Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Ichsanuddin Noorsy: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kemahalan, Duitnya Mengalir ke Siapa?

Rabu, 13 Okt 2021 - 19:35 WIB
Ichsanuddin Noorsy: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kemahalan, Duitnya Mengalir ke Siapa? - inilah.com

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, tak hanya meninggalkan bengkaknya biaya yang berarti utang negara ikut gede. Di kubu lain, China bisa jadi mengoleksi cuan besar.

Pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, menyebut proyek sepur kilat Jakarta-Bandung yang digarap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), jelas-jelas kemahalan. Apalagi di tengah perjalanan, biayanya mengalami bengkak sekitar Rp27 triliun dari Rp86 triliun menjadi Rp113 triliun.

“Menurut hitung-hitungan saya, proyek ini kemahalan. Sudah mahal nambah pula. Ini kan gawat,” ungkap Noorsy saat berbincang dengan Inilah.com, Rabu (13/10/2021).  

Informasi saja, panjang lintasan kereta cepat jurusan Jakarta-Bandung mencapai 142,3 kilometer. Memiliki  empat stasiun pemberhentian yakni  Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar. Ditambah 1 depo di Tegalluar.

Baca juga
Polda Metro Tangkap 48 WNA Asal China dan Vietnam Terkait Pemerasan

“Karena punya empat stasiun, kereta ini menjadi tidak cepat lagi. Jadi dari aspek keterhubungan, ada masalah,” ucapnya.

Selama pengerjaan konstruksi, menurut Noorsy, China mengeruk banyak cuan. Mulai dari keuntungan dari menjual utang. Untuk pembiayaan proyek, China Development Bank memberikan utangan kepada Indonesia dengan bunga 2%, tenor 10 tahun.

Awalnya, kebutuhan biaya diperkirakan US$5,5 miliar, kemudian naik menjadi US$6,1 miliar. Naik lagi menjadi US$8 miliar, atau sekitar Rp113,9 triliun.

“Keuntungan China selanjutnya dari jual teknologi. Ditambah keuntungan dari memindahkan penyusutan (amortisasi) menjadi beban Indonesia,” ungkapnya.

Masih menurut Noorsy, industri China juga kebagian cuan dari proyek ini. Industri besi dan baja, perusahaan konstruksi, perusahaan konsultan hingga pekerja China. Ditambah lagi dari penggunaan kereta cepat generasi terbaru CR400AF.

Baca juga
Pendapatan Naik, Sri Mulyani Pangkas Defisit APBN 2022 Jadi 4,5 Persen PDB

“Tentunya pengadaan dan spare-partnya harus beli dari mereka. lagi-lagi pekerja China bakalan banyak,” ungkapnya.

Ya, Noorsy benar. Karena biaya bengkak maka utang negara ikut bengkak. Di mana, 75% pembiayaan proyek keereta cepat berasal dari utang China Development Bank. Yang bunganya 2%, tenor 10 tahun.

Kalau diasumsikan biaya proyek sebesar Rp113,9 triliun, maka 75% nya setara Rp85,4 triliun. Total bunga pinjaman untuk 10 tahun adalah 20% kali Rp85,4 triliun, menjadi Rp17 triliun. Pemerintah harus siapkan duit Rp,1,7 triliun per tahun, untuk pembayaran bunga pinjaman saja.  

Tinggalkan Komentar