https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   21 September 2021 - 14:09 wib

Awas Parkinson, Legenda Tinju Muhammad Ali Jadi Korbannya

Kalau Anda hobi tinju tentunya pernah mendengar nama Muhammad Ali. Legenda tinju dunia bernama asli Cassius Marcellus Clay Jr itu, 30 tahun menderita parkinson. Pada 3 Juni 2016, Ali meninggal di umur 74 tahun. 

Penyakit parkinson yang diderita Ali, mengobrak-abrik kemampuan pengucapan dan memperlemah fisiknya. Perlahan, parkinson mematikan kontrol terhadap otot petinju yang masuk Islam pada 1964 itu.

Jangan kaget kalau melihat penderita parkinson itu, tangannya sering gemetar (tremor), bicaranya lamban. Diduga karena terjadi kerusakan pada selaput (membran) di dalam otak.

Besar kemungkinan, parkinson yang diderita juara dunia tinju kelas berat tiga kali ini, lantaran trauma (cedera) di otak. Akibat benturan (pukulan) berulang yang memantik kerusakan saraf. Namun pihak keluarganya membantah. Mereka mengklaim parkinson ali dipantik faktor genetik dan keracunan pestisida.

Awalnya, para ahli menyebut penyakit itu sebagai sindrom demensia pugilistica. Dunia kedokteran modern mengenalnya sebagai encehpalopaty trauma kronik (CTE). Kini, para ilmuwan semakin memahami bagaimana trauma pada otak, bisa memicu parkinson serta penyakit otak lainnya, seperti Alzheimer.

Sejumlah riset menyimpulkan, benturan atau  trauma berulang pada kepala merupakan faktor risiko parkinson.
Namun kala itu, dr Michael Okun, direktur medis National Parkinson Foundation, mengatakan, masih ada jurang pengetahuan antara parkinson dengan tinju.

Para ilmuwan belum memahami dengan utuh bagaimana pembentukan protein di otak, yang memicu beberapa penyakit otak, bisa terjadi ketika otak cidera. Memang tidak ada jawaban tunggal untuk menjelaskan bahaya tinju pada otak.

Ada kemungkinan cidera kepala akan memperbesar atau memperburuk masalah yang sudah lebih dulu ada. Kondisi itu mempercepat timbulnya parkinson, seperti halnya paparan pestisida.

Muhammad Ali sendiri sudah menunjukkan gejala-gejala parkinson, misalnya gerakan yang tidak terkoordinasi atau bicara tidak jelas, sebelum pertandingan terakhirnya. Boleh jadi pukulan yang mengenai kepalanya memperburuk kerusakan yang sudah terjadi di otaknya.

Untuk menjawabnya memang dibutuhkan penelitian pada jaringan otak dari orang-orang seperti Ali, yang mengalami trauma kepala berulang dan sakit parkinson. Sayangnya, riset semacam itu belum pernah ada.

Yang pasti, selain dipuja sebagai pesohor olahraga paling menghibur, Ali juga meninggalkan warisan lain pada dunia, yaitu meningkatkan kepedulian dunia pada penyakit parkinson.

Gejala Parkinson

Penyakit Parkinson adalah penyakit saraf yang memburuk secara bertahap dan memengaruhi bagian otak yang berfungsi mengoordinasikan gerakan tubuh. Akibatnya, penderita kesulitan mengatur gerakan tubuhnya, termasuk saat berbicara, berjalan, dan menulis.

Dan, penyakit parkinson memburuk secara bertahap, seiring berjalannya waktu. Ada lima 5 tingkatan (stadium) yang bakal dilalui penderitanya.
Stadium 1: gejala penyakit Parkinson tergolong ringan dan tidak mengganggu aktivitas penderita.
Stadium 2: jangka waktu perkembangan penyakit Parkinson dari stadium 1 ke stadium 2 berbeda pada tiap penderita. Bisa dalam hitungan bulan atau tahun. Pada tahap ini, gejala mulai terlihat.
Stadium 3: ditandai dengan gejala yang makin jelas terlihat. Gerak tubuh mulai melambat, dan mulai mengganggu aktivitas penderita.
Stadium 4: penderita mulai kesulitan berdiri atau berjalan. Gerak tubuh penderita akan semakin melambat, sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk menunjang aktivitasnya.
Stadium 5: penderita sulit atau bahkan tidak bisa berdiri. Penderita juga dapat mengalami waham (delusi) dan halusinasi.





Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan