Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Inilah Rekomendasi Saham-saham yang ‘Dipegang’ Kaesang

Whatsapp Image 2022 01 13 At 13.02.18 - inilah.com
Tampilan platform trading Indopremier Sekuritas. Foto: Inilah.com/Ahmad Munjin

Pelaporan Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai tidak menjadi faktor dalam pergerakan harga saham-saham yang ‘dipegang’ putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang. Alih-alih menjadi sentimen negatif, analis justru memberikan rekomendasi positif.

Sebelumnya, Ubedilah Badrun, dosen Universitas Negeri Jakarta melaporkan kedua putra Presiden Jokowi itu atas dugaan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme alias KKN terhadap relasi bisnisnya. Dalam laporannya ke KPK awal pekan lalu, Ubedilah menyoroti pembelian saham PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) oleh Kaesang senilai Rp92 miliar atau 8% dari total saham yang diterbitkan. Emiten ini bergerak di bidang produksi makanan beku berbasis udang.

Dengan demikian, PMMP merupakan satu-satunya saham yang dipastikan Kaesang memilikinya. Sedangkan saham-saham lainnya baru diduga memilikinya karena pernah dikicaukan oleh Kaesang melalui akun Twitter tahun lalu.

Saham-saham tersebut adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Dalam sepekan terakhir, saham KAEF mencatatkan penurunan 5,31% ke Rp2.320 per unit saham. Begitu juga saham ANTM yang turun 13,33% ke posisi Rp1.950, saham PGAS turun 2,19% ke Rp1.340, dan juga saham PMMP yang turun 5,11% ke Rp446.

Baca juga
Harga Minyak Meroket ke US$105 per Barel setelah Serangan Rusia ke Ukraina

NS Aji Martono, Ketua Umum Perkumpulan Profesi Pasar Modal Indonesia (Propami) mengatakan, penurunan saham-saham tersebut dipicu oleh koreksi turun yang terjadi di bursa saham secara keseluruhan. “Memang pasarnya sedang turun,” katanya kepada Inilah.com di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sentimen negatif yang melanda bursa saham domestik, lanjut Aji, terjadi secara berkesinambungan. Sentimen tersebut muncul secara beruntun terutama terkait sentimen global, mulai dari dari kondisi ekonomi dan inflasi di AS dengan kemungkinan The Fed melanjutkan tapering off hingga menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat dan lebih sering.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar terus mencermati tren kenaikan Omicron sehingga menjadi sentimen negatif di pasar secara umum. Namun, beberapa emiten justru mendapat sentimen positif dari pandemi ini terkait vaksin booster.

“Dalam situasi ini, investor memegang cash terlebih dahulu yang membuat saham-saham turun termasuk yang dimiliki Kaesang,” papar dia.

Secara fundamental, Aji tidak melihat adanya masalah yang berarti. “Saya lihat penurunan harga di saham KAEF, ANTM, PGAS, dan PMMP merupakan penurunan yang wajar. Itu karena faktor isu market secara keseluruhan,” ujarnya.

Baca juga
Saingi AMD dan Nvidia, Intel Hadirkan Grafis Arc Series untuk Laptop

Lebih jauh dia mencontohkan saham ANTM dan PGAS. Penurunan kedua saham ini lebih karena sentimen dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah soal harga jual batu bara domestic market obligation atau DMO dan serta larangan ekspor batu bara yang kemudian dicabut kembali.

“Memang masih ada tarik ulur. Tapi, karena aturannya sudah rilis, pasar melakukan penjualan di saham ANTM dan PGAS,” papar Aji.

Alhasil, saham ANTM turun hingga mencapai titik terendah setelah beberapa tahun ke Rp1.935 dan sekarang sudah mengalami penguatan lagi secara teknikal. Begitu juga dengan PGAS yang mencapai level terendahnya tahun lalu di bawah Rp1.000.

Sekarang, setelah mencapai 1500-an, saham PGAS turun ke Rp1.290 dan balik naik ke Rp1.300-an. “Saham ANTM dan PGAS masih cukup menarik untuk dikoleksi,” ungkap dia. “Saya rekomendasikan akumulasi beli di level harga saat ini karena ANTM dan PGAS dalam posisi strong buy.”

Lebih jauh Aji menegaskan, KAEF termasuk juga saham-saham sejenisnya, seperti PT Indofarma Tbk (INAF) berhubungan erat dengan wabah Omicron. Kedua emiten itu mendapatkan porsi terbaik untuk pengadaan vaksin sehingga bisa mengalami kenaikan yang signifikan. “Sekarang saham-saham itu sudah berada di harga wajar sehinga menarik bagi investor,” tuturnya.

Baca juga
HET Minyak Goreng Dicabut, Polri Kalah Lawan Mafia

Belum lagi, kata dia, dengan acuan dividend yield kedua saham tersebut yang juga menarik. Rilis laporan keuangan 2021 dari kedua emiten ini akan memberikan dividend yield yang menjanjikan.

Saham KAEF mengalami kenaikan tajam tahun lalu dan sekarang mengalami koreksi turun walaupun belum mencapai level terbawahnya. Akan tetapi, untuk akumulasi beli jangka menengah-panjang saham ini cukup menarik. “Rekomendasi strong buy juga untuk KAEF dan INAF,” ucapnya,

Sementara untuk saham PMMP, Aji tak memberikan rekomendasi apapun alias netral. Dia mengakui tidak melakukan coverage untuk saham ini. Tapi, jika melihat core bisnis PMMP yang bergerak di bidang distribusi udang kemasan, saham ini sangat menarik untuk investasi jangka panjang. “Secara teknikal, saham ini belum turun signifikan,” imbuhnya.

Disclaimer: Pelajari dengan teliti sebelum membeli atau menjual saham. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor.

Tinggalkan Komentar