https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   03 October 2021 - 06:35 wib

Terlilit Utang Segunung, Raksasa Properti China Evergande Terancam Runtuh?

Inersia
berita-headline

Kantor Pusat Evergrande di China

Sebuah perusahaan gagal bayar utang, bangkrut lantas tutup sepertinya hal biasa dalam dunia usaha. Namun apa jadinya jika sebuah perusahaan yang gagal membayar utang dan terancam bangkrut, bisa membahayakan perekonomian global?

Inilah Evergrande, perusahaan raksasa properti China yang mengalami krisis keuangan hingga beresiko mengalami gagal bayar yang beritanya sampai mengancam ekonomi global.

Sepekan terakhir pasar keuangan dunia diramaikan dengan munculnya kabar potensi default atas raksasa properti asal China, Evergrande Group. Perusahaan ini dikabarkan terancam gagal membayar utang senilai USD 300 miliar sekitar Rp 4.275 triliun!! Wow.

Kalau dibanding, utang Indonesia saat ini berada di angka Rp6.570 triliun. Tapi ini utang negara. Sedang Evergrande hanya satu grup perusahaan properti di China.

Cerita Utang Tak Sanggup Bayar
Utang yang menggunung ditambah lesunya pasar properti disebut menjadi salah satu faktor Evergrande kesulitan. Bahkan perusahaan ini disebut menjadi perusahaan properti yang paling banyak memiliki utang di dunia.

Selain itu, tata kelola keuangan yang buruk juga jadi penyebab lain raksasa properti China itu jatuh di jurang utang.

Menurut data Refinitiv Eikon, Evergrande memiliki enam obligasi yang jatuh tempo tahun depan dan 10 obligasi jatuh tempo pada 2023, dari total 24 obligasi yang telah diterbitkan.

Pada tahun ini saja saham Evergrande di Bursa Hong Kong telah anjlok hampir 80%.

Terbaru, Evergrande dikabarkan kembali gagal membayar kupon obligasi senilai USD47,5 juta atau sekitar Rp679,2 miliar (asumsi kurs Rp14.300 per dolar AS) yang jatuh tempo pada Rabu (29/9/2021).

Pembayaran bunga itu untuk obligasi berdenominasi dolar AS yang jatuh tempo Maret 2024 ini memiliki tingkat kupon 9,5 persen.

Pemerintah Dilibatkan Urus Utang Perusahaan
Lilitan utang Evergrande memaksa pemerintah China turun tangan untuk meredam kekhawatiran pasar.

Bank sentral China, yaitu The People's Bank of China (PBOC) mengguyur uang ratusan triliun yuan ke sistem keuangan China. Hal ini dilakukan untuk menekan kekhawatiran pelaku pasar terhadap krisis perusahaan properti raksasa China, Evergrande Group.

Selain itu, pemerintah China juga memutuskan untuk mengumpulkan sekelompok ahli akuntansi dan hukum untuk memeriksa keuangan Evergrande Group.

Diberitakan Bloomberg, Rabu (22/9/2021), PBOC menyuntikkan 120 miliar yuan (USD 18,6 miliar) atau Rp264 trilun lebih ke sistem perbankan lewat reverse repurchase agreements. Secara net, suntikan yang diberikan PBOC mencapai 90 miliar yuan.

Aksi ini membuat sentimen menjadi positif, apalagi unit bisnis properti Evergrande juga berencana membayar bunga utang yang jatuh tempo."Injeksi dari PBOC mungkin bertujuan untuk meredakan kekhawatiran di pasar akibat Evergrande. Namun di samping itu ada juga kebutuhan untuk mencegah dampak ke ekonomi dan sektor lain," ujar Analis dari DBS Bank Singapura, Eugene Leow.

Selain mengandalkan pemerintah, Evergrande Group mengumumkan akan menjual saham senilai USD 1,5 miliar atau setara Rp 21,3 triliun (etimasi kurs rupiah 14.299 per dolar AS) di Bank Shengjing. Langkah itu dilakukan menjelang tenggat waktu pembayaran bunga utang lainnya.

Selama sisa tahun ini, Evergrande memiliki pembayaran bunga yang jatuh tempo setiap bulan pada Oktober, November dan Desember.

Analis berpendapat perusahaan mungkin memprioritaskan investor domestik, yang merupakan pemegang utama obligasi dalam negeri. Daripada mendahulukan investor asing yang sebagian besar memegang utang luar negeri.

Aset terbesar Evergrande adalah kepemilikan lahan. Pada 30 Juni, ia memiliki 778 proyek dengan total luas area lantai yang direncanakan 214 juta meter persegi bernilai 456,8 miliar yuan. Selain itu, ia memiliki 146 proyek pengembangan kembali wilayah perkotaan.

