Selasa, 09 Agustus 2022
11 Muharram 1444

Indeks Persepsi Korupsi Merosot, ICW: Presiden Gagal jadi Panglima Pemberantasan Korupsi

Kamis, 09 Des 2021 - 23:00 WIB
Penulis : Ivan Setyadhi
Whatsapp Image 2021 12 09 At 11.58.21 - inilah.com
Presiden Jokowi Dalam Pidato Hakordia 2021

Presiden Joko widodo (Jokowi) yang dianggap sebagai panglima tertinggi dalam Pemberantasan korupsi dinilai telah gagal.

Di Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2021 ini, Indonesia Corruption Watch (ICW) menjabarkan setiap kemunduran dan kegagalan pemerintah memerangi korupsi di negeri sendiri.

“Sejumlah survei terbaru yang telah dirilis berbagai lembaga telah menggambarkan situasi pemberantasan korupsi di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan,” kata Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo dalam keterangan resminya kepada Inilah.com, Kamis (9/12/2021).

Misalnya, Indeks Perilaku Antikorupsi 2021 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Temuannya menunjukkan adanya peningkatan praktik suap-menyuap yang dilakukan masyarakat saat mengakses pelayanan publik. Hal itu pun diperkuat oleh survei Litbang Kompas yang dirilis beberapa waktu lalu.

Baca juga
Bharada E Jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir J

Setidaknya hampir setengah dari total responden mengatakan perilaku korupsi semakin parah di tengah masyarakat.

“Sedangkan dari sisi negara, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia juga anjlok, baik skor maupun peringkatnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Bahkan, lembaga survei Indikator memberikan peringatan serius atas fenomena menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” bebernya.

Demikian halnya, penanganan pandemi Covid-19 justru dimanfaatkan sejumlah elit politik yang berkelindan dengan pelaku bisnis untuk meraup keuntungan di tengah kemerosotan ekonomi dan peningkatan masalah sosial.

Merosotnya upaya pemberantasan korupsi berimbas pada semakin buruknya pengelolaan etika pejabat publik.

Baca juga
PKS Ketuk Hati Hakim MK Terkait Gugatan Syarat Pencalonan Presiden

“Praktik rangkap jabatan publik, menyatunya kepentingan politik dan bisnis, seperti konflik kepentingan pejabat dalam bisnis PCR dan obat-obatan dalam penanganan pandemi COVID-19 menjadi bukti konkret melemahnya tata kelola pemerintahan,” tegasnya.

Persoalan TWK seakan menjadi bukti teranyar presiden tak ambil tindakan untuk penguatan pemberantasan korupsi.

Pada saat yang sama, masyarakat perlu menyadari bahwa menyandarkan harapan tinggi pada negara untuk memberantas korupsi akan jatuh pada mimpi belaka.

“Celakanya, Presiden tidak mengambil tindakan berarti, meskipun rekomendasi lembaga negara seperti Ombudsman dan Komnas HAM yang menemukan praktik pelanggaran serius atas TWK KPK. Bisa dikatakan, Presiden gagal menjadi panglima besar dalam agenda pemberantasan korupsi,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar