https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   28 September 2021 - 21:08 wib

Herd Immunity COVID-19, Masihkah Relevan?

Evolusi virus begitu cepat. Tak ada yang menyangka akan terjadi banyak mutasi selama periode waktu singkat. Varian Delta selama ini mendominasi dunia dengan dua kali lebih mudah menular, bisa tergeser varian baru, seperti munculnya varian Mu atau R.1. Lalu apakah herd immunity masih relevan?

Herd immunity atau kekebalan kawanan adalah ketika seseorang yang terinfeksi virus rata-rata tidak akan menginfeksi orang lain. Jadi Anda mencapai keadaan di mana kekebalan dalam populasi terhadap infeksi virus sedemikian rupa sehingga hanya ada sedikit orang di lingkungan untuk penularan berkelanjutan kepada orang lain.

Ini karena mereka telah mengembangkan kekebalan terhadap infeksi. Baik melalui infeksi sebelumnya atau melalui vaksinasi sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi. Tetapi kondisi saat ini telah memaksa perubahan dalam pemikiran kita tentang kekebalan kelompok.

Pemerintah Indonesia terus menggencarkan vaksinasi COVID-19 untuk membentuk kekebalan kelompok ini. Indonesia memiliki target untuk memvaksinasi 77 persen dari jumlah populasi penduduk Tanah Air atau 208,2 juta orang. Oleh karena itu, percepatan vaksinasi kepada masyarakat pun sangat dibutuhkan untuk segera mencapai hal tersebut.

Hanya saja, mutasi virus ini tak bisa kita duga, bisa menjadi lebih menular dan lebih mampu menghindari respons imun. Artinya, herd immunity bukan lagi diskusi yang seharusnya dilakukan dunia. Istilah itu akan sulit terwujud dalam konteks penyakit COVID-19 ini. Telah terjadi kesalahpahaman bahwa beragam upaya untuk memerangi virus ini saat ini sudah dianggap cukup untuk menghilangkan virus. Termasuk mengejar target herd immunity tadi.

Menjajakan konsep kekebalan kawanan menciptakan kesalahpahaman bahwa kita sebenarnya akan sampai ke tahap di mana virus ini hilang. Itu tidak mungkin terjadi mengingat virus akan terus beredar dengan beragam mutasinya.

Sebaliknya kita harus berbicara tentang bagaimana hidup dengan virus. Keberhasilan luar biasa yang diwujudkan dengan vaksin COVID-19 memungkinkan kita melakukan ini, tanpa benar-benar masuk ke ambang batas kekebalan kelompok.

Apa yang terjadi jika terlalu percaya dengan herd immunity?

Ada sejumlah bahaya jika terus membuat orang percaya bahwa herd immunity adalah mungkin.

Pertama, itu bisa merusak kepercayaan pada vaksin. Bahkan jika Afrika Selatan mencapai target 67 persen dari populasi yang divaksinasi, seperti yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan, masih akan ada wabah COVID-19.

Akibatnya, orang-orang mulai meragukan manfaat dari vaksinasi. Juga, untuk varian Delta yang sekarang dominan, kekebalan terhadap infeksi (tidak hanya penyakit COVID-19) harus mendekati 84 persen agar ambang batas 'kekebalan kawanan' dapat tercapai.

Kedua, kegagalan menghadapi kenyataan bahwa kekebalan kelompok tidak dapat dicapai akan berarti bahwa negara-negara seperti Afrika Selatan akan terus percaya bahwa pembatasan yang sedang berlangsung akan membawa mereka ke sana. Itu akan membahayakan kehidupan orang-orang di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan mata pencaharian.

Perubahan kondisi virus

Virus COVID-19 selain berbahaya juga unik. Perubahannya sangat cepat, jauh lebih cepat dari antisipasi medis dan penelitian tentang pembaruan vaksin. Bagaimana kondisi perubahan virus ini?

1. Varian baru bisa lebih menular

Varian Delta hanyalah contohnya. Awalnya semua mengira tingkat reproduksi SARS-CoV-2 adalah antara 2,5 dan 4. Dengan kata lain, dalam populasi yang sangat rentan setiap satu orang yang terinfeksi rata-rata akan menginfeksi sekitar dua setengah hingga empat orang lainnya.

