https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   10 October 2021 - 05:45 wib

100 Hari Wafatnya Ki Manteb Sudarsono, Anies Kenang dengan Tunjukkan Keris Pemberian Sang Dalang

Inersia
berita-headline

(Facebook @Anies Baswedan)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenang kembali mendiang Ki Manteb Sudarsono di 100 hari wafatnya sang dalang legendaris tersebut. Saat mengenangnya, Anies menunjukkan sebuah keris pemberian Ki Manteb seraya menjelaskan makna dan filosofinya.

"Saya terima keris ini sebagai sebuah kehormatan dan Insya Allah akan saya jaga sebaik-baiknya. Begitu juga pesan, yang tadi disampaikan agar menjaga wayang kulit untuk tetap hidup dan berkembang," begitu jawab saya saat menerima keris ini dari almarhum Ki Manteb Sudarsono, dalam unggahan di Facebook @Anies Baswedan, Sabtu (9/10/2021).

Anies mengaku tak menyangka jika pertemuan itu menjadi obrolan terakhirnya dengan Ki Manteb.  "Siang itu, Sabtu 25 April 2021, kami menyempatkan berkunjung ke kediaman Dalang Senior Ki Manteb di Karanganyar, Jawa Tengah dalam perjalanan pulang seusai penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Pemkab Ngawi," ujarnya.

68 hari kemudian yakni 2 Juli 2021, lanjut Anies, Ki Manteb wafat. Dan hari ini (Sabtu), di berbagai kota dilakukan pagelaran wayang kulit untuk memperingati 100 hari wafatnya Ki Manteb Sudarsono.

Anies menuturkan, bersama Ketua PEPADI Kondang Sutrisna dan Ketua Paguyuban Seni Budaya Nusantara Yoga Mandira, ia berkunjung ke rumah Ki Manteb Sudarsono di Karanganyar. Di tengah-tengah diskusi, Ki Manteb membuka sebuah kotak, mengeluarkan sebuah keris dan lalu menyerahkannya, sambil menjelaskan tentang keris itu dengan amat detail.
 
"Kita ngobrol amat panjang tentang kebudayaan, filsafat, sastra, pewayangan, bahkan sampai soal keris, kayu kuno dan bangunan masa lalu. Keris itu dalam falsafah hidup Jawa merupakan doa yang tak terucap dan tak tertulis," ujar Anies.

Orang nomor 1 di DKI Jakarta itu mengatakan, anatomi keris mengandung makna yang mendalam, salah satunya jumlah tujuh lekukan pada keris tersebut yang dalam Bahasa Jawa disebut Pitu berarti Pitulungan atau Pertolongan. Jadi harapannya pemegang keris ini akan selalu diberikan pertolongan atau kemudahan oleh sang pencipta.

Keris ini juga memiliki kinatah (ditatah/diukir) bentuk sulur di bagian pangkal bilah. Pemberian kinatah ini mengindikasikan dua hal. Pertama keris ini pernah sangat berjasa dalam peristiwa besar, dan yang kedua merupakan lambang status sosial pemiliknya.

Berdasarkan penangguhannya, keris pemberian Ki Manteb Sudarsono ini berjenis keris Sepuh berdapur Carubuh era Mataram. Keris ini terbuat dari campuran besi, baja dan pamor atau batu meteor, orang zaman dahulu menyebutnya Ibu Bumi Bopo Angkoso (ibu bumi, ayah angkasa) karena memadukan unsur bumi dan unsur langit.

Ketiga material itu ditempa hingga terbentuk tekstur Ganggang Kanyut (ganggang hanyut terbawa air) yang tertuang sepanjang bilah keris di mana memiliki filosofi aliran tanpa hambatan, sehingga harapannya segala urusan akan dilancarkan.

"Hasil tempaan ini para empu bukan main-main, karena sang empu mempertimbangkan setiap bahan dengan presisi tinggi sehingga tak heran bila keris ini stabil dan seimbang sehingga dapat diberdirikan walaupun tanpa penyangga. Keris ini bisa berdiri hanya ditopang ujung keris yang runcing, ataupun ditopang gagang kayu yang bulat melengkung," papar Anies.

Dalam sejarahnya, Keris berdapur Carubuk ini diperuntukkan kepada para pemimpin. Di antaranya yang pernah memiliki keris berjenis ini antara lain Sultan Hadi Wijaya (pendiri Kerajaan Pajang tahun 1549-1582) atau lebih dikenal dengan Joko Tingkir, penakluk buaya di Sungai Kedung Srengenge.

Keris ini juga digunakan oleh Sunan Kalijaga yang juga memiliki keris berjenis Carubuk. Beliau pernah membawa kayu untuk tiang Masjid Agung Demak melalui Sungai Kreo. Dua pemilik keris yang memiliki kedekatan dengan elemen air.

Selain itu, Ki Manteb juga menjelaskan kepadanya, bahwa Warangka (sarung keris yang terbuat dari kayu) berasal dari sebidang kayu yang utuh tanpa ada sambungan. Ini merupakan Warangka yang penuh nilai seni dan amat unik.

Sebagai sebuah warisan bangsa dari para leluhur, keris merupakan pusaka yang terbuat dari hasil kerja keras, ketekunan, dan material berkualitas yang proses pembuatannya selalu dipenuhi dengan doa. Sebuah karya, bahkan bisa disebut mahakarya, yang penuh filosofi dan kualitasnya tak akan lekang oleh zaman, lintas waktu, lintas generasi.

"Kita doakan almarhum Ki Manteb Sudarsono dilipatgandakan pahalanya, dan dimuliakan tempatnya di sisi Allah SWT. Dan, Insya Allah keris pemberian Ki Manteb ini akan saya jaga, rawat, dan simpan dengan baik sebagai bagian dari mencintai, merawat, dan mengembangkan budaya bangsa," ujar Anies.

Di ujung unggahannya, Anies juga menjelaskan bahwa pemberian keris ini telah dilaporkan ke KPK dan tetap ditetapkan dalam Surat Keputusan No. 1477 Tahun 2021 oleh Pimpinan KPK.



 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Klasemen PON XX Merosot, Anies Berangkat ke Papua

Hingga hari ini, Senin (11/10/2021) secara berangsur klasemen DKI Jakarta PON XX Papua merosot da
berita-headline

Viral

Di KPK, Anies Pamer Penanganan Covid di Jakarta

Sebelum membahas kasus dugaan korupsi Tanah Munjul, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memamerka
berita-headline

Viral

Sambut Jakarta Metaverse, Anies: Sebagai Kota Kolaborasi, Ayo 'Lukis' Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersyukur dengan terselenggaranya event Jakarta Metaverse.
berita-headline

Viral

Anies Datang, Koleksi Emas DKI di PON XX Terus Menanjak

Kedatangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke Papua untuk meninjau para atlet yang bertanding di
berita-headline

Inersia

Aplikasi JAKI dari Jakarta Smart City Kembali Raih Penghargaan Internasional

Aplikasi JAKI dari Jakarta Smart City kembali mendapatkan penghargaan bertaraf internasional. Kal