https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   17 September 2021 - 13:39 wib

Mitos Sial tentang Bulan Safar dan Bantahan Rasulullah SAW

IXU
berita-headline

(ist)

Sebagaimana bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriyah, bulan Safar adalah waktu yang merupakan ciptaan dan kehendak Allah SWT. Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Islam setelah bulan Muharram. Namun, ketika berbicara tentang Safar, tidak sedikit masyarakat yang masih memiliki pemikiran bahwa terdapat kesialan pada Safar. Apa alasan di belakangnya?.

Hal ini sebagaimana dimaktub dalam buku karangan H A Zahri berjudul “Pokok-Pokok Akidah yang Benar”, kepercayaan bahwa Safar mendatangkan kesialan dapat disebut juga sebagai jenis khurafat atau mitos.

Yakni secara bahasa artinya cerita bohong dan secara istilah khurafat berarti cerita rekaan atau khayalan. Kepercayaan tersebut bahkan dibantah langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi:

لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر

“Tidak ada kesialan karena ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat).” (HR Bukhari)

Di balik penamaan bulan Safar tidak lepas dari keadaan orang Arab tempo dulu pada bulan ini. Safar yang memiliki arti “sepi” atau “sunyi” sesuai keadaan masyarakat Arab yang selalu sepi pada bulan Safar. Sepi dalam arti senyapnya rumah-rumah mereka karena orang-orang keluar meninggalkan rumah untuk perang dan bepergian.

Dampaknya, mereka meyakini untuk tidak boleh menggelar acara penting seperti pernikahan pada masa Safar. Padahal, sejatinya anggapan keliru ini berangkat dari pemikiran dan kebiasaan orang Arab Jahiliyah dahulu kala.  

Kebiasaan Jahiliyah

Ahli tafsir Alquran dan hadis sekaligus dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, KH Sahiron Syamsuddin, mengatakan kata Safar itu berarti 'kosong'. Hal itu didasarkan pada kebiasaan bangsa Arab Jahiliyah di masa lampau yang kerap berperang atau berdagang pada Safar. Sehingga, kediaman atau rumah di wilayah-wilayah Arab menjadi kosong penduduk.  

Karena mereka berperang pada bulan itu, kata Kiai Sahiron, sebagian dari mereka mengalami luka atau terbunuh. Sehingga, mereka meyakini Safar sebagai bulan sial. 

Namun ketika Islam datang, Kiai Sahiron mengungkapkan bahwa Islam mengajarkan bahwa tidak ada bulan yang sial, termasuk pada Safar.

Kiai Sahiron menjelaskan, saat Islam datang, Rasulullah SAW melarang anggapan-anggapan yang tidak sesuai dengan syariat, termasuk menganggap sial bulan Safar. Menganggap sial bulan Safar dikatakan termasuk salah satu jenis tathayyur yang terlarang lantaran termasuk kebiasaan jahiliyyah.

Hal ini sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad SAW dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Musim dari sahabat Abu Hurairah ra, "Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Safar" (HR al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad II/327). 

Rasulullah SAW membantah kepercayaan atau mitos tentang bulan Safar. Sebuah hadis yang menegaskan larangan itu ialah seperti diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang para burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar."

Pada hadis lainnya disebutkan, Rasulullah SAW juga bersabda, "Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa" (HR Bukhari).

Menurut Kiai Sahiron, hadis tersebut mengajarkan tentang ketauhidan, bahwa Sang Penentu taqdir hanyalah Allah dan bukan penyakit, bukan burung dan bukan pula bulan.

"Meskipun demikian, manusia wajib berusaha untuk mendapatkan nasib baik atau terhindar dari nasib buruk. Karena itu, Nabi mengatakan, 'Larilah dari penyakit kusta'," jelasnya.

Menanggapi berbagai mitos tentang Safar, Kiai Sahiron mengingatkan kaum Muslim sebaiknya bersikap biasa saja dan tetap meyakini bahwa segala kejadian di bulan Safar atau bulan yang lainnya merupakan taqdir Allah. 

Seperti halnya bulan-bulan lainnya dalam kalender Islam atau Qomariyah, umat Islam menurut dia, seyogianya melakukan amalan-amalan yang baik.

"Amalan atau doa pada bulan Safar yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan ketauhidan boleh saja dilakukan, karena itu termasuk usaha manusia untuk terhindar dari musibah," tambahnya.

Bukti Bulan Safar Bukan Bulan Kesialan

Terlepas dari mitos tentang bulan Safar, di bulan ini ada sejumlah peristiwa penting terjadi di masa Rasulullah SAW. Di bulan Safar, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, yang merupakan istri pertamanya. 

Di bulan ini pula Rasulullah setelah kembalinya dari mengerjakan haji wada (haji terakhir) mengalami sakit keras. Hingga akhirnya Nabi SAW wafat pada 12 Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriyah. Bulan Safar juga merupakan bulan di mana banyak peperangan penting terjadi dalam sejarah Islam. 

Habib Abu Bakar Al-Adni dalam salah satu mengatakan, ada beberapa bukti peristiwa yang menolak keyakinan masyarakat Jahiliah atas keyakinannya yang menganggap bahwa bulan safar merupakan bulan kesialan. 

(1) Rasulullah saw melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah pada bulan Safar;

(2) Pernikahan antara Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az-Zahra juga di bulan Safar;

(3) Hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah bertepatan dengan bulan Safar;

(4) perang pertama, yaitu perang Abwa terjadi pada bulan Safar, di mana umat Islam jusrtu mendapatkan kemenangan telak atas kaum kafir;

(5) pada bulan Safar juga terjadi peperangan hebat yaitu perang Khaibar, dan kemenangan diraih oleh umat Islam. (Abu Bakar al-Adni, Mandzûmatu Syarhil Atsar fî Mâ warada ‘an Syahri Shafar, halaman 9).



Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Kuburan Pejuang Muslim di Lingkungan Masjid Al Aqsa Dibongkar dan Dihancurkan Israel

Israel pada Minggu (10/10) dilaporkan telah membongkar dan menghancurkan kuburan Muslim di dekat
berita-headline

Inersia

Mengenal Ki Ageng Gribig, Penasihat Sultan Agung, Pejuang Islam di Tanah Jawa, dan Tradisi Saparan

Ki Ageng Gribig sebagai seorang tokoh agama yang tak kenal lelah d
berita-headline

Inersia

Produk Fesyen Muslim Lokal Laris Manis di Tokopedia

Produk fesyen muslim buatan pegiat usaha lokal disambut antusiasme tinggi oleh masyarakat. Hal it
berita-headline

Inersia

Amalan Sunnah dan Adab Menyambut Hari Jumat

Ada sejumlah amalan sunnah dan adab bagi umat Muslim dalam menyambut hari Jumat. Berikut di antar
berita-headline

Viral

Aliran Ini Percayai Naik Haji ke Gunung Kerinci

Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat saat ini sedang memantau adanya aliran yang mem