https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   28 August 2021 - 09:15 wib

Kenali Tiga Konsep Kurangi Risiko Penyakit

Kesehatan kini menjadi hal yang paling utama menarik perhatian. Terlebih pada saat pandemi covid-19 melanda dunia. Semua seakan-akan ingin hidup lebih sehat agar bisa bertahan hidup di tengah pandemi yang tidak menentu ini.

Pemerintah Inggris mulai Oktober tahun depan akan membatasi promosi makanan dan minuman kategori high in fat sugar, salt (HFSS) sebagai keseriusan mempromosikan gaya hidup sehat. Kondisi pandemi menuntut pemerintah Inggris untuk lebih aktif meningkatkan kesehatan masyarakat dengan mengurangi bahaya (harm reduction) pola konsumsi yang berisiko bagi warganya.
 
Obesitas menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan publik di Inggris. Mengacu pada data National Health Service (NHS) 63 persen orang dewasa di Inggris mengalami obesitas.

Obesitas ini juga menjadi salah satu penyebab sepertiga pelajar di negara tersebut putus sekolah. Bahkan, setiap tahun, NHS mesti menanggung beban 6 miliar Poundsterling untuk menangani penyakit yang terkait dengan obesitas.
 
Kebijakan ini rencananya akan melarang produk HFSS dipromosikan dengan cara seperti buy one get one free dan dipromosikan pada tempat-tempat strategis di toko ritel maupun pusat perbelanjaan. Tak hanya itu, minuman bergula tinggi juga dilarang dijual dengan skema bebas isi ulang free refill.
 
“Pandemi COVID-19 telah membawa kita untuk lebih memperhatikan kelebihan berat badan mengingat obesitas sangat berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Kami ingin setiap orang lebih sering mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Kebijakan ini akan membantu supermarket lebih fokus mempromosikan pilihan makanan yang lebih sehat,” ungkap Menteri Kesehatan Inggris Jo Churcill, seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Sabtu, (28/08/2021).
 
Konsep pengurangan bahaya ini sebenarnya bukan pendekatan baru. Melansir dari National Center for Biotechnology Information (NCBI), pengurangan bahaya merupakan upaya untuk mengurangi risiko dari kebiasaan tertentu yang memiliki dampak negatif.

Tujuannya supaya dampak negatif dari kebiasaan tersebut dapat berkurang. Dibandingkan melarang peredaran produk atau aktivitas berbahaya, pendekatan ini lebih berfokus pada pengurangan bahaya yang mungkin timbul.
 
Karena efektivitasnya, pengurangan bahaya mulai banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak terbatas pada urusan kesehatan saja. Simak contoh aplikasi konsep pengurangan bahaya berikut ini:

1.      Penggunaan Masker
 
Di tengah pandemi COVID-19, masker merupakan benda wajib yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi tahukah kamu bahwa masker merupakan salah satu contoh aplikasi pengurangan bahaya?
 
Menggunakan masker mengurangi risiko paparan virus maupun bakteri yang tersebar di udara. Selain itu, masker juga dapat membantu mengurangi bahaya pemaparan virus kepada orang lain. Bisa dibayangkan, jika tidak ada masker bisa jadi penyebaran COVID-19 akan semakin tidak terkendali.

Meski demikian, penggunaan masker harus diikuti dengan sederet langkah sanitasi lain seperti cuci tangan dan menjaga jarak agar efektivitas pencegahannya semakin tinggi.
 
2.      Sabuk Pengaman

Menggunakan sabuk pengaman ketika berkendara dalam mobil merupakan salah satu contoh pengurangan bahaya yang kerap kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Sabuk pengaman pertama kali diperkenalkan oleh seorang insinyur Inggris bernama George Cayley pada tahun 1800-an untuk digunakan para pilot.

Penemuan ini berangkat dari upaya para insinyur mengurangi risiko yang mungkin timbul bagi pilot ketika sedang mengoperasikan pesawat. Seiring waktu berjalan, sabuk pengaman mulai digunakan pula pada mobil sebagai upaya mengurangi bahaya jika sampai terjadi kecelakaan lalu lintas. Serupa dengan sabuk pengaman, mengenakan helm ketika menaiki sepeda motor juga merupakan bentuk aplikasi pengurangan bahaya.

3.      Produk Tembakau Alternatif
 
Seperti kita tahu, rokok mengandung TAR dan ribuan zat berbahaya yang dapat mengakibatkan berbagai penyakit. TAR dan zat-zat berbahaya itu terkandung dalam asap yang dihasilkan dari proses pembakaran saat rokok dikonsumsi. Namun, rokok sendiri juga mengandung nikotin sebagai zat adiktif yang menyebabkan berhenti merokok sulit dilakukan.
 
Melihat kesadaran masyarakat yang makin tinggi terhadap kesehatan, industri tembakau pun turut menerapkan konsep pengurangan bahaya untuk menciptakan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, maupun rokok elektrik.

Alasannya, produk tembakau alternatif tersebut tidak dibakar seperti rokok, melainkan dipanaskan atau ditempelkan di mulut, sehingga tidak menghasilkan asap yang berbahaya seperti rokok. Contoh, produk tembakau yang dipanaskan menghasilkan uap yang tidak mengganggu kualitas udara di sekitar pengguna.
 
Menurut Public Health England, produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah hingga 90-95 persen dibandingkan rokok sehingga dapat digunakan sebagai alternatif bagi perokok dewasa untuk mengurangi risiko dari kebiasaan merokok mereka.
 
“Orang merokok untuk mendapatkan nikotin, tetapi meninggal karena TAR,” kata Michael Russel, pencetus konsep pengurangan bahaya pada rokok.
 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

PPKM Longgar, Warga Pasar Rebo Abai Prokes

Meski pemerintah telah melonggarkan penerapan PPKM Jawa-Bali, namun bukan berarti masyarakat melu
berita-headline

Viral

Satgas Covid-19: Sudah Vaksin, Tetap Pakai Masker

Pemerintah hingga saat ini masih terus menggencarkan pelayanan vaksinasi Covid-19 di berbagai dae
berita-headline

IXU

Kenali Perbedaan Penyakit Maag dan GERD

Suka bingung sakit maag atau gerd. Apa sih bedanya maag dengan Gerd?Jawaban:
berita-headline

Viral

Kematian Akibat Serangan Jantung saat Covid-19 Meningkat

Sejak berlangsungnya covid-19 di awal 2020, sudah dilaporkan baik di luar negeri maupun Indonesia
berita-headline

IXU

Mengapa Merokok Dapat Meningkatkan Risiko Bila Terkena Covid-19?

Merokok menjadi perilaku yang kerap dilakukan tidak sedikit orang di Indonesia. Lantas, apa penga