Rabu, 13 Mei 2026 | 25 Dzulqa'dah 1447
inilah.comnewsinternasionalIran Ejek Trump soal Selat Hormuz: AS Kalah Memalukan!

Iran Ejek Trump soal Selat Hormuz: AS Kalah Memalukan!

Ikhsan Medium.jpeg
Rabu, 6 Mei 2026 - 20:21 WIB
Share
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Getty Images/Paul J. Richards)

Presiden AS Donald Trump. (Foto: Getty Images/Paul J. Richards)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung
KecilBesar

Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik rem darurat pada Project Freedom di Selat Hormuz menuai reaksi pedas dari Teheran. Media pemerintah Iran terang-terangan mengejek langkah tersebut sebagai bukti kegagalan militer Paman Sam di jalur pelayaran paling krusial di dunia itu.

Teheran menilai, klaim Trump soal 'kesepakatan bersama' untuk menghentikan pengawalan kapal komersial hanyalah dalih untuk menutupi ketidakberdayaan armada AS.

"Trump menghentikan misi tersebut setelah pasukan AS gagal mengamankan jalur pelayaran kapal tanpa izin Iran," tulis Press TV, media milik pemerintah Iran, sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (6/5/2026).

Kekalahan Memalukan bagi Washington

Nada lebih keras datang dari parlemen Iran. Mahmoud Nabavian, anggota parlemen garis keras, menyebut mundurnya AS dari operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz sebagai tamparan keras bagi wibawa Washington.

“Ini adalah kekalahan memalukan lainnya bagi rezim Amerika yang jahat melawan negara besar Iran,” tegas Nabavian dengan nada provokatif.

Di lain pihak, Trump melalui platform Truth Social mencoba meredam suasana. Ia mengeklaim adanya 'kemajuan besar' dalam upaya kesepakatan damai permanen dengan Iran. Alasan itulah yang menurut Trump mendasari penghentian inisiatif pengawalan kapal yang sebenarnya baru berjalan selama 48 jam tersebut.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Meskipun Trump menebar optimisme perdamaian, Menteri Perang AS Pete Hegseth tetap memasang wajah tegas. Ia mengakui gencatan senjata masih berlaku, namun dengan catatan merah: Iran dituding tetap melakukan provokasi.

Menurut Hegseth, Iran sempat menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz dan mengganggu negara-negara tetangga pada Senin (4/5/2026). Bos Pentagon ini menekankan bahwa penghentian Project Freedom berbeda dengan status gencatan senjata secara keseluruhan.

“Kami akan mengawasinya dengan sangat, sangat cermat. Kami memperkirakan akan ada beberapa gejolak di awal, dan itu memang terjadi. Kami akan membela diri secara agresif, dan Iran tahu itu,” ujar Hegseth.

Menahan Diri Bukan Berarti Lemah

Data mengejutkan diungkap oleh Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine. Sejak gencatan senjata dimulai, Iran tercatat telah sembilan kali menembaki kapal komersial, menyita dua kapal kontainer, dan menyerang pasukan AS lebih dari 10 kali.

Namun, Caine menyebut tindakan-tindakan tersebut masih berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali perang besar. Ia menegaskan, sikap diam AS saat ini adalah bentuk menahan diri yang terukur, bukan sebuah kelemahan.

"Pasukan AS sudah siap menggempur Iran dan hanya tinggal menunggu perintah. Tidak ada musuh yang boleh salah mengartikan sikap menahan diri kita sebagai kurangnya tekad," ucap Caine.

 

0 suka
0 bookmark
Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com