Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Hati-Hati Konsumsi Gula Tersembunyi pada Makanan dan Minuman Kemasan

Jumat, 05 Nov 2021 - 14:44 WIB
Hati-Hati Konsumsi Gula Tersembunyi pada Makanan dan Minuman Kemasan - inilah.com
istimewa

Konsumsi gula menjadi berbahaya ketika jumlahnya berlebihan. dr. Marya Haryono, MGizi, SpGK, FINEM, selaku Dokter Spesialis Gizi Klinis menjelaskan, konsumsi gula berlebih berkontribusi terhadap tingginya asupan kalori yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.

Sayangnya, masyarakat masih cenderung mengonsumsi gula dalam jumlah yang tinggi, baik dari penambahan gula saat memasak, makan, dan minum maupun melalui konsumsi makanan dan minuman manis yang tinggi gula.

“Gula identik dengan gula pasir, padahal sebenarnya bukan hanya gula pasir saja, ada gula merah, gula batu, ada gula yang ngumpet di dalam makanan, ada di dalam kopi cihui yang sering kita minum, kental manis, itu juga kandungan gulanya tinggi,” kata Marya Haryono saat temu media virtual, Jakarta, baru-baru ini.

Baca juga
Nasi Bisa Bikin Kita Gemuk, Mitos Atau Fakta?

Tidak hanya itu, ada pula gula di dalam masakan yang juga perlu dihitung.

“Itu juga tinggi. Itu ada tambahan gula untuk menambahkan cita rasa. Ini harus diperhatikan,” tambahnya.

Masih menurut Marya, masyarakat juga perlu waspada dengan kandungan gula yang terkandung di makanan dan minuman kemasan.

Untuk itu, masyarakat perlu lebih jeli dalam memerhatikan label kemasan guna mengetahui kandungan gula tersembunyi (hidden sugar) di makanan minuman.

“Hal ini penting agar kita dapat lebih sadar akan jumlah gula yang dikonsumsi setiap harinya,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga secara rutin perlu melakukan pengukuran berat badan untuk mengetahui apakah berat badan mereka termasuk kategori normal atau overweight dan bahkan obesitas. Cara pengukurannya dengan metode perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu jumlah berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter) kuadrat.

Baca juga
Konsumsi Gula Harian pada Anak Harus Dibatasi

Berdasarkan World Health Organization, untuk orang Asia, apabila hasil BMI-nya di bawah 18,5 maka tergolong kurus, sementara BMI 18,5-22,9 termasuk kategori normal.

Masyarakat perlu lebih waspada apabila hasil BMI mencapai angka 23,0-24,9 karena sudah termasuk overweight, 25-29,9 termasuk kategori obesitas tingkat I, dan ≥30 dinyatakan obesitas tingkat II,” jelas dr. Marya.

Yusra Egayanti, S.Si, Apt, MP, Koordinator Standardisasi Pangan Olahan Keperluan Gizi Khusus, Badan POM RI, mengatakan, cermat membaca label kemasan pangan olahan dapat membantu kita lebih bijak dalam konsumsi gula dan terhindar dari risiko obesitas.

“Masyarakat harus selalu memperhatikan empat informasi nilai gizi dalam label kemasan yaitu jumlah sajian per kemasan, energi total per sajian, zat gizi (seperti lemak, lemak jenuh, protein, garam/natrium, dan karbohidrat (termasuk gula)) dan persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) per sajian,” ujar Yusra.

Baca juga
Dorce Gamalama Alami Hipoglikemia, Kadar Gula Darah Drop Hingga 38

Idealnya, dalam sehari, masyarakat dapat mengonsumsi tidak lebih dari, gula sebanyak 50 gram atau setara dengan empat sendok makan, garam sebanyak 5 gram atau setara dengan satu sendok teh, dan lemak total sebanyak 67 gram atau lima sendok makan.

Tinggalkan Komentar