https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   30 September 2021 - 17:04 wib

Simsalabim... Dilapisi Cat Ajaib, Kapal TNI 'Hilang' dari Radar

Inersia
berita-headline

Dengan cat ajaib antiradar, Wisnu berhasil 'menghilangkan' kapal dari jangkauan radar

Sebelum diuji coba, satu kapal berbahan besi berdimensi 2x1 meter dilapisi cat ajaib anti radar. Satu kapal lainnya dibiarkan apa adanya.

Setelah selesai pelapisan, kedua kapal lalu ditarik berjejer dengan kapal pemandu milik TNI-AL. Urutannya, kapal pemandu, kapal dengan cat penyerap gelombang radar, dan terakhir kapal dengan cat biasa.

Hasilnya, dari yang seharusnya mendeteksi tiga kapal berjalan, yaitu kapal pemandu dan dua kapal besi, ternyata yang terdeteksi radar hanya dua objek, kapal yang dilumuri cat antiradar lolos dari pemantauan. Cat ajaib bekerja dengan sempurna.

Belum puas dengan hasil tersebut, pengujian berikutnya dilakukan. Kapal dengan cat antiradar dikesampingkan dulu. Hasilnya, radar mendeteksi dua kapal atau objek. Kemudian, diganti lagi formasinya: hanya kapal pemandu dan kapal bercat antiradar."Ternyata benar, yang terdeteksi radar hanya kapal pemandu," ungkap Wisnu Ari Adi.

Yak, Wisnu Ari Adi adalah orang dibalik cat ajaib antiradar. Pria kelahiran Malang, 13 Desember 1971 itu merupakan profesor riset di lingkungan BRIN (Badan Riset dan Ino­vasi Nasional).

Wisnu lega karena akhirnya kapal besi yang dibalut ‘cat ajaib’ tersebut benar-benar hilang dari pantauan radar milik TNI-AL. Kapal itu pun bisa disebut kapal siluman seperti milik sejumlah negara maju. Hasil pengujian tersebut memperkuat pengujian sebelumnya yang ia lakukan pada 2019. Saat itu satu unit kapal patroli keamanan laut (patkamla) berukuran 15 meter dilapisi cat antiradar.

Total yang ia habiskan lebih dari 1 ton. Dan, dibutuhkan waktu 15 hari untuk melakukan pengecatan. Waktu yang dibutuhkan cukup lama lantaran pengecatan dilakukan secara manual dengan menggunakan spray. Kemudian, pengecatan dilakukan dengan cara berla­pis-lapis atau layer. Dengan ketebalan sekitar 3 milimeter.

Dalam pengembangan risetnya, Wisnu berupaya menghasilkan kemampuan menyerap gelombang radar yang maksimal dengan lapisan cat setipis-tipisnya agar bisa lebih efisien.

Lulusan program magister dan doktor di Universitas In­donesia (UI) itu menceritakan, penelitian cat penyerap gelombang radar dimulai sejak 2010. Kemudian, formulasi yang maksimal dalam menyerap gelombang radar ditemukan pada 2017. Hasil penyerapan optimal yang didapatkan Wisnu berada di angka 90 per­sen."Inovasi ini sebelumnya saya jadikan topik disertasi di material sains UI," kenangnya.

Dia mendapatkan teori bahwa ada dua faktor yang memengaruhi gelombang radar: intrinsik dan ekstrinsik.

Faktor ekstrinsik terkait dengan bentuk atau geometri dan ketebalan sebuah objek. Dengan bentuk atau geometri yang dibuat sedemikian rupa, sebuah objek bisa mengacaukan gelombang radar. Gelombang radar menjadi semburat ke mana-mana dan tidak terpantul lagi ke perangkat penerima pantulan gelombang radar.

Wisnu mencontohkan, hampir semua jenis pesawat militer siluman punya bentuk yang  aneh-aneh. Memiliki banyak sisi atau lekukan-lekukan. Misalnya, pesawat F-117 Nighthawk milik Amerika Serikat. "Bentuk yang aneh itu bukan gaya-gayaan, melainkan untuk memancarkan pantulan gelombang radar ke mana-mana," jelasnya.

Sementara itu, faktor intrinsik berupa internal material yang mampu menyerap gelombang radar.

Wisnu menjelaskan bahwa cat antiradar itu masuk kategori faktor intrinsik. Bahan utama pembuat cat antiradar tersebut berasal dari salah satu hasil ekstraksi logam tanah jarang, yaitu lantanum. Logam tanah jarang ketika diekstraksi menghasilkan banyak kandungan.

Selain lantanum, ada juga serium dan neodimium. Wisnu memilih kandungan lantanum karena logam itu memiliki kandungan mineral paling besar jika dibandingkan dengan hasil ekstraksi lainnya. Bahan baku lantanum itu kemudian disintesiskan dengan bahan lainnya untuk memperkuat khasiat menyerap gelombang radar.

Dengan pertimbangan paten dan lainnya, Wisnu menyampaikan nama kandungan itu saja yang digunakannya. Sementara, dia meminta formulasi campuran dengan material lainnya tetap dirahasiakan. Sebab, inovasi itu cukup strategis untuk sistem pertahanan nasional.

Bahan akhir berupa serbuk. Untuk mengetahui seberapa kuat kemampuan menyerap gelombang radar, dia menggunakan fasilitas neutron scattering. Alat itu cukup langka karena beroperasi dengan memanfaatkan tenaga dari reaktor nuklir.

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas neutron scattering."Cara kerjanya hampir mirip CT scan untuk manusia," katanya.

Untuk sampai berwujud cat, bahan baku yang semula berupa serbuk dicampur dengan polimer. Percampuran itu tentu berdampak pada kualitas penyerapan gelombang radar. Namun, dia bisa menjaga serapan gelombang radar tetap optimal.

Wisnu menargetkan, pada 2023, produk cat antiradar itu bisa dikomersialkan. Sebab, dia sudah terikat kontrak pendanaan riset dengan Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP). Saat ini Wisnu sudah bermitra dengan perusahaan penghasil pigmen. Kemudian, dia juga sudah menggandeng PT Sigma untuk produksi akhir cat.

Penggunaannya sangat terbuka luas. Di antaranya, PT PAL dan Pindad. Perusahaan-perusahaan itu selama ini sering memproduksi kendaraan tempur untuk militer atau kepolisian.

Selain itu, Wisnu mengungkapkan bahwa cat antiradar ke depan juga bisa dipadukan dengan tekstil. Termasuk dikombinasikan dengan tenda."Bisa digunakan untuk membuat tenda siluman yang tidak terpantau radar musuh. Jadi, prajurit bisa aman berada di dalamnya," pungkasnya.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan