https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   22 September 2021 - 11:06 wib

Serius Mau Cerai? Simak Dulu Syarat dan Ketentuannya

IXU
berita-headline

Serius Mau Cerai? Simak Dulu Syarat dan Ketentuannya

Sebuah hubungan rumah tangga diimpikan setiap orang untuk berjalan dengan baik dan tanpa halangan apapun. Namun dalam kenyataannya, pertengkaran dan perselisihan antara pasangan suami-istri menjadi bumbu tersendiri.

Masalah dalam hubungan keluarga ini jika bisa diselesikan dengan baik akan membawa kedekatan bagi masing-masing, namun sebaliknya, jika tidak diselesaikan akan membawa perpecahan yang berujung pisah.

Perceraian dalam beberapa kasus tidak hanya diajukan oleh pihak suami, namun bisa juga dari sisi istri. Secara hukum negara, dua-duanya sah dan diizinkan, sementara dalam Islam ada rambu-rambu yang harus diperhatikan apalagi jika diajukan oleh istri.

Mempelajari syarat perceraian menjadi salah satu langkah penting bagi pasangan suami-istri yang sudah yakin ingin berpisah. Pasalnya, seperti saat menikah, pasangan yang akan bercerai harus mengikuti prosedur yang sudah diatur dalam undang-undang, yakni UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

"Hal yang paling utama diketahui masyarakat mengenai perceraian adalah alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian, karena acap kali pengajuan baik permohonan cerai talak ataupun gugatan cerai yang diajukan ke Pengadilan Agama maupun gugatan cerai yang diajukan ke Pengadilan Negeri didasari dengan alasan-alasan diluar dari alasan yang ditentukan oleh Peraturan Perundang-undangan, seperti contoh kurang memberikan uang bulanan, cuek, tidak perhatian ataupun alasan-alasan lain diluar alasan yang ditentukan Peraturan Perundang-Undangan (mengingat permasalahan yang terjadi di setiap orang berbeda-beda)," Kata  Gorby Abdullah dari INFINITI & CO saat berbincang dengan Inilah.com.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 telah memberikan alasan-alasan sebagai dasar perceraian, dimana alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
2.    Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemauannya;
3.    Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
4.    Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain;
5.    Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai  suami/isteri; dan
6.    Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah-tangga.

Jika salah satu syarat di atas terpenuhi, apakah sudah pasti cerai?


"Tergantung pertimbangan Majelis Hakim, pertimbangan majelis hakim pada pokoknya melihat alasan perceraian yang diajukan. Dalam setiap perkara perceraian, baik di Pengadilan Negeri ataupun di Pengadilan Agama, sesuai Peraturan Mahkamah Agung, diwajibkan untuk melaksanakan mediasi, dimana mediasi ini merupakan upaya perdamaian untuk suami dan istri," ungkapnya.

Yak, masih ada proses mediasi yang harus dilewati pasangan suami-istri yang ingin cerai. Mediator itu sebenarnya pilihan para pihak, disetiap pengadilan, ada disediakan Mediator, yaitu hakim pengadilan yang bisa ditunjuk sebagai mediator. Pengadilan juga ada menyediakan nama-nama mediator non-Hakim. kalau para pihak ingin menunjuk mediator diluar dari itu juga diperbolehkan.

Lalu bagaimana jika sudah niat bercerai, tapi setelah dimediasi, akhirnya rujuk dan tak jadi cerai atau sidang cerai tak dilanjutkan?


"Gak (dilanjut), nanti hasil mediasinya akan dilaporkan ke Majelis Hakim. hasil laporan mediasi tersebut juga akan dikondirmasi ulang di persidangan. Jika mencapai kesepakatan damai di mediasi, Majelis Hakim memberhentikan perkara dan mengeluarkan penetapan," ungkap pengacara muda asal Pekanbaru, Riau ini.

Jika keputusan akhirnya cerai, bagaimana nanti pembagian harta sampai hak asuh anak? Pengacara yang banyak berkutat dalam kasus perusahaan ini menyebut urusan harta dan hak asuh anak beda lagi kasusnya.

"Kalau pembagian harta gono gini, sepanjang tidak ada perjanjian pisah harta bisa. Jadi kalau pembagian harta bersama ini di Pengadilan Negeri diajukan setelah perceraian (perkara sebagai akibat dari diputusnya perceraian). Kalau hak asuh anak, bisa diajukan bersamaan dengan gugatan cerai," tandasnya.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan