Inilah 5 Makanan Terlezat dan Enak Khas China

Inilah 5 Makanan Terlezat dan Enak Khas China  - inilah.com

Pandemi Covid-19 telah membawa duka yang sepertinya tak berkesudahan.
Lebih dari seribu orang meninggal akibat Covid-19 per hari dalam
beberapa hari terakhir. Tak sekadar angka, mereka adalah orangtua, anak,
istri, suami, sahabat, kerabat, juga keluarga.

Berdasarkan data
dari laman satgas Satgas Covid-19 per Senin (9/8), diketahui ada 11.045
anak menjadi yatim piatu. Pada sisi lain jumlah anak yang positif dan
meninggal menunjukkan lebih dari 350.000 anak positif dan 777 anak
meninggal dunia.

datasatgas

Dari rentetan kisah duka akibat Covid-19 adalah kisah pilu dan
anak-anak yang kehilangan orangtuanya yang meninggal akibat Covid-19.
Pemerintah harus memastikan pengasuhan anak-anak tersebut tetap terjamin
serta tumbuh kembangnya secara fisik, mental, spiritual dan sosial
terus terpantau.

Dari pemberitaan di kanal youtube Sekretariat
Presiden, misalnya, dikabarkan tentang Ghifari (8) yang menjadi sebatang
kara setelah orangtuanya meninggal karena Covid-19. Ghifari yang juga
sempat positif korona harus sendirian di rumahnya di Sukoharjo, Jawa
tengah. Sebelumnya, pemberitaan serupa dari berbagai media massa telah
muncul di beberapa daerah lain.

Menteri Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Puspayoga, dalam
keterangannya telah menginisiasi sejumlah upaya yang dilakukan untuk
melakukan kebijakan bersama Gugus Tugas dan Kementerian dan lembaga
untuk menerbitkan protokol kesehatan bagi anak-anak tanpa pengasuhan
orang tua karena meninggal akibat Covid-19.

Bintang mengatakan,
Gugus Tugas Covid-19 telah mengeluarkan protokol penanganan anak yang
yatim piatu akibat orangtuanya meninggal. Berdasarkan protokol ini,
keluarga dari anak-anak tersebut dapat mengambil alih tanggung jawab hak
pengasuhan anak tersebut.

Baca juga  China Buat Kapal Perang Khusus untuk Angkatan Laut Pakistan, Dilengkapi Teknologi Paling Mutakhir

”KemenPPPA telah membuat Protokol
Tata Kelola Data dan Protokol Pengasuhan Bagi Anak Tanpa Gejala, Anak
Dalam Pemantauan, Pasien Anak Dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi, dan
Anak dengan Orangtua/ Pengasuh/ Wali Berstatus Orang Dalam Pemantauan,
Pasien Dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi dan Orangtua Yang Meninggal
Karena COVID-19,” ujar Bintang Puspayoga melalui siaran pers di Jakarta,
Senin.

Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak mengamanatkan bahwa perlindungan terhadap anak-anak
dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan orangtua.
Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orangtuanya sendiri kecuali jika
ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan
itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan
terakhir.

Pengecualian itu untuk memastikan anak tetap memiliki
pengganti orangtua sehingga tetap mendapatkan pengasuhan, pemeliharaan,
pendidikan, dan perlindungan, termasuk mendapatkan dukungan pembiayaan
hidup dan pemenuhan hak anak lainnya.

Karena itulah, tim
Kementerian PPPA di setiap kabupaten/kota akan melakukan penjangkauan
dan pendampingan terhadap anak yang kini menjadi yatim piatu. Bintang
mengingatkan, peran masyarakat sekitar dan pemerintah sampai ke tingkat
desa sangat penting untuk menjamin anak tidak telantar dan tetap
mendapatkan perlindungan.

”Saya melihat kepedulian dan perhatian
masyarakat yang begitu tinggi terhadap anak-anak yang ditinggal oleh
orangtuanya karena Covid-19. Saya mengapresiasi peran serta tersebut dan
memang kerja sama masyarakat sangat dibutuhkan sehingga kita semua
dapat menghadapi dan melewati situasi pandemi ini bersama-sama,” tutur
Bintang.

