Senin, 16 Mei 2022
15 Syawal 1443

Indef: Mahendra dan Mirza Resmi Pimpin OJK, Tugas Berat Menanti

Indef: Mahendra dan Mirza Resmi Pimpin OJK, Tugas Berat Menanti
Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Peneliti Indef, Izzuddin Al Faraz menilai, literasi keuangan digital di Indonesia perlu digenjot secara masif. Tugas berat OJK yang bakal dipimpin duet Mahendra Siregar dan Mirza Adityaswara.

“Sebagai efek dari perkembangan teknologi digital adalah ketidaktahuan masyarakat terhadap aspek 3L dalam transaksi keuangan digital yakni Legal, Learn, Logic,” papar Izzuddin dalam sebuah diskusi online Indef, dikutip Rabu (13/4/2022).

Dikatakan Izzuddin, legal menyangkut aspek hukum dan sahnya produk atau institusi fintech. Learn, aspek pemahaman di mana masyarakat harus lebih memahami produk keuangan digital, manfaat dan risiko produk keuangan. Logic, soal logis tidaknya produk yang menawarkan laba sekian ratus persen dalam waktu singkat. “Hal-hal itu sayangnya yang tidak diketahui masyarakat. Kelemahan riset mendalam terhadap produk keuangan juga menjadi salah titik lemah,” tuturnya.

Baca juga
Gaduh UMP 2022, Indef Sarankan Pemerintah, Pengusaha dan Buruh Duduk Bareng

Sejatinya, lanjut Izzuddin, literasi digital Indonesia dibandingkan negara-negara anggota G20 berada di peringkat 12. Peringkat literasi produk keuangan pada posisi 38 namun peringakt inklusi keuangan pada posisi 73. Masih perlu banyak pembenahan lintas sektor. “Masyarakat perlu ditingkatkan literasi masyarakat terhadap identifikasi 3L yakni Legal, Learn, Logic terhadap semua produk keuangan terutama produk keuangan digital,” ungkapnya.

Sementara, Pemred Infobank/Associate Indef, Eko B Supriyanto mengatakan, tantangan OJK sungguh berat, terutama di sektor pengawasan IKNB (Institusi Keuangan Non Bank). Untuk sektor pasar modal dan perbankan OJK boleh disebut relatif berhasil karena mampu meningkatkan jumlah investor. “Harga saham juga relatif baik, begitu pula dengan disiplin pasar terhadap para oknum yang nakal. Namun di sektor IKNB< OJK masih harus berkonsentrasi penuh,” tuturnya.

Baca juga
Ingkar Janji di Proyek Kereta Cepat, INDEF: Jangan Percaya China

Suka atau tidak, lanjut Eko, hampir di semua sektor IKNB bermasalah. Ambil contoh, asuransi Bhumiputera yang “hidup segan mati tak mau”. Juga ada likuidasi asuransi Wana Artha, dan soal multi finance dengan debt collector serta Pinjol.

“Tuyul digital juga jadi masalah dengan beberapa variannya. Ada Tuyul Digital (Binary option, aset kripto, money game), Pesugihan online, Begal digital jenis cybercrime dan Rentenir online/pinjol. Itu semua menjadi PR besar OJK saat ini untuk membenahinya,” tuturnya.

Peneliti Indef, Eisha M Rachbini menerangkan, keterbukaan informasi dari kemajuan teknologi digital beserta dampak baik buruknya yang tidak tersaring dengan baik. Poin pentingnya di situ adalah keharusan meningkatkan literasi digital dan literasi keuangan masyarakat ke depan. “Hal itu memang salah satu peran penting OJK saat ini. Tantangan lain adalah soal kewenangan antara OJK dan Bapepi dalam menangangi kejahatan digital di sektor keuangan,” tutur Eisha.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Jumat, 22 April 2022

 

Tinggalkan Komentar