https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   24 September 2021 - 13:06 wib

Mengenal Ki Ageng Gribig, Penasihat Sultan Agung, Pejuang Islam di Tanah Jawa, dan Tradisi Saparan

Inersia
berita-headline

Peziarah di makam Ki Ageng Gribig (ist)

Ki Ageng Gribig sebagai seorang tokoh agama yang tak kenal lelah dalam mensyiarkan ajaran Islam di Tanah Jawa.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, cicit dari Ki Ageng Gribig mengungkapkan, leluhurnya itu diketahui juga seorang penasihat Sultan Agung.

"Ki Ageng Gribig atau yang bernama asli Wasibagno Timur adalah ulama besar yang menyebarkan Islam di Desa Krajan, Jatinom, Klaten dan sekitarnya. Ia juga dikenal masih keturunan dari Raja Majapahit, Brawijaya V," kata Airlangga dalam acara Haul Ki Ageng, Kamis malam (23/9/2021).

Menko Perekonomian itu menyebut, ketokohan dari seorang Ki Ageng Gribig itu harus menjadi contoh dari setiap umat muslim di Indonesia. 

Airlangga mengungkapkan, cucu dari Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit itu merupakan seorang alim ulama yang terkenal dermawan dan tak pernah pelit untuk membagikan ilmu serta harta yang dimilikinya. 

"Saat hidup dia adalah menjadi amir tanah perdikan di Jatinom. Dia adalah penasihat spiritual Raja Mataram Sultan Agung. Atas jasanya Kiai Ageng Gribig dianugerahi putri adik sinuhun bernama Raden Ayu Mas sebagai istrinya," papar Airlangga.

Selain itu, dia juga diberi kebebasan untuk memilih rumah yang akan ditempati bersama keluargannya. Namun karena sikap rendah hati yang tertanam, Ki Ageng Gribig memutuskan untuk tetap tinggal di Klaten. 

"Hanya saja Ki Ageng Gribig memilih tinggal di Klaten untuk mengerjakan kerja dakwah. Ki Ageng Gribig berhasil menjadikan Jatinom pusat penyebaran Islam di Jawa," kata dia.

Airlangga menyebut, Ki Ageng Gribig memiliki ciri khas dalam berdakwah dan hingga kini selalu dikenang oleh masyarakat di Klaten. Salah satu metodenya yaitu dengan membagikan kue dan sembari mengucapkan kalimat 'Ya Qowiyyu' dan seterusnya, sebagai doa untuk meminta kekuatan kepada Allah. 

Oleh masyarakat, kue ini kemudian dikenal dengan nama kue apem, saduran dari Bahasa Arab, Affan, yang memiliki makna dan filosofi sebagai permohonan ampunan kepada Allah.   

Tradisi pembagian kue apem inilah yang kemudian secara rutin dilaksanakan Ki Ageng Gribig, dan kemudian dilanjutkan pula oleh para muridnya dan masyarakat Jatinom sampai saat ini. 

Dari penyebutan kata 'Ya Qowiyyu' ini pula, tradisi Saparan (bulan Safar) di Jatinom juga disebut masyarakat dengan nama tradisi 'Ya Qowiyyu'.    

Peringatan Haul pada momen Saparan ini, kemudian berkembang beberapa rangkaian kegiatan seperti kirab budaya, lomba panahan, dan peringatan haul Ki Ageng Gribig.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

PPKM Luar Jawa-Bali Juga Diperpanjang Dua Pekan

Pemerintah juga memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per le
berita-headline

Viral

Jejak Usaha Anak Mantan Menteri Perindustrian Terlama di Zaman Orba, Airlangga

Tidak mudah menelusuri perusahaan-perusahaan milik Ketua Umum Golk
berita-headline

Viral

6 Daerah Luar Jawa-Bali Masih Level 4

Pemerintah telah menetapkan seluruh wilayah Jawa-Bali tidak ada lagi yang menerapkan Pemberlakuan Pe
berita-headline

Viral

DPR Akan Tanyakan ke Luhut dan Airlangga Soal Pandora Papers

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) akan menanyakan ke Menteri Koordinator Kemari
berita-headline

Viral

Airlangga: Penonton Superbike Mandalika 25.000 Orang dan Sudah Vaksin Lengkap

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah me