Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Inflasi di Inggris Tembus 11,1 Persen, Penyebabnya Harga Listrik dan Gas

Rabu, 16 Nov 2022 - 22:08 WIB
Penulis : Ajat M Fajar
Setelah AS, Kini Inggris Larang Penggunaan Kamera Buatan China Beredar
Departemen Kemanan Inggris melanggar penggunaan kamera buatan China. (Foto: Reuters)

Inggris mengalami kenaikan inflasi tahunan yang tembus 11,1 persen pada Oktober 2022. Inflasi ini merupakan yang tertinggi bagi Inggris sejak 41 tahun terakhir.

Menurut Kantor statistik nasional (ONS), angka inflasi pada Oktober ini lebih tinggi dari prediksi sebelumnya. Sebab inflasi pada bulan September kemarin sudah mencapai 10,1 persen.

Pemicu loncakan inflasi ini akibat kenaikan biaya energi yang terus naik. Selain itu harga makanan juga tembus hingga 16,4 persen.

Kepala Ekonom ONS, Grant Fitzner mengatakan dalam setahun terakhir, biaya hidup di Inggris terus naik akibat harga listrik dan gas.

Padahal pemerinta sudah melakukan pembatasan tagihan listrik sebesar 2.500 poundsterling atau setara Rp46,4 juta (kurs Rp18.573 per poundsterling).

Baca juga
Emas Keok 10,5 Dolar AS karena Ekspektasi Suku Bunga Fed Naik 75 Basis Poin

“Selama setahun terakhir, harga gas telah naik hampir 130 persen sementara listrik naik sekitar 66 persen,” kata Grant Fitzner seperti mengutip dari CNN, Rabu (16/11/2022).

Pihak Bank of England (BOE) sebelumnya juga sudah menaikan suku bunga cukup besar dalam 33 tahun terakhir.

ONS mengungkapkan harga barang dan jasa konsumsi rumah tangga di Inggris naik 2 persen di rentang September-Oktober. Kenaikan tersebut sama besar seperti kenaikan pada periode Januari hingga Juni 2021.

Data ONS menyebutkan ekonomi Inggris makin menyusut pada kuartal III 2022. Proyeksi terbaru BoE adalah resesi berlanjut hingga paruh pertama 2024.

Baca juga
Suku Bunga The Fed Tertinggi 15 Tahun, Perang Inflasi Masih Berkobar

Sebelumnya, para pekerja di Inggris menggelar aksi mogok menyikapi kenaikan inflasi di negara tersebut yang menembus angka 10,1 persen. Sebanyak 155.000 pekerja mulai dari pekerja kereta api, jurnalis, pengacara hingga pekerja pos melakukan mogok kerja dan meminta kenaikan gaji.

Unite and Union yang merupakan serikat pekerja terbesar di The Black Country (julukan untuk Inggris) memiliki anggota 2,7 juta orang ini menyatakan ikut bergabung dengan para pekerja lainnya untuk mogok. Ini menjadi salah satu gelombang terbesar industri yang pernah Inggris alami sejak 1970-an. Ketika itu para pekerja juga melakukan aksi yang sama menyikapi kenaikan inflasi yang tinggi.

Tinggalkan Komentar