Infrastruktur Mubazir Bikin Keuangan Negara Tekor, Harus Ada yang Bertanggung Jawab

Infrastruktur Mubazir Bikin Keuangan Negara Tekor, Harus Ada yang Bertanggung Jawab - inilah.com

Ambisi besar Presiden Joko Widodo membangun infrastruktur memang tidak salah. Namun, jangan serampangan seperti sekarang. Hasilnya, banyak proyek mubazir yang mengancam keuangan negara.

Menurut catatan ekonom senior Fuad Bawazier, banyaknya proyek infrastruktur di era Jokowi yang bermasalah. Mulai dari proyek tol Cilincing-Cibitung, LRT Palembang, Bandara Kertajati, Kereta Cepat Jakarta-Bandung serta sejumlah pelabuhan di Indonesia Timur.

“Semuanya karena visibility study-nya amburadul. Lahirkan infrastruktur yang mubazir,” papar Fuad saat dihubungi Inilah.com, di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Dikatakan Fuad, Waskita Karya terpaksa melego tol Cibitung-Cilincing sebesar Rp2,4 triliun. Padahal, modal untuk membangunnya sebesar Rp10,8triliun.

Baca juga  Menteri Basuki: Pembangunan Infrastruktur Terpadu Tingkatkan Daya Saing, Jamin Keadilan Sosial

“Saya tidak menyalahkan yang beli, karena harganya memang segitu. Tapi, bagaimana visibility study-nya sebelum bikin tol itu. Nah, kalau BUMN-nya merugi, harus ada yang tanggung jawab dong,” ungkapnya.

Sedangkan untuk proyek LRT Palembang, mantan menteri keuangan ini menyebutnya sebagai proyek mubazir. Karena saat ini, penumpangnya sepi. Sementara pemerintah terus menggelontorkan dana miliaran untuk subsidi.

“Nantinya akan sama dengan kereta cepat Jakarta-Bandung. Untuk rute Jakarta-Bandung, saya kira enggak perlulah kereta cepat,” terangnya.

Soal Bandara Kertajarti, menurut Fuad, nasibnya setali tiga uang. Bandara terbesar setelah Bandara Soekarno-Hatta ini, biaya pembangunannya hampir Rp5 triliun, kini bak bandara hantu. Lantaran tak ada penerbangan. “Saya dengar, beberapa pelabuhan di Indonesia Timur nasibnya sama. Tidak digunakan,” tuturnya.

Baca juga  Tinjau Ulang Proposal Proyek Rp1.200 Triliun, Indonesia Jangan Terjebak Utang China

Fuad menilai, banyak proyek infrastruktur di era Jokowi ini meninggalkan banyak masalah. Hal tersebut menggambarkan tiga hal. Pertama, harganya kemahalan, akibatnya terjadi pembengkakan biaya pembangunan.

Kedua, lanjutnya, kualitas infrastrukturnya rendah. Berdampak kepada tingginya biaya maintenance and prepare. Ketiga, income atau pemasukannya meleset dari study.

“Contohnya itu tadi, tol Cilincing laku Rp2,4 triliun atau 23 persen dari biaya pembangunannya. Saya kira, kesalahan ini harus ada yang bertanggung jawab,” tegas Fuad. 

Tinggalkan Komentar