Hasil Riset: Imunisasi Anak Rendah Selama Pandemi

Hasil Riset: Imunisasi Anak Rendah Selama Pandemi - inilah.com
istimewa

Hasil penelitian cepat yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan UNICEF pada April 2020 menunjukkan bahwa 84 persen layanan imunisasi mengalami kendala di level Puskesmas dan Posyandu. Salah satu penyebabnya adalah hambatan akses ke pelayanan kesehatan dan menurunnya permintaan imunisasi karena masyarakat khawatir pada penularan Covid-19.

Data dari Surveilans di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan pada bulan imunisasi anak sekolah tahun 2020, cakupan imunisasi campak hanya mencapai 45 persen, Difteri Tetanus (DT) 40 persen, dan Tetanus Difteri (TD) 40 persen.

Saat ini Indonesia menempati peringkat 6 di dunia berdasarkan jumlah orang yang telah divaksinasi dan total suntikan Covid-19.

Baca juga  Tiga Acungan Jempol Anies di Gedung KPK

“Hal ini tentu menjadi kabar menyejukkan bagi masyarakat khususnya kami tenaga kesehatan. Namun, sejak pandemi melanda dan vaksinasi Covid-19 gencar dilakukan, ada hal lain yang juga krusial namun terlupakan yakni imunisasi dan vaksinasi anak,” kata dr. Bimantoro founder ProSehat, Jakarta, Sabtu, (18/09/2021).
 
Apalagi, masih menurutnya, saat ini telah dimulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sebagian wilayah Indonesia, sementara vaksin baru bisa dilakukan bagi anak di bawah usia 12 tahun.

Ia mengingatkan pentingnya protokol kesehatan yang ketat di lingkungan sekolah dan imunisasi untuk anak mulai dari bayi hingga usia sekolah.
 
“Imunisasi ke rumah pada masa pandemi merupakan cara yang aman dan efektif. Dengan melakukan imunisasi anak di rumah, masyarakat dapat meminimalisir resiko paparan terhadap virus Covid-19,” paparnya.
 
Ia menjelaskan jarak waktu imunisasi dengan vaksinasi Covid-19 adalah 1 bulan. Bagi anak berusia di bawah 12 tahun, dibutuhkan rangkaian imunisasi dan vaksin yang bisa membantu ketahanan tubuhnya.

Baca juga  Pentingnya Alat Penunjang di Fasilitas Kesehatan

Tinggalkan Komentar