Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Hasil Penelitian SEANUTS II, Anak dengan Stunting dan Anemia Masih Tinggi

Selasa, 21 Jun 2022 - 20:05 WIB
Anak dengan Stunting
Freepik

Tumbuh kembang anak yang baik adalah sebuah hal yang penting dan berpengaruh bagi generasi penerus bangsa. Namun, sebuah penelitian terbaru South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II) mendapati prevalensi anak stunting dan anemia di Indonesia masih tinggi.

Hal tersebut khusus di antaranya adalah anak-anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia.

Menurut Dr.dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi selaku peneliti SEANUTS II Indonesia menjelaskan, status gizi anak yang usianya di bawah 5 tahun di daerah Jawa dan Sumatera, ternyata masih tinggi prevalensi stunting-nya.

“Jadi untuk stunting masih tinggi di atas 20 persen, dan laki-laki lebih tinggi angkanya dari perempuan,” papar Dian Jovita saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa, (21/6/2022).

Masih menurutnya, prevalensi stunting sebesar 28,4 persen. Angka tersebut artinya, satu di antara 3,5 anak berperawakan pendek.

Baca juga
Kerap Salah Diagnosa Bintik Manik Putih Seperti Mata Kucing Dianggap Tidak Berbahaya

Jika melihat daerah, angka anak stunting banyak terdapat di pedesaan dibandingkan di kota.

“Di desa ada 3,6 persen dan di kota sekitar 20,6 persen,” paparnya.

Mengapa stunting bisa terjadi?

Masih menurutnya, ada hal yang belum terpenuhi sepenuhnya. Karena masih banyak anak-anak usia dini yang belum terpenuhi rata-rata asupan vitamin dan mineral yang direkomendasikan untuk mendukung tumbuh kembang anak yang sehat.

Selain stunting, prevalensi anak dengan anemia juga tinggi. SEANUTS II, penelitian skala besar yang dilakukan oleh FrieslandCampina dalam rentan waktu antara 2019 dan 2021, menampilkan data ada sekitar 25,8 persen anak dengan anemia di bawah 5 tahun.

Kemudian, hampir 15 persen anak usia 7-12 tahun memiliki berat badan atau obesitas.

Permasalahan stunting, anemia memang masih belum bisa dihilangkan. Namun, anak yang berusia lebih tua, tingkat prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas ternyata lebih tinggi.

Baca juga
Sarapan Satu Jam Sebelum Beraktivitas Bantu Anak Konsentrasi Belajar

Anak usia sekolah juga minim aktivitas fisik

Hal yang tidak kalah penting adalah temuan pada anak usia sekolah yang menunjukan bahwa aktivitas fisik mereka belum tercukupi.

Padahal, tingkat kecukupan aktivitas harian akan sangat mempengaruhi kebugaran jasmani. Kemudian, juga berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Pola aktivitas fisch anak usia sekolah juga ternyata bervariasi bisa berdasarkan jenis kelamin, usia, maupun area tempat tinggalnya.

Hal ini dapat digunakan sebagai acuan pemikiran strategi dalam membudayakan gaya hidup aktif terutama pada anak usia sekolah dengan dukungan gizi yang seimbang.

Dengan kecukupan gizi yang baik, harapannya, anak-anak akan mampu melakukan aktivitas fisik sesuai rekomendasi, sehingga mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Baca juga
Pakar Ungkap Faktor Pemicu Obesitas Tidak Terkait MSG

Anak-anak juga kurang kalsium dan vitamin D

Selain itu, sebagian besar anak-anak tidak memenuhi kebutuhan rata-rata asupan kalsium dan vitamin D. Hasil pengecekan biokimia darah juga menunjukkan adanya ketidakcukupan vitamin D pada sebagian besar anak. Masalah gizi ini juga menjadi hal yang sangat penting.

Untuk mengatasi kesenjangan gizi, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah melalui intervensi gizi yang lebih baik dan juga adanya edukasi tentang pentingnya kecukupan gizi untuk anak.

Tinggalkan Komentar