk meningkatkan kualitasnya sehingga mampu menghadapi perdagangan bebas tersebut.

Yang jelas, dibukanya pasar bebas ASEAN ini harus mampu memberikan dampak positif bagi rakyat Indonesia. Pasar bebas harus bisa membuka peluang kerja yang lebih besar bagi angkatan kerja Indonesia yang saat ini mencapai 122,55 juta orang. Arus investasi pun diharapkan meningkat pesat serta bisa memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Kita harus optimistis, dengan persiapan matang, AEC bisa memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia ke depan.[den]