Sabtu, 01 Oktober 2022
05 Rabi'ul Awwal 1444

Intelektual Moncer di Pusaran Pilpres

Jumat, 22 Apr 2022 - 02:20 WIB
Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (istimewa)

Anies Baswedan selalu di papan atas survei kandidat Presiden 2024. Dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni, dia disebut-sebut sebagai antitesa Jokowi.

#bagian pertama dari tiga tulisan

Ada histeria di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada pada awal Ramadan ini. Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, didapuk mengisi ceramah tarawih di masjid yang mampu menampung ribuan jamaah tersebut. Malam itu (7/4/2022) Anies memilih tema ‘Menjadi Manusia Bernilai Menyongsong Indonesia Memimpin Dunia 2045’. Anies sengaja memilih tema tentang ‘kepemimpinan’. Namanya digadang-gadang banyak pihak untuk mengambil estafet kepemimpinan Nasional pada 2024.

Seperti biasa, ceramah Anies menghipnotis massa. Pilihan katanya terukur, tepat, dan menginspirasi. Usai ceramah, suasana masjid penuh histeria. Ratusan jamaah merangsek, mendekati, dam mencoba sekadar meraih tangan Anies. Hampir satu jam Anies tak bergerak, menyambut tangan-tangan mahasiswa. “Presiden, presiden, presiden. Anies Presiden 2024,” teriak jamaah, memenuhi ruang utama Masjid UGM.

Anies tak asing dengan UGM. Sejatinya dia sedang ‘pulang’ ke rumah yang membesarkannya. Anies diterima di Fakultas Ekonomi UGM tahun 1989. Dia aktivis kampus, dan menjadi anggota Majelis Penyelamat Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Gadjah Mada.

Di organisasi intra kampus, Anies menjadi Ketua Senat Mahasiswa di fakultasnya, dan membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa setelah dibekukan Pemerintah. Pada 1992, Anies terpilih menjadi Ketua Senat Universitas. Dia membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif dan memposisikan senat sebagai lembaga legislatif.

Anies memimpin Senat Mahasiswa UGM saat Rezim Orde Baru masih di puncak kekuatan. Anies, yang juga cucu dari Pahlawan Nasional Abdurrahman Baswedan ini, tak kurang akal. Dia memulai gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus monopoli Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) yang menyangkut Hutomo Mandala Putra, anak bungsu Presiden Soeharto.

Baca juga
Honor Petugas KPPS Pemilu 2024 Naik jadi Rp1,5 Juta

Hasil riset Anies menunjukan bahwa monopoli perdagangan cengkih yang dilakukan BPPC mengakibatkan ribuan petani di pelosok Indonesia jatuh miskin. Bahkan banyak yang terpaksa menebang pohon cengkih yang sudah berusia puluhan tahun karena harga jual ditetapkan oleh BPPC. Tapi, Anies bukan cuma aktivis di belakang meja. Dia juga menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) di Yogyakarta.

Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa dari Jepang untuk mengikuti kuliah musim panas di Universitas Sophia, Tokyo, dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis bertemakan lingkungan. Hingga pada akhirnya, Anies lulus dari Universitas Gadjah Mada tahun 1995.

Setelah selesai kuliah di UGM, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fullbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah tingkat master dalam bidang Keamanan Internasional dan Kebijakan Ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, Amerika Serikat pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998.

Lulus dari Maryland, Anies langsung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi dalam bidang lmu Politik di Northern Illinois University. Dia bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampus itu, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi.

Baca juga
KPK Tetapkan 10 Tersangka Perkara Suap Hakim Agung, Ini Daftar Nama-namanya

Anies menyusun disertasi berjudul Regional Autonomy and Patterns of Democracy in Indonesia, yang membahas efek kebijakan desentralisasi terhadap daya respon dan transparansi pemerintah daerah serta partisipasi publik. Dia menggunakan data survei dari 177 kabupaten dan kota di Indonesia. Dia lulus pendidikan strata tiga pada tahun 2005.

Pendidikan Anies Baswedan sangat moncer. Maklumlah, tokoh yang dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, pada 7 Mei 1969 ini lahir dari keluarga intelektual. Ayahnya, Rasyid Baswedan adalah dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII). Sedangkan ibunya, Aliyah Rasyid, adalah Guru Besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Anies merupakan cucu dari Abdurrahman Baswedan, seorang jurnalis, diplomat, dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

* * * * *

Sebagai seorang doktor muda, kecintaan Anies pada dunia pendidikan makin membuncah. Pada 15 Mei 2007, dia dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina. Saat itu, Anies, 38 tahun, merupakan rektor termuda di Indonesia. Anies terkesan dengan Joseph Nye, Dekan Sekolah Pemerintahan John F. Kennedy, Universitas Harvard yang menggagas agar kampus hanya merekrut mahasiswa terbaik. Strategi yang dikembangkan olehnya adalah program ‘Paramadina Fellowship’ atau beasiswa Paramadina yang mencakup biaya kuliah, buku, dan biaya hidup.

Istilah ‘Paramadina Fellowship’ adalah perwujudan idealisme dengan bahasa bisnis. Hal ini dilakukan dengan kesadaran bahwa dunia pendidikan dan bisnis memiliki pendekatan yang berbeda. Untuk mewujudkan itu, Anies mengadopsi konsep penamaan mahasiswa yang sudah lulus seperti yang biasa digunakan oleh universitas-universitas ternama dunia. Gebrakan lain yang dilakukannya adalah pendidikan antikorupsi di kampus dengan mengajarkan teori hingga laporan investigatif perihal praktik korupsi.

Baca juga
Dari Pajak Warga, Gubernur Anies Jalankan Amanah Bangun Stadion Termegah di Dunia

Keberhasilan pendidikan Anies Baswedan tak lepas dari tempaan kedua orang tuanya. Sebagai anak dari pasangan dosen di kampus ternama di Yogyakarta, sejak muda Anies menyerap aura ilmu pengetahuan. Selain itu, mantan Menteri Pendidikan Nasional ini juga memiliki karakter yang kuat. “Sejak kecil dia tangguh, tak cengeng. Pernah suatu ketika tangannya melepuh terkena setrika panas, tapi dia tak bilang. Juga tak menagis. Itu bekal dia kuat dalam menghadapi sulitnya belajar dan dalam kehidupan,” ujar Profesor Aliyah Rasyid, Ibunda Anies Basewedan.

Dengan bekal pendidikan, pengalaman, dan sederet penghargaan yang diterimanya, Gubernur DKI Jakarta ini menempati papan atas calon presiden dari semua lembaga survei. Tak heran jika jamaah tarawih Masjid Kampus UGM awal Ramadan ini gegap gempita menyebut Anies sebagai ‘Presiden 2024’.

Akankah ada jalan buat Anies Baswedan untuk pindah kantor dari Jalan Merdeka Selatan ke Jalan Merdeka Utara?

Tinggalkan Komentar