Jumat, 30 September 2022
04 Rabi'ul Awwal 1444

HUT FBR ke-21, Ustaz Yusuf Mansyur Cerita soal Kedekatan Warga Betawi dan Nahdliyin Jakarta

Selasa, 19 Jul 2022 - 13:49 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Cerita Ustaz Yusuf Mansur
Ustaz Yusuf Mansur (Foto ist)

Memperingati HUT Forum Betawi Rempug (FBR) Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi DKI Jakarta mengangkat tema ‘Albatawiyun kuluhum Annahdliyuun illa man abaa’ (semua orang Betawi itu adalah Nahdlatul Ulama kecuali yang tidak mau) yang dicetuskan oleh ketua PWNU DKI Jakarta KH. Samsul Ma’arif. Statment ini dalam rangka menguatkan tali kasih persatuan warga Betawi dengan Nahdlatul Ulama.

Pondok Pesantren Yatim Zidatul Mubtadi’ien, Cakung, Jakarta Timur sebagai tempat awal berdirinya FBR sebagai Organisasi masyarakat pada 29 Juli 2001. FBR sendiri memiliki kedekatan khusus dengan Nahdlatul Ulama Apalagi Imam Besar FBR yang sekarang adalah Pengurus PWNU DKI Jakarta.

Baca juga
Abih Syakrim, Ulama Sepuh Betawi Dikukuhkan Menjadi Mustasyar PBNU

Saat dihubungi Ustadz Yusuf Mansur bercerita tentang bagaimana FBR bisa berdiri sampai sekarang.

“Dulu atas izin Allah, guru Mansyur selalu ngomong kata Rempug, akur, rukun, jangan pecah belah. Alhamdulillah terwakili sama FBR. Selamat Ulang Tahun FBR !” Ucap Ustadz Yusuf Mansur, pada senin (18/7).

Beliau juga bercerita mengenai sejarah Nahdlatul Ulama berdiri di Jakarta. Berawal dari guru Mansyur yang mendirikan pondok pesantren Almanshuriyah di Jembatan Lima, Jakarta barat. Pondok pesantren ini dulunya adalah pondok Nahdloh atau yang diambil dari kata Nahdlatul Ulama.

“Dahulu setiap warga Betawi adalah NU, namn sekarang sudah banyak terbawa arus,” kata Ustadz Yusuf Mansur.

Baca juga
Cerita Suami Saat Pertama Kali Tahu Ning Imaz Dinista Eko Kuntadhi

Di momentum Harlah ke-21 FBR, Ustadz Yusuf Mansyur berpesan untuk warga NU dan betawi agar selalu hidup harmonis dan mampu menjaga keutuhan NKRI.

“Banyakin sabar dan belajarlah berbaik sangka. Kita harus belajar saling memaafkan dan membebaskan diri dari dendam dan amarah. Banyakin zikir, baca Qur’an. Belajarlah maklum ketika melihat kesalahan orang lain, bukan membolehkan tapi memaklumi apakah mereka ternyata kurang pendidikan, ilmu, pergaulan atau bisa jadi kurang doa,” pesannya.

Pesan Ini bukan hanya disampaikan untuk orang Jakarta saja tetapi untuk semua orang. Tujuannya agar bisa hidup rukun, rempug, akur, harmonis dengan siapa saja bahkan dengan alam.

Tinggalkan Komentar