Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Invasi Ukraina, Berapa Banyak Senjata Nuklir yang Dimiliki Rusia?

Senjata Nuklir Rusia
(ilustrasi)

Di tengah serbuan ke Ukraina, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menempatkan pasukan nuklir negaranya dalam siaga ‘khusus’, sehingga meningkatkan kekhawatiran di seluruh dunia.

Namun, para analis berpendapat tindakan Putin semestinya ditafsirkan sebagai peringatan kepada negara-negara lain agar tidak lebih banyak terlibat di Ukraina, dibandingkan menafsirkannya sebagai tanda bahwa Putin ingin menggunakan senjata nuklir.

Senjata nuklir telah ada selama hampir 80 tahun. Banyak negara menempatkan senjata nuklir sebagai deterensi atau strategi pencegahan demi menjamin keamanan nasional mereka.

Bagaimana dengan Rusia? Berikut ulasan BBC News:

Berapa banyak senjata nuklir yang dimiliki Rusia?

Meski hanya perkiraan, Federation of American Scientists menyebut Rusia memiliki 5.977 hulu ledak nuklir –perangkat yang memicu ledakan nuklir– meskipun angka ini termasuk sekitar 1.500 hulu ledak yang sudah dipensiunkan dan akan dibongkar.

Dari sekitar 4.500 sisanya, kebanyakan diperkirakan berupa senjata nuklir strategis seperti rudal balistik atau roket yang bisa menargetkan sasaran dari jarak jauh. Inilah senjata-senjata yang biasanya dikaitkan dengan perang nuklir.

Sedangkan selebihnya bisa dibilang berskala lebih kecil, lebih tidak merusak dan digunakan pada jarak pendek di medan perang atau laut.

Baca juga
Pulang dari Luar Negeri, Wajib Karantina Selama 10 Hari

Namun, angka itu bukan berarti Rusia memiliki ribuan senjata nuklir jarak jauh yang siap digunakan.

Para ahli memperkirakan sekitar 1.500 hulu ledak Rusia tengah ‘disiapkan’, yang artinya telah ditempatkan di pangkalan rudal atau di kapal selam.

Senjata Nuklir Rusia
(BBC News)

Bagaimana jika dibandingkan dengan negara lain?

Ada sembilan negara yang memiliki senjata nuklir, yakni China, Prancis, India, Israel, Korea Utara, Pakistan, Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris.

China, Prancis, Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris termasuk di antara 191 negara yang menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT).

Perjanjian NPT membuat negara-negara itu harus mengurangi persediaan hulu ledak nuklir mereka, serta secara teori berkomitmen menghilangkannya sepenuhnya.

Perjanjian itu memang telah mengurangi jumlah hulu ledak yang disimpan di negara-negara itu sejak 1970 dan 1980-an.

India, Israel, dan Pakistan tidak pernah bergabung dalam Perjanjian NPT, sedangkan Korea Utara meninggalkan perjanjian itu pada 2003.

Israel adalah satu-satunya negara yang tidak pernah secara resmi mengakui program nuklirnya, tetapi secara luas diketahui memiliki hulu ledak nuklir.

Sementara itu, Ukraina tidak memiliki senjata nuklir, meskipun Putin menuduh sebaliknya. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Ukraina berusaha mendapatkan senjata nuklir.

Baca juga
Efek Rusia-Ukraina, IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi 3,6 Persen
Senjata Nuklir Rusia
(BBC News)

Seberapa merusak senjata nuklir?

Senjata nuklir dirancang untuk menyebabkan kehancuran maksimum. Tingkat kerusakannya bergantung pada sejumlah faktor, seperti ukuran hulu ledak, seberapa tinggi posisi ledakannya dari atas tanah, dan faktor lingkungan setempat.

Namun, hulu ledak terkecil pun bisa menimbulkan banyak korban jiwa dan konsekuensi jangka panjang.

Sebagai gambaran, bom yang menewaskan 146.000 orang di Hiroshima, Jepang pada Perang Dunia II adalah sebesar 15 kiloton. Sedangkan hulu ledak nuklir bisa mencapai lebih dari 1.000 kiloton.

Kecil kemungkinan bertahan hidup di area yang terdampak langsung ledakan nuklir.

Setelah kilatan yang menyilaukan, bola api besar, dan gelombang ledakan dapat menghancurkan bangunan hingga jarak beberapa kilometer.

Senjata Nuklir Rusia
(BBC News)

Apa yang dimaksud dengan ‘deterensi nuklir’ dan apakah itu berhasil?

Argumen yang digunakan dalam mempertahankan senjata nuklir berjumlah besar adalah untuk menjaga kapasitas menghancurkan musuh sepenuhnya serta mencegahnya untuk menyerang.

Istilah yang paling terkenal untuk strategi itu adalah mutually assured destruction (MAD) atau kepastian saling menghancurkan.

Meskipun ada banyak uji coba nuklir yang dilakukan, dengan kompleksitas teknis dan kekuatan destruktifnya yang meningkat konstan, senjata nuklir belum pernah digunakan dalam konfrontasi bersenjata sejak 1945.

Baca juga
132 Penumpang China Eastern Masih Belum Ditemukan, Pencarian Diperluas

Kebijakan Rusia mengakui senjata nuklirnya pun semata-mata sebagai strategi pencegahan dalam empat kondisi:

1. Peluncuran rudal balistik yang menyerang wilayah Rusia atau sekutunya,
2. Penggunaan senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah massal lainnya terhadap Rusia atau sekutunya,
3. Serangan terhadap situs pemerintah atau militer penting Rusia yang mengancam kemampuan nuklirnya,
4. Agresi terhadap Rusia menggunakan senjata konvensional, sehingga keberadaan negaranya dalam bahaya.

Lalu, seberapa mengkhawatirkan hal ini? Kemungkinan akan terjadi konflik nuklir mungkin akan sedikit meningkat, meski masih dalam tataran rendah.

Bahkan meskipun ancaman Putin bermaksud sebagai peringatan, dibanding menandakan keinginan untuk menggunakan senjata itu, selalu ada risiko salah perhitungan apabila salah satu pihak menafsirkanya secara keliru atau situasi menjadi tidak terkendali.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan kepada BBC News bahwa Inggris sejauh ini tidak melihat adanya perubahan postur dari senjata nuklir Rusia.

Sumber-sumber intelijen juga mengonfirmasi hal itu dan mengatakan akan mengawasinya dengan ketat.

Tinggalkan Komentar