https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   01 October 2021 - 09:33 wib

Indonesia Alami Kenaikan Kematian Akibat Penyakit Jantung di Masa Pandemi

Inersia
berita-headline

istimewa

Pandemi covid-19 yang berlangsung sejak akhir tahun 2019 menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang dengan penyakit jantung.

Hal tersebut mengingat paparan infeksi apapun termasuk infeksi covid-19 dapat mencetuskan perburukan dari penyakit kardiovaskular seperti terjadinya kekambuhan penyakit jantung coroner atau gagal jantung menahun, bahkan lebih mudah terjadi kematian pada pasien covid yang memiliki penyakit jantung dibandingkan tanpa penyakit jantung.

Laporan rata-rata Rumah Sakit (RS) dimasa pandemi menunjukkan bahwa 16,3 persen pasien yang dirawat dari ruang isolasi covid ternyata mempunyai penyakit bawaan (komorbid) atau koinsiden penyakit kardiovaskular.

Di masa sebelum pandemi dilaporkan bahwa laju rerata mortalitas di RS akibat serangan jantung adalah 8 persen, namun di masa pandemi, angka ini dilaporkan meningkat hingga 22-23 persen.

Dalam rangka memeringati Hari Jantung Sedunia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyoroti pentingnya menjaga kesehatan jantung dengan bantuan inovasi dan perubahan teknologi dan digital yang ada.

“Inovasi digital telah membantu masyarakat yang sehat maupun yang sakit di masa pandemi untuk mendapatkan akses kesehatan dengan mudah, layanan konsultasi secara online, edukasi kesehatan, dan pemantauan capaian aktifitas fisik dan olahraga, serta layanan antar obat-obatan ke rumah,” kata DR. dr. Isman Firdaus Sp.JP (K), Jakarta, Jumat, (01/10/2021).

Dr Isman juga mengatakan bahwa kemajuan teknologi informasi dan digital ini juga diikuti dengan keprihatinan PERKI akan misinformasi (hoaks) dan disinformasi mengenai kesehatan yang beredar di dunia maya, terutama terkait kesehatan jantung yang disebarluaskankan oleh media-media sosial dan hal ini perlu diluruskan.

Selain inovasi teknologi dan digital, PERKI juga mengangkat isu kesadaran semua pemangku kepentingan (stakeholder) di bidang kesehatan termasuk organisasi profesi, organisasi masyarakat, dan juga pemerintah untuk bahu membahu bersama-sama membangun kesehatan masyarakat terutama dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit kardiovaskular di Indonesia.

Salah satu bukti kolaborasi ini antara lain melalui Jaminan kesehatan nasional (JKN) yang sebagai sistem kesehatan di Indonesia telah terbukti memberikan dukungan dan manfaat yang sangat besar terutama untuk penanggulangan penyakit kardiovaskular.

“Menjalin silaturahmi komunikasi  bersama organisasi profesi lain dan organisasi masyarakat, yang secara langsung berhadapan dengan pasien kardiovaskular, menjadi salah satu langkah penting dan strategis agar penanggulangan penyakit kardiovaskular di Indonesia tertangani dengan baik,” kata Dr. dr. Dafsah Arifa Juzar, Sp.JP(K), Sekjen Pengurus Pusat PERKI.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Penerima Vaksin Lengkap COVID-19 di Indonesia Capai 54,9 Juta Orang

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, penerima vaksinasi lengkap COVID-19 (dosis per
berita-headline

Inersia

Tips untuk Orangtua Siapkan Kesehatan Fisik dan Mental untuk Anak

Pada masa uji coba PTM (Pertemuan Tatap Muka), anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk pendidika
berita-headline

IXU

Apakah Virus Corona Bisa Menular Lewat Makanan?

Covid-19 belum ada tanda-tanda hilang dari muka bumi. Kebutuhan untuk belanja makanan sehari-h
berita-headline

Viral

Antisipasi Sebaran Kasus Covid-19 Usai Gelaran PON Papua XX

Perhelatan PON Papua XX telah usia. Terdapat sekitar 83 orang terkonfirmasi positif Covid-19 saat
berita-headline

IXU

Kapan Status Endemi Covid-19 Bisa Dicapai di Indonesia?

Kapan Indonesia keluar dari situasi pandemi menjadi endemi covid-19?Jawaban: