https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   11 September 2021 - 04:30 wib

Studi: Kerusakan Organ Paru Terjadi Bagi Penyintas Covid-19

Inersia
berita-headline

(ist)

Beberapa penyintas Covid-19 melaporkan kejadian buruk paskasembuh, salah satunya adalah gejala paru-paru yang memburuk. Apakah ini dampak dari serangan virus corona sebelumnya atau memang penyintas sudah punya faktor risiko tersebut.

Hal ini kemudian dilakukan kajian oleh peneliti di Fakultas Kedokteran Washington University di St. Louis, Amerika Serikat ditemukan pencerahan ihwal bagaimana kerusakan paru-paru berkembang setelah infeksi pernapasan. Infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, juga bisa berdampak bagi paru penyintas.

Beberapa penyintas Covid-19, misalnya, masih mengalami batuk berkepanjangan, kesulitan bernapas, dan sesak napas. Itu merupakan gejala adanya penyakit pada paru.

Terkadang, waktu paling mematikan dalam penyakit pernapasan akibat infeksi virus justru terjadi setelah orang sembuh.

Kerusakan yang terjadi pada organ beberapa pekan setelah virus dikalahkan oleh sistem imun dapat dapat menyebabkan penyakit kronis atau bahkan kematian.

Sebagai bagian dari penelitian yang dipublikasikan di Journal of Clinical Investigation ini, tim Holtzman mempelajari tikus yang terinfeksi virus Sendai.  

Dengan mempelajari tikus, para peneliti menemukan infeksi memicu ekspresi protein yang disebut IL-33. Protein itu diperlukan untuk sel induk di paru-paru tumbuh dengan cepat dan meluber ke ruang udara dan meningkatkan produksi lendir dan peradangan di paru-paru.

Temuan ini mengungkapkan poin potensial intervensi untuk mencegah kerusakan paru-paru kronis yang disebabkan oleh infeksi virus.

"Vaksin, antivirus, terapi antibodi semuanya membantu, tetapi itu bukan solusi untuk orang yang sudah berada di jalan menuju penyakit progresif," kata penulis studi Michael J. Holtzman selaku Profesor Kedokteran Washington University, dikutip dari Times Now News.

Sudah lama diketahui bahwa infeksi saluran pernapasan akut dapat menyebabkan penyakit paru-paru kronis. Menurut Holtzman, dokter sudah semakin baik dalam merawat pasien Covid-19 akut.

"Tetapi apa yang terjadi setelah fase sakit awal itu masih menjadi kendala utama untuk hasil yang lebih baik dan kita belum punya solusinya sementara jutaan orang sudah terinfeksi SARS-CoV-2 dan sebagian mengembangkan penyakit kronis, terutama penyakit pernapasan," ujar Holtzman.

Bahkan Anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan virus pernapasan syncytial, misalnya, dua sampai empat kali lebih mungkin untuk mengidap asma yang bertahan untuk waktu yang lama, bahkan bisa sepanjang seumur hidup. 

Untuk menilai peran IL-33 dalam kerusakan paru-paru pascainfeksi virus, para peneliti memodifikasi tikus secara genetik untuk kekurangan IL-33 dalam set basal sel induk paru-paru. Para peneliti memeriksa jaringan paru-paru dari tikus pada 12 dan 21 hari setelah infeksi virus Sendai. Mereka membandingkan sampel dengan jaringan paru-paru tikus yang tidak terinfeksi.

Para ilmuwan kemudian menginfeksi tikus-tikus itu -- dan sekelompok tikus yang tidak dimodifikasi -- dengan virus Sendai. Kedua kelompok tikus sama-sama efektif dalam melawan infeksi virus Sendai awal.

Tetapi tiga pekan setelah infeksi, paru-paru tikus yang kekurangan IL-33 menunjukkan pertumbuhan sel yang lebih sedikit, lendir, dan peradangan. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki lebih sedikit tanda-tanda perubahan paru-paru yang berbahaya.

Pada tujuh pekan setelah infeksi, tikus tanpa IL-33 dalam sel basal juga memiliki kadar oksigen yang lebih tinggi dalam darah mereka dan lebih sedikit hiperresponsif saluran napas. Keduanya merupakan tanda perbaikan pada penyakit paru-paru kronis.

"Langkah-langkah untuk menargetkan jalur antara IL-33 dan aktivasi sel basal dapat menjadi dasar terapi yang efektif secara luas untuk mencegah atau mengobati penyakit paru-paru yang disebabkan oleh berbagai virus," kata Holtzman seraya menyebutkan bahwa timnya memiliki program terapi penemuan obat untuk menemukan strategi yang sama.

 "Kami sangat senang. Temuan ini menempatkan kami pada landasan yang kuat untuk menemukan terapi yang memperbaiki perilaku buruk sel induk basal," pungkasnya.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Akhir Pandemi Covid-19 Tergantung pada Perilaku Manusia

Pandemi Covid-19 belum berakhir. Virus corona asal Wuhan itu masih ada di muka bumi ini. D
berita-headline

IXU

Kapan Status Endemi Covid-19 Bisa Dicapai di Indonesia?

Kapan Indonesia keluar dari situasi pandemi menjadi endemi covid-19?Jawaban:
berita-headline

Inersia

Tiga Program Utama untuk Target Pengendalian Covid-19

Upaya keras untuk mewujudkan target dan program pengendalian covid-19 terus digenjot. Sud
berita-headline

Inersia

Pandemi Berpotensi Tingkatkan Masyarakat Kurang Aktivitas Fisik

Menurut hasil penelitan Riskesdas 2018 mengatakan 33,5 persen masyarakat masih kurang beraktivita
berita-headline

Viral

Erick Thohir Genjot BUMN Tingkatkan Setoran ke Negara

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta perusahaan pelat merah untuk terus m