https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   12 August 2021 - 08:26 wib

Nikah Mau Tapi Tak Mau Punya Anak, Boleh?

Pertanyaan: Apakah menikah tapi tidak mau punya anak, salah? apakah Islam memperbolehkan childfree dalam pernikahan? Lalu untuk apa menikah kalau tak ada motif punya anak?

Terimakasih: Annisa, 26 Tahun.

Jawaban:
Mempunyai anak dalam sebuah keluarga adalah sebuah anugerah. Banyak orangtua yang mengidam-idamkan punya keturunan. Kalau belum punya anak padahal usia pernikahannya sudah lama, dianggap sebuah kegagalan. Ada juga yang mengganggap anak adalah kepercayaan Tuhan kepada orangtua untuk merawat dan membesarkan.

Dikutip akun Twitter @GUSDURians, dijelaskan bahwa misi utama pernikahan dalam Islam adalah kemaslahatan. Maslahat untuk siapa? Kemaslahatan dalam Islam meliputi individu, pasutri, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia.

"Ada lima pilar pernikahan untuk mewujudkan kemaslahatan," cuit @GUSDURians.

Pertama, Mitsaqan Ghalidlan, keyakinan bahwa perkawinan adalah janji yang kokoh sehingga tidak mempermainkannya. Hal ini terkait dengan nikah sebagai komitmen pasutri dengan Allah sehingga setiap keputusan dalam pernikahan mesti bisa dipertanggungjawabkan pada Allah, termasuk mau punya anak atau tidak.

Kedua, Zawaaj, keyakinan bahwa suami dan istri dalam perkawinan adalah berpasangan sehingga saling melengkapi dan bisa bekerja sama untuk kemaslahatan.

Ketiga, Mu’asyarah bil Ma’ruf, suami dan istri saling memperlakukan pasangannya secara bermartabat. Keempat, Musyawarah, suami dan istri menjadikan musyawarah sebagai cara mengambil keputusan keluarga. Termasuk dalam memutuskan akan memiliki anak atau tidak.

Kelima, Taradlin, suami dan istri saling menjaga kerelaan pasangannya dalam setiap tindakan. Termasuk jika salah satu ingin memiliki anak/tidak. Keputusan yang diambil harus diridhai.

Jadi pilar-pilar inilah yang penting untuk diperhatikan. Lalu bagaimana dengan childfree? Keputusan memiliki anak adalah salah satu cara untuk mewujudkan kemaslahatan bagi sebagian orang, tapi bisa jadi tidak memiliki anak juga adalah cara yang maslahah.

Misal, ada pasangan yang memilih tidak memiliki anak biologis karena melihat dunia sudah overpopulasi. Pasangan tersebut kemudian memilih untuk merawat anak-anak yang terlantar.

Jika itu dianggap sebagai kemaslahatan bagi pasangan tersebut, why not? Namun jika bagi sebuah pasangan memiliki anak biologis adalah kemaslahatan bagi mereka, hal ini juga bagus. Yang penting itu adalah keputusan bersama.

Bukan karena salah satu pasangan memiliki keinginan A, kemudian ia memaksa pasangannya mengikuti tanpa dimusyawarahkan. Tanpa menjaga kerelaan pasangannya. Hal itu tentu bertentangan dengan pilar pernikahan dalam Islam.

Jadi, boleh childfree gak nih? Jawabannya: tergantung. Karena prinsip dasar hukumnya tergantung illat (sebab). Yang jelas, memutuskan punya anak mesti memastikan anak tidak menjadi generasi lemah.

Yang memutuskan tidak punya anak mesti memastikan juga bahwa pilihan itu membuat pasutri lebih banyak bisa mewujudkan kemaslahatan dalam bentuk lainnya.

Pertanyaan:
Gus, bukannya syarat menikah itu salah satunya aqil baligh, yang artinya punya tujuan reproduksi? Kalau menikah tak berurusan dengan punya anak, tidak usah menunggu Aqil baligh dong?

Sek sek...

Jawaban:
Benar, Islam menyaratkan dua hal tersebut. Artinya, berakal saja tidak cukup kalau secara usia belum baligh. Juga sebaliknya. Usia yang cukup harus disertai dengan intelektualitas yang memadai.

Btw aqil baligh itu tidak hanya siap secara biologis tapi juga mental sehingga mampu memutuskan tindakan yang maslahat bagi diri sekaligus pasangannya.

Karena pernikahan itu bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga spiritual dan pertimbangan lainnya. Toh, di dalam Islam, hukum pernikahan itu beragam.

Hukum asal menikah adalah diperbolehkan (mubah). Namun hukumnya bisa berganti jika bertemu dengan kondisi-kondisi khusus.

Misalnya, bagi orang yang tidak mampu menahan hawa nafsunya, maka menikah menjadi wajib.

Namun pernikahan bisa saja menjadi haram. Misal jika ada orang menikah dengan tujuan untuk menyakiti pasangan.

Atau bagi orang yang tidak punya kemampuan lahir-batin, maka pernikahan juga haram baginya.

Pernikahan juga menjadi sunnah bagi orang yang sudah cakap lahir batin. Catat: sunnah. Jika dikerjakan mendapat pahala, jika tidak ya tidak apa-apa. Gitu aja kok repot.

Sekali lagi, tujuan punya anak atau tidak adalah cara untuk mencapai maslahah. Setiap pasangan punya kondisinya masing-masing. Yang penting, ingat kelima pilar di atas ya gaes.

Tidak ada satu pun dalil di Islam yang mengaharamkan childfree.

Wong mau nikah atau tidak aja woles kok. Banyak ulama terkemuka yang memilih tidak menikah. Contohnya? Mufassir Ibnu Taimiyah, At-Thabari, atau sang penemu aljabar Al-Khawarizmi.

Kata Nabi: Islam itu mudah. Jangan dipersulit. Yang paling penting adalah menjadi insan yang maslahah untuk semua. Khairunnas anfa'uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi lainnya.

Khairunnas anfa'uhum linnas merupakan manusia yang ideal. Mereka yang menjadi versi diri yang terbaik sehingga mampu menebar manfaat seluasnya. Begitu pun pasutri ideal. Memutuskan punya maupun tidak punya anak semua tergantung manfaat.

Wallahua'lam. Sekian...


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Rp24 Miliar Disiapkan untuk Anak Yatim karena Covid-19

Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp24 miliar untuk anak-anak
berita-headline

Inersia

Tumbuhkan Rasa Ingin Menabung pada Anak Sejak Dini

Lima anak, generasi bangsa semangat memberikan pengalamannya dalam bentuk bacaan yang dituangkan
berita-headline

Viral

Kata IDAI jika Ada Kasus Covid-19 di Sekolah Usai Tatap Muka

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyampaikan pandangannya terkait adanya pembukaan sekolah tatap muk
berita-headline

Viral

Hasil Riset: Imunisasi Anak Rendah Selama Pandemi

Hasil penelitian cepat yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan UNICEF pada April 2020 menunjukka
berita-headline

Viral

Kasus 'Tiga Anak Saya Diperkosa' Ada Titik Terang, Polisi Temukan Fakta Baru

Polri mengungkap sejumlah fakta baru terkait kasus dugaan pemerkosaan tiga orang anak di Kabupate