Selasa, 24 Mei 2022
23 Syawal 1443

Hong Kong Kewalahan Urus Jenazah di Tengah Tingginya Kematian Akibat COVID-19

Hong Kong Jenazah
(ist)

Hong Kong mulai mengalami kelangkaan peti mati kayu ketika ketika otoritas kawasan itu sibuk menambah kapasitas kamar mayat di tengah tingginya angka kematian akibat COVID-19.

“Belum pernah saya melihat begitu banyak jenazah dikumpulkan,” kata direktur pemakaman Lok Chung kepada Reuters.

Ia mengaku bekerja siang-malam untuk memakamkan 40 jenazah sepanjang Maret. Biasanya dalam satu bulan, pihaknya hanya mengurus sekitar 15 jenazah.

“Belum pernah saya melihat anggota keluarga begitu marah, begitu kecewa, sangat tak berdaya,” ujar Chung.

Sejak gelombang kelima COVID-19 menerjang Hong Kong tahun ini, bekas koloni Inggris itu telah mencatat lebih dari 1 juta infeksi dan 8.000 lebih kematian.

Pemandangan sekumpulan jenazah yang berjajar dengan pasien di ruang gawat darurat mengejutkan banyak orang saat kamar-kamar mayat penuh.

Baca juga
Menang Adu Penalti Kontra Malaysia, Timnas Indonesia Bawa Pulang Medali Perunggu

Selain peti mati, yang juga langka ditemukan di Hong Kong adalah replika kertas berbagai benda, seperti mobil dan rumah, yang dibakar sebagai persembahan dalam prosesi pemakaman China dan dipercaya dapat dipakai oleh mendiang di alam baka.

Sebagian besar kelangkaan disebabkan oleh terhambatnya angkutan dari kota tetangga Shenzhen di China selatan, yang memasok banyak barang, tapi kini disibukkan pula oleh wabah COVID-19.

Infeksi di kalangan petugas rumah duka juga menjadi tantangan besar, kata direktur pemakaman lain, Hades Chan.

“Hampir seperempat orang tak bisa bekerja, Jadi beberapa rumah duka harus menggabungkan staf agar tetap beroperasi,” ujarnya.

Kate, ibu rumah tangga berusia 36 tahun, mengatakan kematian ayah mertuanya akibat COVID-19 pada Maret membawa emosi besar di keluarganya. Hal yang paling ia sesali adalah tidak bisa menjenguk sang mertua di rumah sakit.

Baca juga
Mobil AKP Novandi Melaju Kencang, Tabrak Separator Hingga Muncul Percikan Api

“Ketika mereka bilang dia tak bisa bertahan lagi, kami bergegas ke sana, tapi sudah terlambat,” kata Kate kepada Reuters yang ditemui di upacara pemakaman.

“Baru kali ini kami bisa melihatnya untuk terakhir kali,” ucapnya sambil berusaha menahan tangis.

China memasok lebih dari 95 persen kebutuhan peti mati Hong Kong yang mencapai 250-300 buah per hari, kata pejabat pangan dan kesehatan kota itu, Irene Young.

Dia menerima lebih dari 3.570 peti mati pada 14-16 Maret, setelah otoritas setempat berkoordinasi dengan pemerintah pusat China.

Enam krematorium kini beroperasi hampir 24 jam untuk menangani hampir 300 jenazah per hari, dua kali lipat dari biasanya.

Baca juga
Akhir Pandemi Covid-19 Tergantung pada Perilaku Manusia

Kamar-kamar mayat untuk publik telah diperluas agar bisa menampung 4.600 jenazah dari kapasitas sebelumnya yang hanya 1.350.

Lembaga swadaya masyarakat Forget Thee Not telah bermitra dengan pembuat peti mati ramah lingkungan LifeArt Asia untuk mendonasikan 300 peti mati dan 1.000 kotak penyimpanan ke enam rumah sakit umum.

Setiap peti dibuat dari papan serat kayu daur ulang dan mampu menahan beban hingga 200 kg. Bahan pengawet seperti serbuk berubah menjadi gas ketika dimasukkan ke dalam peti atau kantong untuk menjaga kondisi jenazah tetap tidak rusak hingga lima hari ke depan.

“Kita berada di tengah badai,” kata kepala eksekutif LifeArt Asia, Wilson Tong. “Dan di tengah badai, kami berusaha memberi jeda untuk beristirahat.”

Tinggalkan Komentar