Baca juga  Buka APBN untuk Biayai Proyek Kereta Api Cepat, Janji Jokowi tak Seindah Aslinya

Soroti Pola Pengasuhan

Ketua
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), DR. Susanto, MA menyampaikan,
orang tua terdekat turut berperan penting dalam pengasuhan sekaligus
pemulihan dan rasa kehilangan. Pihak KPAI juga terus berusaha memberikan
advokasi bagi anak-anak yang ditinggal orang tuanya akibat Covid-19
untuk diberikan perlindungan pengasuhan.

Dia mengungkapkan,
perlindungan nantinya untuk memberikan advokasi pengasuhan yang sesuai
standart nasional mulai dari keluarga inti sampai derajat ketiga, sampai
dengan pilihan terakhir seperti orang tua asuh untuk pengangkatan anak.

“Bagi
anak yang orangtuanya meninggal maka keluarga sampai derajat ke tiga
yang semestinya jadi prioritas mengambil alih terkait pengasuhannya.
sampai derajat ke tiga dimaksud adalah kakak adik, nenek kakek, paman
dan bibi, ” ujarnya saat dihubungi INILAHCOM, Senin (09/08/2021).

Evi Douren, Presidium PIKI Salemba10 yang juga komisioner Komnas
Perempuan 2003-2005, mengungkapkan, anak-anak yang menjadi yatim piatu
akibat kematian orangtua atau orangtua asuhnya sesungguhnya bisa
dikatakan sebagai hidden pandemic akibat kematian yang diakibatkan oleh
Covid-19.

”Sejak sekarang sudah harus mulai dipikirkan sistem
dukungan psikososial dan ekonomi bagi anak-anak yang masuk ke dalam
kelompok tersebut. Anak-anak yang kehilangan orangtua atau pengasuh
utamanya berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, mengalami
kekerasan fisik, emosional, dan seksual juga,” tutur Evi.

Baca juga  Rahasia Film Indonesia Raih Sukses di Luar Negeri

Bahkan, apabila kejadian tidak diinginkan itu terus berlanjut, di
kemudian hari dapat meningkatkan risiko bunuh diri, kehamilan pada usia
remaja, ataupun menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS),
termasuk HIV.

Oleh karena itu, Evi mengimbau pemerintah dan
masyarakat mulai memikirkan sistim dukungan bagi anak-anak yang menjadi
yatim piatu. Masyarakat bisa diajak untuk membangun sistem dukungan
dalam lingkaran keluarga besar untuk menampung dan membesarkan anak-anak
itu.

”Jika sistem penyangga keluarga besar tak cukup secara
ekonomi, pemerintah harus membangun sistem untuk membantu pemenuhan hak
anak atas gizi, kesehatan, dan pendidikannya,” ujar Evi.

Sementara
itu energi positif membantu anak yatim piatu juga didorong oleh
Inisiator Kawal Covid-19 Ainun Najib yang membentuk gerakan kawal masa
depan untuk mengajak masyarakat bersama-sama membantu puluhan ribu anak
yatim piatu dengan memberikan santunan biaya hidup dan bantuan
pendidikan.

“Kami konsepnya crowdfunding dulu, tapi untuk jangka panjangnya ada 3
konsep, pertama seperti gerakan orang tua asuh, kedua mentorship kita
ajak kakak asus yang punya kompetensi di bidang tertentu untuk membantu
adik yatim piatu, ketiga idenya seperti venture capital untuk talenta,”
jelasnya.

Ainun menyebut gerakan ini dilakukan untuk membantu
negara atau Dinas Sosial melakukan pendataan dan pengasuhan kepada
anak-anak yang menjadi yatim piatu selama pandemi Covid-19. Masyarakat
bisa membantu berdonasi atau mendaftarkan anak yatim atau piatu ke
kawalmasadepan.com agar bisa mendapatkan bantuan melalui platform
kitabisa.com

Tinggalkan Komentar