Inovasi Pemetaan Bawah Air untuk Cegah Banjir

Inovasi Pemetaan Bawah Air untuk Cegah Banjir - inilah.com

BMKG mengungkapkan, musim hujan 2020-2021 di Indonesia masuk tahun
terbasah kelima sepanjang 40 tahun terakhir. Faktor terjadinya
pendangkalan di daerah aliran sungai turut menjadi salah satu penyebab
banjir datang di suatu daerah.  Ini terjadi akibat banyaknya material
sedimen seperti lumpur, pasir atau sampah yang mengendap di dasar
sehingga sungai atau danau menjadi dangkal. Hal tersebut menyebabkan
berkurangnya kapasitas untuk menampung air saat musim penghujan.

Salah
satu solusinya adalah perlu dilakukan pengerukan atau pengangkatan
material sedimen di daerah aliran sungai atau danau ini harus dilakukan.
Sayangnya, karena sungai dan danau memiliki jarak geografis yang sangat
luas maka pengecekan sedimentasi secara manual menjadi tidak efektif
dan efisien.
 
Datascrip sebagai authorized distributor Chcnav di
Indonesia menghadirkan solusi perangkat survei Apache 3 yang dapat
memetakan kondisi kedalaman bawah air dan juga perhitungan sedimentasi
bawah air secara otomatis. Dengan solusi ini, pengukuran dan pemetaan
kondisi sedimentasi bawah air dapat lebih efektif, efisien dan akurat.

Baca juga  Sembilan Cara Cegah Bunuh Diri

Chcnav
Apache 3 berupa perangkat Unmanned Surface Vessel (USV) atau kapal
tanpa awak yang ringkas dan sangat mudah dioperasikan. Metode survei
dengan USV merupakan sebuah terbosan teknologi dalam pekerjaan batimetri
dan pemetaan hidrografi.

Kita bisa melakukan survei dari jarak
jauh dengan remote control, dari tepi sungai atau danau. Apache 3 dapat
bekerja secara otomatis hingga rentang jangkauan 2 Km untuk mengirim
data kedalaman di bawah permukaan air.

Apache 3 ini dilengkapi
dengan teknologi sensor Single Echo Sounder untuk melakukan pengukuran
kedalaman dari 0,15m – 200m. Data yang ditangkap oleh sensor bisa
langsung dikirim dan dilihat secara real time kinematic melalui software
HydroSurvey dari CHC.

Sensornya telah terkoneksi dengan Global
Navigation Satelite Systems (GNSS) dan sensor arah sehingga dapat
beroperasi secara otomatis dengan lancar. Selain itu, perangkat ini juga
dibekali sensor IMU memungkinkan survei tanpa gangguan sinyal seperti
saat USV melintas di bawah jembatan, bahkan jika digunakan pada kondisi
perairan yang arus atau aliran airnya deras dan tidak beraturan
sekalipun.

Baca juga  Pajak Karbon Diterapkan, Pemulihan Ekonomi Bakal Terhambat

Kita bisa menghemat waktu karena USV APACHE 3 dibekali
dengan motor penggerak berkecepatan 7.000 rpm yang dapat melaju hingga
kecepatan 5 meter per detik. Data diproses dan diekstrasi dengan
menggunakan software HydroSurvey untuk menyiapkan model 3D yang akan
digunakan sebagai referensi dasar dalam menilai kandungan lumpur atau
tingginya sedimentasi yang akan dihilangkan.