Perusahaan memiliki lebih dari 800 proyek yang sedang dibangun, lebih dari setengahnya dihentikan karena kas yang tidak mencukupi. Ada ribuan perusahaan dari hulu ke hilir yang mengandalkan Evergrande untuk bisnis, menciptakan lebih dari 3,8 juta pekerjaan setiap tahun.

Cerita Pemilik Evergrande, Dari Miskin-Kaya-Terancam Miskin (Lagi)
Bukan perjalanan yang mudah bagi Hui Ka Yan untuk mendirikan Evergrande. Bahkan, ia harus berjuang dari nol karena lahir dari keluarga yang miskin.

Hui lahir pada 1958 di Provinsi Henan, China. Ibunya meninggal dunia saat Hui berusia satu tahun. Ia pun dibesarkan oleh neneknya.

Saat masih kecil, Hui harus membantu keluarganya menjual cuka dan kayu di pasar. Sering kali ia hanya makan dengan kentang merah dan roti kukus karena hanya kedua makanan itu yang tersedia.

Meskipun kondisi perekonomiannya tidak begitu baik, Hui berhasil lulus dari Wuhan Iron and Steel University pada 1982. Setelah itu, ia bekerja di pabrik baja sebelum memutuskan pindah ke Shenzhen pada 1992.

Hui sempat bekerja di perusahaan perdagangan selama lima tahun. Akan tetapi, pada akhirnya ia menemukan minat di bidang real estate.

Evergrande didirikan oleh Hui pada 1997 di Guangzhou. Perusahaan pun terus mengalami perkembangan yang pesat.

Stimulus dari pemerintah senilai 4 triliun Yuan (Rp8.860 triliun), yang dirancang untuk meningkatkan permintaan setelah krisis finansial pada 2008-2009, membuat pendanaan berlimpah. Pengembang real estate bisa meminjam dengan biaya rendah, membangun apartemen, dan memicu kenaikan tajam harga tanah.

Melihat potensi tersebut, Hui yang sangat ambisius memaksimalkan setiap pendanaan yang disediakan, mulai dari obligasi dan pinjaman bank. Ia juga menerbitkan produk manajemen kekayaan (wealth management products) melalui pihak ketiga seperti perusahaan perwaklian.

Keyakinan memenuhi diri Hui bahwa harga real estate akan terus naik di China. Oleh karena itu, ia selalu menghasilkan uang yang banyak dan bisa membayar semua bunga pinjaman.

Pada 2017, saham Evergrande yang melonjak di Hong Kong mengantarkan Hui menyandang status sebagai orang terkaya di Asia.

Selain real estate, Hui juga memperluas Evergrande Group dalam beberapa bisnis, seperti klub sepak bola profesional, panel surya, air mineral, mobil listrik, dan taman hiburan.

Perusahaan ini juga masuk dalam Global 500 atau daftar perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia. Evergrande berkantor pusat di Shenzhen, Tiongkok bagian selatan, dekat dengan Hong Kong.

Evergrande menjual apartemen untuk kelas menengah ke atas dengan proyek properti tersebar di lebih dari 280 kota. Perusahaan telah menyelesaikan hampir 1.300 proyek komersial, perumahan, dan infrastruktur, dan menyebut telah mempekerjakan 200.000 orang.

Dia juga memiliki bisnis makanan dan minuman, menjual air minum kemasan, bahan makanan, produk susu, dan barang-barang lainnya di seluruh Cina.

Pada 2010, Evergrande juga membeli tim sepak bola, yang sekarang dikenal sebagai Guangzhou Evergrande. Tim membangun sekolah sepak bola dan juga stadion terbesar di dunia berkapasitas 100.000 penonton dengan biaya USD1,7 miliar.

Hui pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia pada empat tahun lalu dengan kekayaan bersihnya mencapai USD45,3 miliar.

Pada Maret tahun lalu, Forbes menempatkan Hui sebagai miliarder terkaya ketiga di Tiongkok, tetapi pada Desember, posisinya jatuh ke nomor sepuluh. Hui dikenal sebagai ‘raja utang Tiongkok’.

Namun, cerita manis Hui mulai terbalik setelah Beijing memperketat peraturan untuk mengendalikan utang pengembang properti besar, mulai Agustus 2020. Beijing mendorong perusahaan mengendalikan utang yang terlalu banyak dan mengurangi spekulasi. Tahun lalu, banyak perusahaan milik negara Cina yang gagal membayar pinjaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, Evergrande menggelembungkan utang untuk membiayai berbagai kegiatannya.

Grup ini mendapatkan reputasi buruk karena menjadi pengembang Cina yang paling banyak utang dengan kewajiban senilai lebih dari USD300 miliar atau setara Rp2.437 triliun.

Akankah Evergrande keluar dari krisi utangnya? Apakah krisis keuangan Evergrande bakal ikut dirasakan pasar properti tanah air?

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan