Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Ingin Meraih Lailatul Qadar? Ini Tips dari Gus Baha

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha (Foto Narasi Tv) - inilah.com
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha (Foto Narasi Tv)

Sepanjang Ramadan, terdapat satu malam yang paling ditunggu umat Islam, yakni Lailatul Qadar. Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan (QS al-Qadar: 3). Jumhur ulama berpendapat, malam itu terjadi pada 10 hari terakhir Ramadan. Apalagi pada malam-malam ganjil, semisal malam 21, 23, 25, 27, dan 29.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beribadah pada Lailatul Qadar semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR Bukhari).

Persiapan mencari Lailatul Qadar

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha mengatakan, perlu persiapan untuk mencari malam istimewa tersebut.

Baca juga
Kisah Akhlak Para Wali: Mengharumkan Nama Allah

“Di mana-mana yang namanya mencari itu ya ada persiapannya. Terkadang kita tidak persiapan, tapi merasa mencari. Kalau tidak ada persiapan, namanya menunggu. Bukan mencari,” kata Gus Baha dalam channel YouTube Najwa Shihab itu mengusung tema BersamaGus Baha, Mencari Lailatul Qadar.

Teks mengenai Lailatul Qadar, kata Gus Baha, telah Rasulullah SAW sabdakan dalam hadis sahih agar kita mencari.

“Bagi seseorang yang meyakini malam Lailatul Qadar datang di atas tanggal 20, jangan menafikan persiapan sejak 1 Ramadan atau bahkan mulai Rajab,” terangnya.

Selain itu, Gus Baha menekankan pentingnya menjaga perbuatan selama Ramadan. “Rasulullah SAW sering mencontohkan agar jangan membicarakan orang lain, jangan melakukan perbuatan dosa saat Ramadan. Akan sia-sia pahala itu karena diambil orang yang kita bicarakan,” ungkapnya.

Baca juga
5 Masjid Paling Indah dan Unik di Nusantara

Hukum yang matang

Menurut Gus Baha, perlu perhitungan-perhitungan hukum yang matang. “Apa artinya Ramadan jika memakan riba atau yang haram, kemudian membicarakan orang lain,” tuturnya.

Ulama asal Rembang itu menambahkan, hukum-hukum tentang puasa, selain hukum dasar fikih yaitu tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, juga harus memakai hukum ilmu tasawuf.

“Seperti menjauhi riba, ghibah, dan namimah. Caranya agar bisa husnudzan kepada orang lain adalah melihat semuanya berdasarkan takdir Allah. Kita baik, tapi juga bisa buruk. Nah, yang sekarang buruk bisa jadi suatu saat jadi baik,” jelasnya.

Gus Baha menegaskan, manusia tidak Allah SWT utus untuk meneliti orang lain. Dengan mental demikian, di bulan Ramadan kita lebih fokus mencari ridha Allah SWT dan mendoakan orang mukmin semuanya. “Itu persiapan penting dalam mencari Lailatul Qadar,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar