https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   26 August 2021 - 11:00 wib

Butuh Perhatian, Banyak Anak Menjadi Yatim Piatu di Masa Pandemi

Data Satgas Penanganan Covid-19 per 20 Juli 2021 diketahui ada 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu.

Sementara sebanyak 350.000 anak terpapar Covid dan 777 di antaranya meninggal dunia.

Tingkat resiko anak sangat tinggi untuk terpapar Covid-19, karena itu dibutuhkan perhatian terhadap keterpenuhan gizi anak sebagai upaya pencegahan penurunan imunitas tubuh anak di tengah pandemi.

Persoalan lainnya adalah, meningkatnya angka anak-anak yang kehilangan orang tua di masa pandemi.  

Data yang dihimpun Kemensos menunjukkan sebanyak 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu.

Pengamat sosial DR. Devie Rahmawati, M.Hum, yang hadir dalam kesempatan ini ikut menyoroti pengasuhan anak-anak yang ditinggal orang tua akibat Covid-19.

“Secara hukum, bahwa anak-anak harus berada di pelukan keluarga utama, seperti nenek, om atau keluarga lainnya, baru kemudian yang paling terakhir adalah panti asuhan. Ini perlu menjadi konsen kita bersama, ini bukan hanya persoalan pemerintah tapi juga kita,” jelas Devie, pada acara temu media virtual, Jakarta, Kamis, (26/08/2021).

Ia menambahkan saat ini adalah waktunya untuk kita menajamkan sinyal sosial.

“Negara sudah menyiapkan bansos, tugas lingkungan adalah memberi perhatian. Kegotong royongan itu tidak melulu persoalan materi. Ini seharusnya peran RT-RW sebagai level yang lebih dekat dan tahu keadaan warganya,” tambah Devie.

Terkait bantuan sosial Dr. Kanya Eka Santi, MSW, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial menegaskan bahwa pemerintah dalam hal memberikan bantuan sosial untuk masyarakat telah memperhitungkan aspek keterrpenuhan gizi anak.

“Untuk anak-anak ada paket atensi biskuit, kacang hijau dan juga susu. Yang pasti bukan susu kental manis, tapi susu kotak,” jelas Kanya.

Pentingnya perhatian terhadap isi bansos ini mengingat banyaknya temuan bantuan sosial yang diterima masyarakat berisikan makanan instan, ataupun makanan tinggi kandungan gula.

Hal ini justru akan menimbulkan masalah baru bagi anak, sebab asupan gula tambahan dalam taraf tinggi pada pola makan harian balita, juga mengakibatkan perubahan biologis, sebagai manifestasi awal penyakit degeneratif pada anak.

Di sisi lain, keluarga-keluarga yang mengalami kerawanan pangan juga rentan dalam pemenuhan kebutuhan gizi pada anak.

Jika hal ini tidak menjadi perhatian bersama, langkah-langkah ini hanya akan berakibat pada pelanggaran hak anak mendapat makanan bergizi dan hak kesehatan anak.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Dokter Reisa, Sudah Vaksin Jangan Abai Prokes

Juru bicara Penanganan covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro menjelaskan
berita-headline

Empati

Lawan Covid-19, Yuk Bantu Sesama

Meski pemerintah telah melonggarkan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat
berita-headline

IXU

Tiga Manfaat Essential Oil untuk Kesehatan

Mengapa Essential Oil Memiliki Banyak Manfaat bagi kesehatan? Jawaban:Menu
berita-headline

Inersia

Sembilan Cara Cegah Bunuh Diri

Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si.,Psikolog, m
berita-headline

Viral

Hari Ini TMII Sudah Dibuka untuk Anak di Bawah 12 Tahun

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sudah mulai memperbolehkan anak di bawah umur 12 tahun masuk se