Kamis, 19 Mei 2022
18 Syawal 1443

IPCC Klaim Rekonstituen Indeks Saham IDX Tak Pengaruhi Kinerja Fundamental Emiten

Rekonstituen Indeks Saham IDX - inilah.com
Foto: Humas IPCC

Pembaruan perhitungan maupun evaluasi dan penerapan Free Float terhadap sejumlah indeks di PT Bursa Efek Indonesia ditengarai berimbas pada rebalancing portofolio sejumlah investor. Bukan hanya investor institusi, tapi juga ritel. Seperti apa?

Perubahan tersebut berlaku bagi sejumlah indeks, seperti IDX BUMN20, IDX SMC Liquid, IDX SMC Composite, IDX High Dividend 20, IDX Value30, IDX Growth30, dan IDX Quality30. Hal ini berdasarkan Pengumuman Bursa Efek Indonesia No. Peng-00028/BEI.POP/01-2022 tertanggal 27 Januari 2022 yang menyebabkan adanya perubahan isi dari konstituen indeks tersebut.

Daftar dan jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks pada indeks-indeks tersebut akan efektif berlaku besok, Jumat (4/2/2022).

Pengaruhnya terhadap rebalancing portofolio sejumlah investor, baik investor institusi maupun ritel merupakan hal yang umum terjadi dan wajar ketika terjadi perubahan isi dari konsituen indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia,” Sekretaris Perusahaan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Sofyan Gumelar dalam keterangan tertulis kepada Inilah.com, Kamis (3/2/2022).

Pelaku pasar umumnya, kata dia, akan menyesuaikan porsi dan bobot saham dalam portofolionya sehingga dapat mirroring dengan indeks acuan yang digunakan terhadap portofolionya.

“Hal ini akan berimbas pada perubahan posisi dan porsi saham yang terdapat dalam portofolionya,” ucapnya.

Rekonstituen Indeks Saham IDX dan Saham IPCC

Saham PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) sebelumnya berada di salah satu indeks yang terkena evaluasi tersebut, yaitu indeks IDX SMC Composite. Adanya perubahan perhitungan free float tersebut membuat saham IPCC keluar dari konstituen IDX SMC Composite.

“Meski keluar dari perhitungan konstituen tersebut, hal ini tidak terpengaruh oleh kondisi fundamental perusahaan,” timpal dia.

Baca juga
Minyak Dunia Meroket, Menteri Erick Beri Sinyal Pertamax Naik 1 April

Manajemen menilai bahwa perubahan dalam suatu indeks umumnya berdasarkan sortlist yang ada sehingga bisa jadi ketika ada saham yang likuiditas maupun freefloat-nya meningkat selama periode pengamatan maka saham tersebut akan mengungguli saham lainnya.

Jika dibandingkan dengan pergerakan saham IPCC maka kemungkinan terdapat saham-saham lainnya yang likuiditas maupun free float-nya meningkat di atas likuiditas maupun free float-nya saham IPCC sepanjang periode pengamatan pada indeks IDX SMC Composite.

Adanya perubahan ini memungkinkan sejumlah pelaku pasar yang melakukan rebalancing dengan mengurangi porsi saham IPCC sehingga menyebabkan harga saham IPCC mengalami penurunan jelang akhir Januari 2022.

IPCC masih Masuk dalam Sejumlah Indeks

Meski saham IPCC keluar dalam konstituen indeks IDX SMC Composite namun, saham IPCC masih masuk dalam sejumlah indeks. Adapun indeks tersebut ialah Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan indeks IDX-MES BUMN 17. Selain itu, juga masih tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia.

Perseroan tetap berupaya untuk dapat menjaga kinerja fundamental dengan baik sehingga value perusahaan dapat terjaga. Melihat perkembangan kinerja sepanjang 2021, kinerja Perseroan tergolong membaik dari kinerja 2020 karena terimbas Pandemi Covid-19.

Baca juga
Bisnis Minerba Menggeliat, IPCC 'Panen Raya' untuk Kargo Alat Berat

Telah pulihnya kondisi makroekonomi seiring dengan kebijakan akomodatif dari Pemerintah, terutama pada industri otomotif memberikan dampak yang positif. Selain itu, meningkatnya sejumlah aktivitas di industri komoditas turut berimbas pada meningkatnya permintaan akan Alat-alat Berat.

Kondisi-kondisi ini pun turut berimbas positif pada kegiatan bongkar muat di Terminal IPCC. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah layanan kendaraan di Terminal Perseroan.

Sebagai contoh, jumlah bongkar muat CBU ekspor sepanjang 2021 naik 25,79% (YoY) menjadi 290.277 unit dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Lalu menyusul peningkatan jumlah impor CBU yang naik 41,47% (YoY) menjadi 47.011 unit dari tahun sebelumnya.

Kondisi yang sama juga terjadi pada Alat Berat yang naik 56,65% (YoY) menjadi 2.851 unit untuk ekspor. Sedangkan impor naik 145,79% (YoY) menjadi 6.747 unit di tahun 2021.

Proyeksi Kinerja IPCC yang Lebih Baik

Kinerja Laporan Keuangan full year perseroan untuk 2021 belum dapat rilis. Sebab, masih proses review oleh Manajemen dan Pihak Auditor. Namun, melihat kondisi sepanjang sembilan bulan di tahun 2021 (9M-21) yang mengalami turn around, perkiraan secara full year akan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional dan pengembangan bisnis, adanya penggabungan antar Pelindo turut berimbas positif pada potensi kinerja Perseroan. Sejumlah proses pengembangan oleh IPCC, di antaranya perluasan lahan di area eks-DKP di daerah Tanjung Priok berbatasan dengan lahan penumpukan seluas 1,89 ha.

Baca juga
INDEF: Jangan Senang Dulu, Komitmen Investasi UEA US$44,6 Miliar Bisa Meleset

Kemudian, kerjasama pengoperasian pelabuhan lain yang masih dalam Pelindo Group di luar Terminal yang telah beroperasi oleh IPCC (Terminal Tanjung Priok, Jakarta; Terminal Panjang, Lampung; Terminal Dwikora, Pontianak; dan MKO MTKI Gresik) antara lain, Terminal Belawan, Medan yang mulai kerjasama-operasional pada awal Januari tahun ini. Berikutnya, penjajakan dengan Terminal di Surabaya, Makasar, Balikpapan, dan lainnya yang dapat menjadi hub Terminal Kendaraan.

Berikutnya, pendekatan dengan sejumlah automaker untuk tidak hanya terlayani dari sisi layanan penumpukan namun, juga dapat layanan bongkar muat oleh IPCC. Lalu, juga pengembangan digitalisasi IT sehingga terkoneksi sistem antara IPCC melalui Autogate System hingga billing system dan payment gateway; sistem para pabrikan otomotif; hingga sistem di kepabeanan untuk keperluan administrasi pelaporan.

Peningkatan kegiatan operasional dan pengembangan bisnis IPCC menjadi harapan ekspektasi positif oleh pelaku pasar. Pelaku pasar dapat memanfaatkan adanya penurunan saham IPCC. Sebab, penurunan tersebut tidak sejalan dengan kondisi riil fundamental. Hal menarik untuk kembali masuk berinvestasi pada saham Perseroan.

Selain itu, juga ada harapan tidak banyak terpengaruh dengan adanya perubahan isi dari konstituen indeks di Bursa Efek Indonesia. Sebab, perubahan tersebut merupakan hal yang wajar terjadi.

Tinggalkan Komentar