https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   16 September 2021 - 13:41 wib

Dirikan Pabrik Baterai Terbesar, Indonesia Siap 'Bermain' di Pasar Mobil Listrik

Inersia
berita-headline

Indonesia Siap Bermain di Pasar Mobil Listrik

Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan groundbreaking pabrik baterai Hyundai-LG di Karawang, Jawa Barat pada Rabu (15/9/2021) kemarin, sejumlah target besar terkait industri mobil listrik Indonesia mulai mengemuka.

Menjadi pabrik baterai mobil listrik pertama dan terbesar di Asia Tenggara, membuat Jokowi yakin Indonesia bakal menjadi produsen utama baterai kendaraan listrik.

"Saya yakin dalam tiga sampai empat tahun, melalui manajemen pengelolaan yang baik, Indonesia akan menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel, yaitu baterai lithium, baterai listrik, dan baterai kendaraan listrik," kata Jokowi, Rabu (15/9/2021), seperti disiarkan di akun Youtube Sekretariat Presiden.

Pabrik baterai yang dibangun berkapasitas maksimal 10 GWh per tahun dan sanggup menyuplai untuk lebih dari 150 ribu unit mobil listrik per tahun. Produk yang dihasilkan berupa sel baterai lithium-ion NCMA yang digunakan khusus untuk mobil listrik platform Electric-Global Modular Platform (E-GMP).

E-GMP bukan cuma digunakan untuk memproduksi mobil listrik Hyundai, tetapi juga Kia. Hyundai Motor Group sudah menargetkan menghasilkan lebih dari 23 model mobil listrik dan menjual 1 juta unit mobil listrik per tahun pada 2025.


Masuk sebagai salah satu negara terbesar penghasil nikel, bahan baku baterai listrik, Indonesia bakal mendapat keuntungan berlipat jika menjual barang jadi hasil nikel. Ini menjadi bukti keseriusan pemerintah atas hilirisasi industri. Strategi negara saat ini keluar secepatnya dari jebakan negara pengekspor bahan mentah, melepaskan ketergantungan produk impor dengan mempercepat revitalisasi industri pengolahan sehingga memberi nilai tambah ekonomi semakin tinggi.

Hilirisasi seperti pembangunan pabrik baterai ini dikatakan Jokowi dapat meningkatkan nilai tambah bijih nikel. Setelah diolah menjadi sel baterai nilainya bisa bertambah 6-7 kali lipat dan jika menjadi mobil listrik dapat meningkat sampai 11 kali lipat.

Groundbreaking pabrik baterai Hyundai-LG ini merupakan kelanjutan dari MoU antara Hyundai dan LG pada 28 Juli lalu yang disaksikan berbagai menteri. Dalam MoU itu telah disebutkan kedua pihak akan mendirikan pabrik di Karawang New Industrial City dengan investasi US$1,1 miliar.

Menurut keterangan resmi Sekretariat Presiden, pabrik baterai ini milik HKML Battery Indonesia.

Rencananya pembangunan pabrik bakal selesai pada awal 2023, kemudian produksi massal dimulai pada awal 2024. Pabrik mobil Hyundai yang sudah berdiri di Indonesia akan mulai memproduksi mobil listrik pada Maret 2022.

Indonesia Siap Produksi Mobil Listrik


Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut bahwa paling lambat Indonesia sudah memproduksi mobil listrik massal pada Mei 2022.

Produksi mobil listrik itu merupakan investasi Hyundai senilai USD1,55 miliar (setara Rp21 triliun) yang ditandatangani pada November 2019 lalu. Meski pandemi Covid-19 melanda sejak 2020, namun perusahaan asal Korea Selatan itu mampu untuk tetap merealisasikan investasi mereka.

"Alhamdulillah tahap pertama mobil listrik yang kita tandatangani November 2019, mulai pembangunannya di 2020 sekalipun pandemi Covid-19. (Pada) 2022 bulan Mei paling lambat, insya Allah sudah produksi. Jadi mobilnya sudah paten. Jadi Insya Allah, (sudah) produksi kita," katanya.

Selain membangun pabrik mobil listrik, perusahaan asal Korea Selatan itu juga membentuk konsorsium yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution untuk bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik (EV) di Karawang, Jawa Barat, dengan total nilai investasi sebesar USD1,1 miliar.

Fasilitas sel baterai yang dimulai pembangunannya pada hari ini rencananya akan memiliki kapasitas produksi sebesar 10 Giga watt Hour (GwH), yang nantinya akan menyuplai kendaraan listrik produksi Hyundai.

Pembangunan pabrik sel baterai dengan kapasitas produksi 10 GwH itu merupakan bagian dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD9,8 miliar (setara Rp142 triliun) yang telah diteken dengan Korea Selatan.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Jangan Lupa Ada Peran PAN Jokowi Bisa Terpilih Presiden

Partai Amanat Nasional (PAN) lahir dari rahim reformasi. Didirikan dengan semangat memperjuangkan
berita-headline

Viral

Perludem Sebut Tim Pansel KPU-Bawaslu Tak Sesuai UU

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyebut adanya ketentuan yang tidak sesuai den
berita-headline

Viral

Bila Terjebak Utang China, Indonesia Bisa Seperti Sri Langka, Maladewa dll

Tak cuma Indonesia, utang terselubung juga menjerat banyak negara. Bahkan di
berita-headline

Inersia

Ekspansi ke Sektor Otomotif, Xiaomi Daftarkan Unit Bisnis EV

Salah satu raksasa teknologi China, Xiaomi, dilaporkan telah menyelesaikan pendaftaran unit bisni
berita-headline

Viral

Jokowi Tegur Kapolri Gegara Mural Viral

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku keberatan dengan tindakan aparat yang berlebihan menghadapi