https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   14 September 2021 - 00:00 wib

COVID-22, Rumor Sekaligus Kode Keras bagi Umat Manusia

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung 1,5 tahun dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Kini muncul isu COVID-22 sebagai ancaman yang lebih besar dan mematikan. Benarkah ramalan itu atau hanya isapan jempol?

COVID-22 menjadi poin utama di Twitter dan platform media sosial lainnya menyusul laporan peringatan dari salah seorang pakar. Laporan itu berasal seorang profesor Sistem dan Imunologi Sintetis di Universitas ETH Zurich, Sai Reddy, tentang varian COVID yang menular. COVID-22 adalah fase aktual yang digunakan sang profesor saat berbicara dengan surat kabar Swiss-Jerman yang kemudian pernyataannya diambil di luar proporsi.

Terjemahan longgar dari pernyataan profesor menyebutkan, "Ini bukan lagi COVID-19. Saya akan menyebutnya COVID-21." Lebih lanjut, laporan media juga menyatakan bahwa jika program vaksinasi tidak dipercepat, dan mutasi terus menghindari perlindungan, COVID-22 bisa menjadi jauh lebih buruk daripada yang kita bayangkan.

Sejak laporan itu pertama kali keluar, mulai beredar di media sosial dan menjadi viral dalam waktu singkat dan memberi orang-orang, di seluruh dunia, ancaman lain yang perlu dikhawatirkan. Komentar profesor benar-benar menjadi berita utama dan melihatnya sebagai lonceng alarm. Semakin menambah terror ketakutan kita terhadap COVID yang bisa lebih buruk daripada saat ini.

Apakah kemungkinan itu benar? Selama ini mutasi dan varian strain coronavirus, yaitu virus SARS-COV-2 telah dibahas secara luas. Tidak pernah ada diskusi seputar pandemi yang berubah sama sekali atau beralih menjadi lebih ganas menjadi COVID-22.

Kemungkinan-kemungkinan itu hingga saat ini tidak memiliki dukungan ilmiah, selain dari pernyataan yang dibuat oleh profesor tersebut. Meskipun ancaman itu disebut sebagai tipuan media sosial besar, beberapa pendapat ahli dan ilmuwan, melalui laporan tindak lanjut menyebutkan bahwa tidak ada kemungkinan nyata munculnya varian super, atau berubah menjadi sesuatu seperti COVID-22.

Banyak berita tentang COVID-22 juga diklarifikasi sebagai representasi yang terdistorsi berdasarkan tidak ada kredibilitas ilmiah sama sekali. Nama akurat penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-COV-2 ini disebut sebagai COVID-19 dan tidak dapat diubah.

Tidak hanya nama pandemi coronavirus yang berasal dari tahun asalnya (yaitu mulai menyebar dari distrik Wuhan, China menjelang akhir 2019). Tetapi juga angka '22' dalam COVID tersebut tidak memiliki arti penting apapun. Hal ini mengingat kita masih berada di tahun 2021 dan tidak ada cara ilmiah apapun untuk memprediksi apa yang terjadi pada tahun depan. Kecuali sampai wabah ini benar-benar terjadi.

Isu ini kemudian memunculkan klarifikasi dari Profesor Reddy, yang menegaskan bahwa pernyataannya salah dilaporkan. Mengutip Times of India, tidak ada klaim tentang pandemi yang berubah menjadi COVID-22. Menurutnya, dia hanya mengacu pada kemungkinan virus tersebut akan menjadi lebih ganas di tahun depan, jika faktor seperti penularan, varian kekhawatiran, penularan tidak dikendalikan dan vaksinasi tidak diprioritaskan.

"Saya percaya COVID 2022, khususnya awal tahun (Januari-Maret) berpeluang lebih buruk dari tahun ini, COVID 2021," katanya.

Konteks lengkap pernyataan ini katanya, berdasarkan pada faktor-faktor berikut:

1. Munculnya varian Delta yang menunjukkan peningkatan transmisi.

2. Potensi kemunculan dan penyebaran varian yang memiliki mutasi pada protein lonjakan yang dapat menyebabkan pelepasan dari kelas antibodi penetralisir tertentu.

3. Sebagian besar orang yang tidak divaksinasi di Swiss (dan bagian lain Eropa).

4. Pelonggaran pembatasan yang membuat penularan virus lebih mudah (misalnya, makan di dalam ruangan, acara, konser).

Salah satu dari pernyataan Profesor Reddy memang benar, tentang SARS-COV-2 yang berubah menjadi lebih berbahaya jika beberapa faktor tidak dikendalikan. Hal ini seiring dengan kemungkinan munculnya lebih banyak varian yang muncul setelah Beta, Delta, Delta Plus dan kini ada Lambda atau C37, Mu atau B.1621, dan yang paling baru varian C.1.2.

Beberapa ahli epidemiologi juga percaya bahwa dengan penyebaran kasus yang tinggi, menyiratkan bahwa skenario kasus yang lebih buruk adalah belajar untuk hidup dengan virus. Bahkan Presiden Joko Widodo sudah meminta memulai proses transisi dari pandemi ke endemi. Presiden menegaskan bahwa COVID-19 tidak akan hilang dalam waktu dekat, maka dari itu masyarakat harus siap hidup berdampingan dengan virus tersebut.

"Kita harus mulai menyiapkan transisi dari pandemi ke endemi dan juga mulai belajar hidup bersama dengan COVID," ujar Presiden di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat pekan lalu (10/9/2021).

Suka tidak suka, kemungkinan skenario COVID-19 bisa terus berlanjut di tahun 2022. Karena itu semua pihak harus memperlakukan peringatan apa pun sehingga tidak bisa tetap berpuas diri dengan pencegahan dan angka kasus COVID yang menurun. Solusi nyata adalah terus berupaya menghentikan penyebaran dengan 5M dan menggencarkan program vaksinasi di banyak daerah.


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

IXU

Kapan Status Endemi Covid-19 Bisa Dicapai di Indonesia?

Kapan Indonesia keluar dari situasi pandemi menjadi endemi covid-19?Jawaban:
berita-headline

Inersia

Tiga Program Utama untuk Target Pengendalian Covid-19

Upaya keras untuk mewujudkan target dan program pengendalian covid-19 terus digenjot. Sud
berita-headline

Inersia

Pandemi Berpotensi Tingkatkan Masyarakat Kurang Aktivitas Fisik

Menurut hasil penelitan Riskesdas 2018 mengatakan 33,5 persen masyarakat masih kurang beraktivita
berita-headline

Viral

Guru Besar FK UI Sarankan 7 Langkah Penting Atasi Kasus Covid-19 di PON XX Papua

Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX menimbulkan 29 kasus positif covid-19. Sat
berita-headline

Viral

Penerima Vaksin Lengkap COVID-19 di Indonesia Capai 54,9 Juta Orang

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, penerima vaksinasi lengkap COVID-19 (dosis per