Tapi, varian Delta setidaknya dua kali lipat lebih menular. Itu berarti bahwa tingkat reproduksi varian Delta mungkin lebih dekat ke enam daripada tiga.

2. Lebih menyerang kekebalan tubuh

Virus telah menunjukkan kemampuan untuk memiliki mutasi yang membuatnya resisten terhadap aktivitas penetralan antibodi yang disebabkan oleh infeksi sebelumnya serta respons antibodi yang disebabkan oleh sebagian besar vaksin COVID-19 saat ini.

3. Ketahanan perlindungan

Respons memori kita terhadap virus bertahan setidaknya selama enam hingga sembilan bulan saat ini. Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka akan melindungi kita dari infeksi dari varian baru lagi yang berkembang.

4. Distribusi vaksin tidak merata

Isu keempat yang menghalangi kita untuk dapat mencapai ambang kekebalan kawanan dalam waktu dekat adalah distribusi vaksin yang tidak merata di seluruh dunia. Penyerapan juga lambat, dan penyebaran vaksin yang tidak merata.

5. Lintas negara tetap terbuka

Tidak ada negara yang mengunci perbatasannya terus-menerus. Ini berarti seluruh populasi global perlu mencapai putaran ambang batas yang sama pada waktu yang hampir bersamaan.

Saat ini hanya 1 persen dari populasi negara-negara berpenghasilan rendah yang telah divaksinasi. Dan 27 persen dari populasi global.

Dengan varian Delta saja, kita perlu mendekati 84% populasi global yang mengembangkan perlindungan terhadap infeksi (tanpa adanya intervensi non-farmakologis) dalam periode waktu sesingkat mungkin.

Belajar hidup dengan virus

Satu-satunya solusi berkelanjutan adalah belajar hidup dengan virus. Hal ini membutuhkan mayoritas individu, terutama orang dewasa, dan khususnya mereka yang berisiko lebih tinggi terkena COVID-19 parah mendapat vaksinasi secepat mungkin.

Kita baru bisa merasa nyaman dengan gagasan bahwa SARS-CoV-2 akan menjadi seperti salah satu dari banyak virus lain yang beredar yang menyebabkan penyakit pernapasan setiap hari. Biasanya infeksi ringan, dan lebih jarang penyakit parah.

Tentunya dengan pengobatan seperti yang saat ini lakukan. Namun sayangnya, masih akan ada saja orang yang akan meninggal karena COVID-19, meskipun angkanya tidak terlalu besar.

Kita hanya bisa menggantungkan harapan kepada para ilmuwan untuk mengatasi COVID ini. Tidak hanya memperbarui vaksin sehingga bisa menahan serangan varian baru atau memperbanyak vaksinasi hingga ke pelosok dunia, tetapi juga mendapatkan metode pengobatan yang taktis untuk membunuh virus. Dengan menyediakan obat-obatan yang efektif dan terjangkau. Semoga.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Penerima Vaksin Lengkap COVID-19 di Indonesia Capai 54,9 Juta Orang

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, penerima vaksinasi lengkap COVID-19 (dosis per
berita-headline

Viral

Waspada Adanya Varian Baru Covid-19

Sekitar 98 persen virus Covid-19 yang beredar di Indonesia adalah
berita-headline

Viral

Penerima Vaksinasi COVID-19 Dosis Lengkap di Indonesia Capai 57,6 Juta Orang

Jumlah penerima vaksinasi COVID-19 dengan dosis lengkap (dua kali suntikan) di Indonesia mencapai
berita-headline

Viral

Sudah 42,5 Juta Warga Indonesia Peroleh Vaksin Lengkap

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mencatat bahwa hingga hari ini, Selasa (14/9/2021), sebanyak 42.
berita-headline

Viral

Anies: Nol Kematian Akibat COVID-19 di Jakarta dalam 24 Jam Terakhir

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan tidak ada kasus kematian pasien positif COVID-19