Hutan Sudah Rusak, Gubernur Lapor Presiden Jokowi

Banjir Sintang - inilah.com
Banjir Sintang kalimantan Barat

Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji melaporkan kondisi terkini soal banjir Sintang yang sudah sebulan tak kunjung surut.

Kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan virtual, Sutarmidji mengeluhkan eksploitasi hutan hingga daerah tangkapan air hilang.

“Apa yang disampaikan Pak Presiden tentang penyebab terjadinya banjir di Kabupaten Sintang yang dikarenakan kerusakan alam itu memang benar, di mana kondisi alam kita saat ini memang banyak yang sudah rusak. Sebagian dikarenakan penebangan hutan dan beberapa aktivitas perkebunan dan pertambangan,” kata Sutarmidji.

Sutarmidji memaparkan, sebagian besar perusahaan memanfaatkan kayu, tapi setelah ditebang habis lalu dibiarkan begitu saja.”Walaupun bisa menambah pemasukan negara tetapi tidak memadai. Karena setelah mereka menebang habis hutan tidak ada penanaman kembali pohon,” ungkapnya.

Tidak adanya reboisasi menyebabkan kurang menyerapnya air, hujan terus-menerus menyebabkan air langsung mengalir menuju sungai. Di sungai, lanjutnya, harus memproses pengaliran sampai ke laut, saat proses panjang terjadi hujan juga terus menerpa Kabupaten Sintang dan sekitarnya.

Baca juga  DPR Belum Setujui Dana APBN Biayai Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kerja Sama dengan China

“Saat air hujan turun alam sudah mengaturnya, berawal dari air jatuh ke daun lalu diserap ke dalam tanah. Kalau sekarang jatuh tapi tidak menyerap dan langsung mengalir ke sungai, daya tampung sungai ini kan terbatas akhirnya tidak terkendali dan terjadilah banjir,” katanya.

Ia juga menjelaskan 30 tahun yang lalu, awalnya masyarakat bermain di plywood sehingga Hak Pengusaha Hutan (HPH) lebih banyak dari luas Kalbar, setelah hasil hutan menurun mereka beralih menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI).”Dulu saya meneliti tentang HPH saat tahun 90-an, ternyata jumlah total HPH lebih banyak dibandingkan luas Kalbar, lalu plywood sisa sedikit dan mereka beralih menjadi HTI,” kata Sutarmidji.

Baca juga  Aktivitas 20.113 Warga Lumpuh di Kepung Banjir

Ia menambahkan, harusnya pemerintah daerah (pemda) tegas dalam memberikan aturan.”Silahkan menanam sawit tetapi ekosistem harus dijaga dan pemda juga harus tegas saat memberikan aturan. Lahan yang tidak ditanam sawit harusnya ditanam pohon,” katanya.

Di sekitar perkebunan sawit, pohon yang tinggi menyerap air harus ditanam agar tidak langsung mengalir dan menumpuk di sungai.”Sawit itu 70 cm ke bawah baru bisa menyerap air, maka disekitarnya harus menanam pohon yang habitatnya ada di Kalbar seperti pohon tengkawang, kratom, dan lain-lain. Karena dapat menahan banjir,” ujarnya

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan banjir yang saat ini melanda Kalimantan disebabkan kerusakan daerah tangkapan hujan. Menurutnya, kerusakan itu sudah terjadi bertahun-tahun dan harus segera diperbaiki. “Ya itu (banjir di Kalimantan) memang karena kerusakan catchment area, daerah tangkapan hujan, yang sudah berpuluh-puluh tahun,” ujar Jokowi di Serang, Banten, Selasa (16/11/2021).

Baca juga  Wuling Almaz RS Curi Perhatian Jokowi di GIIAS 2021

“Itu yang harus kita hentikan. Karena memang masalah utamanya ada di situ. Sungai Kapuas meluber karena daerah tangkapan hujannya rusak. Itu yang nanti kita perbaiki,” tegasnya.

Jokowi menuturkan, kemungkinan pada 2022 pemerintah akan membangun lokasi persemaian untuk penghijauan kembali. Penghijauan itu nantinya akan menyasar daerah-daerah hulu dan daerah tangkapan hujan.

Banjir melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) dan tak kunjung surut. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) pekan lalu, kerugian sementara tercatat sebanyak 21.000 unit rumah dan 5 jembatan terdampak, termasuk sejumlah sarana tempat ibadah terendam air. Bahkan, dua warga dikabarkan meninggal dunia akibat banjir bandang dengan ketinggian 3-5 meter tersebut, masing-masing di Kecamatan Tempunak dan Binjai.

Tinggalkan Komentar