Kamis, 19 Mei 2022
18 Syawal 1443

India Buka Lagi Sekolah Usai Konflik Larangan Memakai Jilbab

Larangan Jilbab

Negara bagian Karnataka di selatan India kembali membuka sejumlah sekolah pada Senin (14/2/2022) setelah ditutup akibat aksi protes pekan lalu yang menentang larangan bagi murid perempuan untuk memakai jilbab di sekolah.

Larangan tersebut dipandang secara luas oleh komunitas minoritas Muslim India sebagai bentuk pengucilan oleh otoritas di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu itu.

Insiden pelarangan terjadi ketika partai Perdana Menteri Narendra Modi, Bharatiya Janata Party (BJP), bersiap untuk memenangi pemilihan di negara-negara bagian penting.

Polisi berjaga-jaga ketika para murid yang berseragam merah muda, belasan di antaranya mengenakan jilbab, memasuki sebuah sekolah negeri khusus perempuan, tempat insiden pelarangan pertama kali terjadi di distrik Udupi, Karnataka, sekitar 400 km dari Bengaluru.

Baca juga
Singapura dan Thailand Selesaikan RCEP, Mendag Lutfi Dorong Negara Lain

Pihak berwenang telah melarang kerumunan lebih dari lima orang dalam radius 200 meter dari sekolah, mulai SD hingga SMA, di daerah tersebut, namun kampus-kampus masih ditutup.

Tindakan itu diambil setelah pengadilan negara bagian meminta para murid untuk tidak mengenakan pakaian keagamaan di dalam kelas sampai ada perintah lebih lanjut.

“Apakah memakai jilbab di dalam kelas adalah bagian dari praktik keagamaan penting dalam Islam yang dijamin konstitusi, memerlukan pemeriksaan lebih mendalam,” kata pengadilan dalam perintah sementara pekan lalu.

Masalah tersebut menjadi sorotan menyusul aksi-aksi protes pekan lalu setelah sejumlah sekolah melarang masuk siswi berjilbab karena dianggap melanggar perintah tentang seragam yang dikeluarkan pemerintah pada 5 Februari lalu.

Baca juga
Interfaith and Islamophobia-04

Ayesha Imthiaz, seorang mahasiswi di Mahatma Gandhi Memorial College di Udupi, mengatakan melepas jilbab sebelum masuk kelas itu memalukan.

Kepada Reuters akhir pekan lalu, Ayesha menyebut bahwa dia merasa agamanya telah dilecehkan dan dihina di tempat yang sudah dia anggap sebagai ‘kuil pendidikan’.

Pradeep Kurudekar S, seorang pejabat Udupi, mengatakan pihak berwenang akan menunggu perintah berikutnya dari pengadilan atau pemerintah sebelum melanjutkan kegiatan belajar.

Isu jilbab telah mengundang dukungan dari pemerintah AS dan peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai bagi perempuan Muslim di India.

Tinggalkan Komentar