Rabu, 08 Februari 2023
17 Rajab 1444

Iran Klaim Gagalkan Skenario Sejenis “Arab Springs” Rekayasa AS

Senin, 07 Nov 2022 - 08:08 WIB
Penulis : DSY
127382879 Mediaitem127346528 - inilah.com
Para wanita Iran dalam demo anti-pemerintah beberapa waktu lalu.

Pekan ini, sementara pemerintah Iran memperingati didudukinya Gedung Kedutaan Besar AS di Teheran oleh para aktivis mahasiswa lebih dari 40 tahun lalu, Presiden AS, Joe Biden, menyerukan dukungan untuk para pengunjuk rasa saat ini. Biden mengatakan: “Kami akan membebaskan Iran. Mereka akan segera membebaskan diri mereka sendiri.”

Presiden Republik Islam Iran, Ebrahim Raisi, mengatakan saat ini kota-kota Iran berada dalam kondisi aman setelah apa yang disebutnya upaya Amerika Serikat untuk mengulangi pemberontakan Arab Springs 2011 di Iran gagal total. Hal tersebut dilaporkan media massa Iran di saat yang bersamaan dengan hari ke-50 gelombang protes.

Para pemimpin Iran selama ini telah berjuang keras menekan demonstrasi yang meletus seiring kematian gadis Kurdi yang melanggar undang-undang pakaian yang dikenakan perempuan, September lalu, Mahsa Amini. Kematian  Amini meletupkan berbagai demonstrasi di berbagai kota di negara itu.

Baca juga
Sambangi Palestina, Joe Biden Janjikan Bantuan Rp1,5 Triliun

Disebut-sebut, selain pengunjuk rasa rasa, selama ini telah tewas puluhan apparat keamanan, dalam salah satu gelombang kerusuhan paling serius yang melanda negara itu sejak terjadinya Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Iran, raja dari Dinasti Pahlavi yang menjadi boneka AS.

Pekan ini, sementara pemerintah Iran memperingati didudukinya Gedung Kedutaan Besar AS di Teheran oleh para aktivis mahasiswa lebih dari 40 tahun lalu, Presiden AS, Joe Biden, menyerukan dukungan untuk para pengunjuk rasa saat ini. Biden mengatakan: “Kami akan membebaskan Iran. Mereka akan segera membebaskan diri mereka sendiri.”

Dalam gelombang protes saat ini, para pelajar dan kaum perempuan telah memimpin banyak protes saat ini. Para perempuan itu terlihat membuang dan membakar kerudung mereka, mencopoti serban para pemimpin agama di jalanan, dalam beberapa rekaman video yang tidak terverifikasi.

Baca juga
Ternyata, Menkeu Sekelas Janet Yellen Pernah Salah Soal Inflasi

“Amerika dan musuh lainnya berusaha untuk mengacaukan Iran dengan menerapkan rencana yang sama seperti di Libya dan Suriah, tetapi mereka gagal,” kata Raisi seperti dikutip kantor berita Iran, IRNA.

Awal mula Arab Springs merujuk kepada upaya perlawanan rakyat Tunisia, setelah perlakuan buruk aparat negara kepada pemuda penjual sayur Tunisia, Muhammad Bouazizi, pada 17 Desember 2010. Bouazizi meninggal karena membakar diri sebagai protes atas perlakuan keji polisi, 4 Januari 2011. Kematiannya memicu gelombang protes terhadap presiden otoriter negara itu, Zine El Abidine Ben Ali. Diktator itu kemudian lari terbirit-birit dan mendapatkan suaka di Arab Saudi.

Baca juga
Biden Tunjuk Mantan Wali Kota New Orleans Awasi Proyek Senilai Rp14,2 Kuadriliun

Protes itu kemudian mengilhami gelombang pemberontakan di seluruh dunia Arab; menjungkalkan dictator Mesir, Hosni Mubarak, meletupkan perlawanan di Bahrain, mendongkel dan menewaskan pemimpin Libya, Muammar Gaddafi. Di Suriah, demonstrasi massal terhadap sekutu Iran, Presiden Bashar al-Assad, membuat perang saudara selama 11 tahun lebih, dengan ekor yang hingga kini masih berlangsung.

“Sebaliknya, kota-kota Iran sekarang aman dan sehat,”kata Raisi, seraya menjanjikan pembalasan atas kerusuhan yang telah terjadi di negara itu. [Reuters/AP]

Tinggalkan Komentar