https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   21 September 2021 - 02:03 wib

Paus Purba Berkaki Empat Pernah Jelajahi Darat dan Lautan

Para arkeolog menemukan fosil paus kuno yang diperkirakan berusia 42,6 juta tahun. Berbeda dari paus yang biasanya hidup di laut, paus dengan panjang 13 kaki atau sekitar 4 meter ini juga bisa berjalan di darat karena memiliki kaki.

Ahli paleontologi telah mencatat penemuan nenek moyang paus ini, yang kerangkanya ditemukan di Peru pada 2011, dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology.

Spesies paus ini dinamakan Peregocetus pacificus, yang berarti 'paus pengelana yang mencapai Pasifik' dalam bahasa Latin, temuan baru-baru ini membalikkan pemahaman para ilmuwan tentang bagaimana makhluk-makhluk ini berevolusi dan menyebar ke seluruh dunia jutaan tahun yang lalu.

"Ini adalah rekor tak terbantahkan pertama dari kerangka paus berkaki empat untuk seluruh Samudera Pasifik," kata penulis studi Olivier Lambert, seperti dikutip Ancient Archeology.

Paus purba ini bisa berjalan dan berenang. Peregocetus pacificus memiliki empat kaki, dengan kuku kecil di ujung jari tangan dan kaki. Bersama dengan orientasi tulang pinggul dan kakinya, menunjukkan bahwa nenek moyang paus ini bisa bermanuver di darat.



Namun, ekor dan kaki berselaputnya menunjukkan bahwa Peregocetus pacificus juga bisa berenang dengan baik, seperti halnya berang-berang modern. Jadi Lambert dan rekan-rekannya mengategorikan makhluk itu sebagai amfibi yang artinya bisa hidup sebagian di air dan sebagian di darat.

Tulang ekor Peregocetus pacificus tampak mirip dengan berang-berang, menunjukkan bahwa anggota badan memainkan peran besar dalam berenang.

Sayangnya, tulang dari ujung ekor Peregocetus pacificus hilang, sehingga para peneliti tidak dapat menentukan apakah ia memiliki kebetulan ekor yang berkembang dengan baik seperti yang dimiliki paus modern untuk membantu mendorongnya melewati air.

Meski demikian, para ilmuwan meyakini bahwa paus sirip besar saat ini berevolusi dari nenek moyang kecil berkaki empat di Asia Selatan lebih dari 50 juta tahun yang lalu. Fosil dari salah satu paus berkaki empat tertua yang hidup 53 juta tahun lalu ditemukan di India.

Makhluk purba kemungkinan besar bermigrasi ke barat dari Asia ke Afrika, dan kemudian berenang melintasi Atlantik sampai mereka mencapai pantai Amerika.

Sampai sekarang, ahli paleontologi memperkirakan paus purba ini hanya berhasil sampai ke Amerika Utara, dan tidak tersesat ke selatan.

Ini adalah pertama kalinya nenek moyang paus berkaki empat ditemukan di Amerika Selatan. Menurut penulis penelitian, Peregocetus pacificus mungkin juga paus berkaki empat tertua yang ditemukan di benua Amerika.



Nenek moyang paus dengan empat kaki cukup banyak dalam catatan fosil Amerika Utara. Para peneliti menemukan nenek moyang paus berusia 41,2 juta tahun di lepas pantai Carolina Selatan pada tahun 2014 lalu. Hal ini membuat para ilmuwan berhipotesis bahwa paus amfibi kemungkinan mencapai Amerika Utara setelah meninggalkan pantai barat Afrika.

Akan tetapi, penemuan Peregocetus pacificus yang 1,4 juta tahun lebih tua dari fosil Carolina Selatan di Peru menunjukkan bahwa hewan itu mungkin benar-benar telah tiba di Amerika Selatan sebelum menyebar ke Amerika Utara.

Jadi, penulis penelitian menyarankan bahwa bertentangan dengan gagasan sebelumnya, Peregocetus pacificus dan nenek moyang paus lainnya kemungkinan melakukan perjalanan dari Afrika ke Amerika Selatan.

Jarak antara mereka jauh lebih kecil selama era di mana Peregocetus pacificus hidup yakni periode yang disebut Eosen tengah. Pada saat itu, jarak antara Amerika Selatan dan Afrika sekitar setengah dari jarak sekarang.

Selama periode Eosen, Amerika Utara dan Selatan juga dipisahkan oleh lautan, yang menciptakan saluran dari Atlantik ke Samudra Pasifik. Jadi para peneliti sekarang berpikir bahwa paus berkaki empat memotong celah antara Amerika ini kemudian melakukan perjalanan ke utara.

[sumber: National Geographic]

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Ilmuwan Simulasikan Kehidupan di Planet Mars pada Kawah Ramon Israel

Sejumlah ilmuwan dari Austria dan Israel melakukan simulasi kehidupan di Planet Mars pada Kawah R
berita-headline

Inersia

Ilmuwan Ciptakan Materi yang Bisa Pindahkan dan Blokir Panas

Para ilmuwan di University of Chicago, AS, telah menemukan cara baru untuk menyalurkan panas pada
berita-headline

Viral

Fosil Hewan Ditemukan di Waduk Saguling

Tim dari Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) menemukan fakta keberadaan
berita-headline

Inersia

COVID-22, Rumor Sekaligus Kode Keras bagi Umat Manusia

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung 1,5 tahun dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Kini muncul
berita-headline

Viral

Peluang Selidiki Asal-Usul COVID-19 Hampir Tertutup

Peluang untuk melakukan studi penting tentang awal mula pandemi COVID-19 hampir tertutup, kata pa