Jumat, 30 September 2022
04 Rabi'ul Awwal 1444

Indef: Rupiah Ambruk Mainan Spekulan, Resesi Ekonomi Masih Jauh

Selasa, 05 Jul 2022 - 19:47 WIB
Indef: Rupiah Ambruk Mainan Spekulan, Resesi Ekonomi Masih Jauh
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto.

Ambruknya nilai tukar rupiah yang nyaris Rp15.000/US$, melahirkan banyak spekulasi. Termasuk isu resesi ekonomi semakin mendekati Indonesia.

Namun, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto mengaku tak yakin bahwa perekonomian Indonesia sudah di ambang resesi. Hanya lantaran rupiah ‘keok’ menghadapi mata uang negeri Paman Sam itu.

Pada penutupan perdagangan Selasa (5/7/2022), rupiah terkulai 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.992/US$ dibandingkan penutupan kemarin sebesar Rp14.972/US$. “Ini memang tren suku bunga global sedang tinggi, sementara Indonesia belum (menaikan). Implikasinya muncul banyak spekulasi yang mengerek naik dolar AS,” papar Eko kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (5/7/2022).

Eko meyakini, perekonomian Indonesia masih jauh dari krisis atau resesi ekonomi. “Kalau resesi untuk Indonesia, risikonya masih kecil. Pertumbuhan ekonomi masih positif, meskipun tidak akan setinggi target pemerintah (5,2%),” ungkapnya.

Baca juga
Hati-hati Rupiah Loyo Pekan Depan, DPR Ingatkan Inflasi Bakal Melejit

Dia mengatakan, semakin tinggi intensitas tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sudah waktunya bagi Bank Indonesia (BI) untuk turun tangan. “BI memang perlu mengambil opsi kenaikan suku bunga acuan secara moderat. Terlebih lagi inflasi di Indonesia juga cenderung naik, meskipun Lebaran telah usai,” ungkapnya.

Selain itu, Eko menilai, BI perlu melakukan operasi (intervensi) pasar untuk stabilisasi nilai tukar. Jangan sampai mata uang Garuda ‘ndelosor’ hingga di atas batas psikologis Rp15.000 per US$.

“Kalau dolar AS semakin mahal, bisa mengganggu stabilitas fiskal. Di mana, asumsi makro APBN 2022, kurs Rp14.350 per dolar AS semakin jauh dari realisasi,” ungkapnya.

Baca juga
Rupiah Masih Loyo Lantaran Sentimen Kenaikan Suku Bunga The Fed

Jika terlambat, katakanlan dolar AS dibanderol Rp15 ribu, maka BI akan lebih sering melakukan intervensi pasar. Situasi ini jelas tidak menguntungkan, karena bakal menggerus cadangan davisa (cadev) dalam jumlah besar. “Oleh karena itu, sedikit kenaikan bunga acuan akan memberi ekspektasi pasar bahwa BI concern dalam menjaga stabilitas, bukan hanya concern terhadap pertumbuhan semata,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Komentar