Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Itha G Schneider, Korban KDRT yang Jadi Pengusaha Real Estate di New York

Kamis, 19 Jan 2023 - 20:51 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Itha G Schneider, Korban KDRT yang Jadi Pengusaha Real Estate di New York - inilah.com
Itha G Schneider, seorang wanita penyintas KDRT yang sukses bisnis properti di New York, Amerika Serikat. (Foto: Dok. Pribadi)

Ruang publik masih dihebohkan dengan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga alias KDRT yang dilakukan Ferry Irawan terhadap istrinya Venna Melinda. Bagi para perempuan, kejadian yang tak diharapkan itu bukanlah akhir dari segalanya.

Kisah Itha G Schneider seorang wanita yang juga mantan penyintas KDRT dapat menjadi renungan bersama. Pengalaman pahitnya itu justru menginspirasinya untuk menulis dan merilis buku berjudul ‘Itha’.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai penyintas KDRT hingga akhirnya sukses menjadi pengusaha properti di negeri orang. Melalui buku yang mengambil judul dari nama panggilannya, Itha menceritakan lika liku perjalanannya sebagai seorang istri yang kerap mendapatkan perlakukan kasar dari mantan suami.

“Mantan suami saya bersifat kasar dan manipulatif!” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (19/1/2023) malam.

Dalam buku ini, Itha juga menceritakan pergulatan batin sebagai seorang perempuan yang terpaksa bertahan dalam rumah tangga yang ‘toxic’. Itu ia lakukan demi anak sebelum akhirnya ia mampu mengambil keputusan untuk bercerai.

Baca juga
Nol Besar Proyek Food Estate, Menteri Pertanian Harus Tanggung Jawab

Itha pun meluncurkan bukunya itu di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Sabtu (14/1/2023). “Pergulatan batin saya, sempat berpikir apakah apa yang dilakukan suami itu karena salah saya, sempat gagal, try again, hampir give up, akhirnya rujuk demi anak. Namun, setelah rujuk perlakuan dia justru semakin kasar,” papar dia.

Beragam bentuk kekerasan pernah ia alami saat mengarungi bahtera rumah tangga bersama mantan suaminya. Di antara berbagai tindak kekerasan itu, antara lain, ditodong pisau hingga dipukul di bagian pelipis mata saat hamil anak kedua.

Tak hanya itu kekerasan ekonomi juga dialami Itha. Ini lantaran ia tak menerima nafkah dari suami dan harus berjuang sendiri dengan berjualan untuk menghidupi keluarga.

“Saya pernah dipukul di bagian pelipis mata saya, saat saya hamil anak kedua dan menggendong anak pertama saya,” ucapnya.

Ia juga pernah ditodong pisau dan diancam isi perutnya dikeluarkan. “Pernah tiba-tiba ada yang datang ke saya mengaku dihamilin suami saya. Datang ke saya nagih utang karena suami saya kalah main judi,” tuturnya.

Baca juga
Hadapi Digugat MSU, Korban Meikarta: Jangan Maling Teriak Maling

Untuk lebih tahu siapakah Itha, ia menceritakan semua kisahnya melalui buku yang ia rilis. Tak hanya mengisahkan penderitaan yang dialami, wanita yang kini menetap di New York itu juga menceritakan tentang bagaimana dirinya berjuang untuk bangkit dari trauma KDRT.

Itha juga coba bangkit dari stigma negatif atas statusnya yang janda usai bercerai hingga memantapkan diri untuk hijrah ke negeri Paman Sam.

Ketika Itha megambil keputusan pindah ke New York pada tahun 1997, karirnya dimulai dari nol. Itha pernah bekerja sebagai pegawai Dunkin Donuts, dan karyawan di sebuah perusahaan perhiasan.

Dengan segenap kerja kerasnya itu, kini Itha meniti karir di bisnis properti sebagai seorang pengusaha real estate di Amerika Serikat. Namun ia enggan berkisah lebih jauh soal bisnisnya itu. “Itu sudah saya kisahkan semuanya di buku saya,” timpal Itha.

Tak hanya itu, bukunya juga mengisahkan romantika Itha yang berhasil melawan trauma masa lalu. Upaya dan jerih payahnya itu tak sia-sia. Kisahnya justru mengantarkannya bertemu dengan tambatan hatinya Fred Schneider. Keduanya resmi menikah pada tahun 2001.

Baca juga
Untuk Pertama Kalinya, AS Eksekusi Mati Seorang Transgender

Itha berharap melalui buku yang ia tulis, kisahnya bisa menjadi inspirasi dan kekuatan bagi korban KDRT di manapun berada. Itha berharap semua korban KDRT khususnya kaum perempuan bisa berani bersuara dan meraih mimpi.

“Buku ini ditulis untuk wanita-wanita korban KDRT yang diam, wanita-wanita yang tak berani speak up! Kalian harus berani ambil keputusan. Jangan takut bersuara!” tegas Itha mewanti-wanti kaum hawa.

Tinggalkan Komentar