Instruksi Menteri Tito Penumpang Wajib PCR Membuat Garuda Makin Nyungsep

Instruksi Menteri Tito Penumpang Wajib PCR Membuat Garuda Makin Nyungsep - inilah.com
(ist)

Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 53/2021 yang mewajibkan tes PCR bagi penumpang penerbangan, bisa menggerus pendapatan maskapai penerbangan, termasuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Mudah-mudahan hanya sementara karena masa berlakuknya 2 pekan.

Hal itu disampaikan pengamat penerbangan Alvin Lie kepada Inilah.com, Jakarta, Kamis (21/10/2021). “Turun ya turun (penumpang), tapi sementara. Awal November kita belum tahu, apakah tetap diberlakukan, atau dirubah. Dirubahnya seperti apa, kita tunggu saja,” ungkap Alvin.

Adanya kewajiban PCR untuk penumpang penerbangan, Alvin mengherankan adanya campur tangan Kementerian Dalam Negeri. Seharusnya, aturan ini menjadi ranahnya Kementerian Perhubungan, bukan Kemendagri. Selain itu, ada standar ganda terkait Inmendagri 53/2021 yang diterbitkan Selasa (19/10/2021).  

Baca juga  Menjawab Tudingan Arya Sinulingga, Peter Gontha Laporkan Kasus Garuda ke Menteri Erick

Dalam beleid yang dikeluarkan Mendagri Tito Karnavian itu, mengakui bahwa banyak daerah yang mengalami perbaikan. Maksudnya, angka penderita COVID-19 cenderung menurun. Seharusnya, mobilisasi masyarakat diberikan relaksasi bukan malah diperketat dengan kewajiban tes PCR, sementara tes Swab Antigen tidak laku lagi.

“Inmendagri diterbitkan jika ada kegentingan yang mendesak. Tapi saat ini, perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia kan terus menurun. Seharusnya regulasi yang dikeluarkan pemerintah memberi cukup ruang untuk mobilitas masyarakat. Bukan malah menutup,” ungkapnya.

Ya, Alvin betul. Dengan adanya kewajiban tes PCR yang harganya lumayan menguras kantong, cukup membebani penumpang penerbangan. Selain itu, proses tes PCR butuh waktu lama. Bisa jadi mereka beralih ke moda transportasi darat seperti bus atau kereta api yang tidak mewajibkan tes PCR.

Baca juga  Kejaksaan Ingin All Out Sita Aset Jiwasraya, Yenti Wanti-Wanti Soal Hukuman Seumur Hidup

Benar saja. Kewajiban tes PCR ini, membuat resah internal Garuda. Dan, Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Indonesia, meminta pemerintah yang mewajibkan tes PCR sebagai syarat penerbangan, menurunkan harga tes PCR menjadi Rp50 ribu.

“Hal ini sangat memberatkan konsumen pesawat udara karena harga tes PCR sangat mahal. Akibat dari mahalnya tes PCR, maka akan berdampak pada menurunnya secara signifikan tingkat isian penumpang pesawat udara,” kata Ketua Harian Sekarga Indonesia, Tomy Tampatty.

Tommy bilang, turunnya penumpang penerbangan tentunya berdampak kepada sektor perekonomian, khususnya pariwisata. Pemerintah seharusnya lebih bijak dalam mengeluarkan kebijakan yang bersifat strategis. “Kami harapkan, pemerintah bisa menurunkan harga tes PCR di kisaran Rp25.000-Rp 50.000,” kata dia.

Baca juga  Lawatan 3 Negara, Jokowi Pilih Naik Garuda Ketimbang Pesawat Kepresidenan, Lebih Irit?

Tinggalkan Komentar