Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Inflasi Inti Indonesia Diprediksi Naik Jadi 3,5 Persen di Akhir Tahun

Kamis, 11 Agu 2022 - 21:49 WIB
Inflasi Inti Indonesia Diprediksi Naik Jadi 3,5 Persen di Akhir Tahun
Inflasi/Foto:ist

Kepala Ekonom Citi Indonesia, Helmi Arman memperkirakan, inflasi inti Indonesia naik menjadi 3,5 persen hingga akhir tahun.

“Inflasi inti kami perkirakan dari 2,8 persen saat ini, kami perkirakan akan naik ke sekitar 3,5 persen di akhir tahun ini,” katanya dalam Konferensi Pers Economic Outlook & Pemaparan Kinerja Citi Indonesia di Jakarta, Kamis (11/8/2022).

Dia menjelaskan, kenaikan inflasi ini prediksinya akibat dari sektor bisnis dan jasa yang akan melakukan penyesuaian tarif yang sempat tertunda selama pandemi COVID-19.

“Perkiraan kami, inflasi inti selama 2 tahun pandemi sangat rendah karena banyak bisnis jasa yang tidak menyesuaikan harga karena aktivitas dan demand untuk jasa lemah sekali dan sekarang kita sudah memasuki masa normal, sehingga adjustmanet dari jasa yang selama 2 tahun ini tertunda akan kembali meningkat,” ucapnya.

Menurut Helmi, inflasi telah melewati puncaknya dan tidak lama lagi akan bergerak turun, namun inflasi inti masih akan terus bergerak ke atas. Sehingga, dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah kenaikan inflasi dunia yang sedang bergerak naik, terutama dalam dua bulan terakhir yang kenaikannya cukup signifikan.

Baca juga
Kendurkan Agresivitas, BI Disarankan Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin

Meski inflasi inti prediksinya akan terus naik, Helmi berpendapat pemulihan ekonomi Indonesia akan terus berlanjut karena pemerintah melalui berbagai kebijakan mampu menekan harga energi dan mengalokasikan dana untuk subsidi harga energi.

“Alokasi dana untuk subsidi (energi) dengan jumlah yang signifikan, perkiraan kami akan tetap dipertahankan sehingga pemulihan ekonomi bisa berlanjut,” ujar dia,

Selain itu, Citi juga memperkirakan harga minyak mentah pada akhir tahun ini akan turun ke kisaran US$ 70 per barel. Hal tersebut lantaran Citi mulai melihat pertumbuhan demand untuk minyak dunia yang mulai melemah di negara maju termasuk Amerika Serikat. Selain itu, dana pengelolaan investor global yang dialokasikan ke pasar komoditi sudah mulai bergerak turun,

“Terlihat ketika terjadi konflik geopolitk di Februari, terlihat alokasi dana investor global ke pasar komiditi meningkat tajam, namun sekarang sudah mulai bergerak turun. Sehingga harga minyak kembali bisa menurun,” jelasnya.

Baca juga
Pelonggaran Kuantitatif Bank of England Hanya Bikin Rupiah Naik Tipis

Selain Inflasi Inti, Suku Bunga Juga Akan Naik

Namun, harga batu bara yang menjadi sektor andalan Indonesia diprediksi akan mengalami penurunan lantaran China yang menjadi salah satu pasar ekspor Indonesia mulai menggenjot produksi domestik batu bara.

Meski begitu, penurunan harga batu bara masih berada di level yang cukup tinggi relatif terhadap sebelum terjadinya konflik. Terutama suplai gas dari Rusia ke Eropa yang masih terganggu dan memaksa negara di Eropa mengaktifkan kembali energi yang bersumber dari batu bara.

Tak hanya soal inflasi, Helmi menyebut Indonesia juga harus menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas eksternal yakni stabilitas nilai tukar.
Menurutnya, selama masa pandemi yang mengakibatkan terjadinya capital outflow dari pasar obligasi, namun pasokan valas dalam negeri masih baik karena ditopang devisa hasil ekspor. Cadangan devisa pada Juli mulai bergerak turun, meskipun neraca perdagangan pada Juni surplus cukup besar.

Baca juga
Pascapencabutan PPKM, Ekonom Wanti-Wanti Kenaikan Inflasi Inti

“Kami rasa ke depannya penting memperhatikan diferensial suku bunga antara Rupiah dan Dolar terutama bunga Dolar di Luar Negeri,” tuturnya.

Ia pun memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI-7 Day Reverse Repo Rate jelang akhir tahun.

“Suku bunga acuan Bank Indonesia yang tujuh hari kami perkirakan akan mulai bergerak naik, kami perkirakan naik 2 kali 25 basis poin menjelang akhir tahun 2022,” kata Helmi. [ipe]

Tinggalkan Komentar