https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   31 August 2021 - 05:39 wib

Penciptaan AI pada Mobil Baru Butuh BBM RON Tinggi

Artificial Intelligence (AI) atau mesin kecerdasan buatan dibuat selayaknya tindakan manusia. Dengan kata lain, AI digunakan untuk mewakili manusia mengambil keputusan atas suatu persoalan dalam proses pemakaian programnya. Kendati begitu Kendaraan keluaran terbaru yang sudah menerapkan teknologi kecerdasan buatan, tetap diharuskan memakai bahan bakar minyak (BBM) beroktan tinggi, seperti Pertamax series.

Menurut pakar motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB), Iman Kartolaksono Reksowardojo, AI tidak bisa mencegah kerugian jika kendaraan dipaksa memakai BBM beroktan rendah.

"Programming yang dilengkapi AI memang bisa beradaptasi supaya tidak merusak mesin. Tetapi, tetap saja ada batasnya. Jika terus-menerus memakai BBM beroktan rendah maka tetap merugikan. Karena konsekuensinya adalah penurunan kinerja dan penurunan efisiensi. Selain itu, emisi juga memburuk,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Bahan Bakar Indonesia (IABI) tersebut, pemrograman AI memang membuat motor lebih fleksibel terhadap kualitas BBM yang dikonsumsi.

Namun fleksibilitas yang bisa diadaptasi melalui Engine Control Unit (ECU) tersebut, memiliki limit dan terdapat sistem yang dikompromikan, misalnya melalui pengapian yang disetel menjadi lebih lambat.

Jadi, lanjutnya, tetap saja ada kekurangannya, oleh karena itu kendaraan yang dilengkapi dengan AI pun, tetap harus mengonsumsi BBM RON tinggi.

"BBM dengan oktan tinggi berdampak positif terhadap kendaraan bermotor. Tidak hanya bagi kendaraan yang dilengkapi dengan teknologi AI, namun juga kendaraan lain," kata dia.

Iman menambahkan, kendaraan yang diisi dengan Pertamax series akan tahan terhadap temperatur dan tekanan tinggi, sehingga campuran bahan bakar dan udara tidak akan menyala dengan sendiri pada waktu langkah tekan. Dengan demikian, pembakaran hanya berasal dari api busi. Bukan karena temperatur dan tekanan yang tinggi yang berasal bukan dari busi.

Menurut dia, spesifikasi mesin kendaraan keluaran terbaru memang dirancang untuk BBM dengan RON yang tinggi, dengan demikian, BBM yang dipakai juga harus sesuai.

"Kalau motor dirancang untuk oktan tinggi maka harus mempergunakan BBM dengan angka oktan tinggi. Jika tidak, maka akan terjadi off-design operation atau operasi mesin di luar perancangan," imbuhnya.

Dampak pemakaian BBM beroktan rendah memang merugikan, selain meningkatkan risiko kerusakan motor, ujarnya, juga memperburuk emisi gas buang kendaraan bermotor, menurunkan unjuk kerja motor, membuat motor mengelitik (knocking), bahkan berpotensi membuat ruang bakar berlubang.

"BBM RON rendah bisa menyebabkan knocking atau mengelitik. Knocking harus dihindari, karena dalam kasus ekstrim bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, serta menurunkan efisiensi dan menaikkan emisi gas buang," katanya.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Game Sekuel Ragnarok Online yang Lahir Kembali di Versi Mobile

 Gravity Game Link baru saja mengumumkan rencana perilisan sekuel game legendaris andalan mereka
berita-headline

Inersia

Xiaomi Siap Ramaikan Pasar Mobil Listrik, Mobil Apple Apa Kabar?

Xiaomi mengabarkan telah menyelesaikan pendaftaran unit bisnis kendaraan listrik (EV) yang disebu
berita-headline

Inersia

Inilah 5 Harga Mobil Murah Pilihan di Bulan September 2021

Memiliki mobil bukan lagi sesuatu yang sulit untuk dilakukan, bahkan jika budget yang dimiliki ju
berita-headline

Inersia

Nissan Leaf Kian Mantap Menyambut Era Mobil Listrik di Indonesia

Setelah menunggu sekitar empat tahun setelah Nissan Leaf generasi kedua ini diluncurkan di tanah
berita-headline

Inersia

Dirikan Pabrik Baterai Terbesar, Indonesia Siap 'Bermain' di Pasar Mobil Listrik

Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan groundbreaking pabrik baterai Hyundai-LG di Kara